Murottal Lengkap Surat Sad Misyari Rasyid Al-Afasi
Dengarkan lantunan merdu seluruh ayat Surat Sad secara berkesinambungan.
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
38:1
صۤ ۗوَالْقُرْاٰنِ ذِى الذِّكْرِۗ
Ṣād, wal-qur'āni żiż-żikr(i).
"Ṣād. demi Al-Qur’an yang mengandung peringatan."
Makna & Renungan Singkat
Pada ayat terakhir Surah as-Sàffàt Allah menjelaskan perjuangan Rasulullah dan sahabat dalam menegakkan ajaran tauhid. Meski mendapat tantangan besar, tetapi dengan kesabaran dan kegigihan mereka akhirnya memperoleh kemenangan. Tema itu dilanjutkan dengan pembicaraan pada awal surah ini yang menegaskan bahwa upaya orang kafir menghalangi tersebarnya ajaran tauhid pasti berakhir dengan kehancuran. Allah memulai surah ini dengan fawatih as-suwar "Sad" untuk menarik perhatian lawan bicara supaya memperhatikan dengan seksama pesan-pesan yang akan disampaikan. Demi Al-Qur'an yang mengandung peringatan, memiliki kedudukan yang mulia, dan mengandung hukum-hukum yang sempurna.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"Akan tetapi, orang-orang yang kufur (berada) dalam kesombongan dan permusuhan."
Makna & Renungan Singkat
Sekalipun mengetahui kedudukan Al-Qur’an, tetapi orang-orang yang kafir tetap dalam kesombongan mereka dengan mengingkari wahyu dan menampakkan permusuhan terhadap Rasulullah dan ajaran yang disampaikannya. Mereka berbuat demikian salah satunya karena mereka menialai ajaran Nabi mengancam eksistensi agama nenek moyang mereka dan patung sesembahan mereka.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Kam ahlaknā min qablihim min qarnin fanādaw wa lāta ḥīna manāṣ(in).
"Betapa banyak generasi sebelum mereka yang telah Kami binasakan. Lalu, mereka meminta tolong (ketika datang azab), padahal (waktu itu) bukanlah saat untuk melepaskan diri."
Makna & Renungan Singkat
Kami telah mengingatkan melalui Nabi Muhammad betapa banyak umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan akibat kesombongan dan keingkaran terhadap utusan Allah, lalu mereka meminta tolong pada saat azab itu datang, padahal waktu itu bukanlah saat yang tepat untuk meminta pertolongan dan mereka tidak bisa lari melepaskan diri dari siksa itu (Lihat pula: Surah Gàfir/40: 84).
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Wa ‘ajibū an jā'ahum munżirum minhum, wa qālal-kāfirūna hāżā sāḥirun każżāb(un).
"Mereka heran karena telah datang kepada mereka seorang pemberi peringatan (rasul) dari kalangan mereka. Orang-orang kafir berkata, “Orang ini adalah penyihir yang banyak berdusta."
Makna & Renungan Singkat
Kami utus Nabi Muhammad kepada penduduk Mekah dan mereka yang ingkar merasa heran karena mereka kedatangan seorang rasul pemberi peringatan yang tidak lain berasal dari kalangan mereka sendiri; dan karena keingkaran yang begitu dalam kepada Rasulullah, orang-orang kafir berkata, “Orang ini adalah penyihir yang banyak berdusta.” Mereka berkata demikian karena apa yang disampaikan oleh Nabi tidak sesuai dengan apa yang mereka inginkan.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"Apakah dia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar sesuatu yang sangat mengherankan.”"
Makna & Renungan Singkat
Ketika Nabi mengajak mereka menyembah dan mengesakan Allah, mereka menjawab dengan penuh keingkaran, “Apakah dia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan yang satu saja? Sungguh, ini benar-benar sesuatu yang sangat mengherankan. Kami, kabilah-kabilah Arab, mempunyai tuhan masing-masing.”
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"Lalu, pergilah pemimpin-pemimpin mereka (seraya berkata), “Pergilah kamu dan tetaplah (menyembah) tuhan-tuhanmu. Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang dikehendaki."
Makna & Renungan Singkat
Mendengar ajakan Nabi untuk beratuhid, lalu pergilah pemimpin-pemimpin mereka menghampiri kaum masing-masing seraya berkata, “Pergilah kamu dan tetaplah menyembah tuhan-tuhanmu sendiri. Sesungguhnya ajakan bertauhid ini benar-benar hanyalah suatu hal yang dikehendaki oleh Muhammad terhadap kita agar dia bisa menjadi pemimpin.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Mā sami‘nā bihāżā fil-millatil-ākhirah(ti), in hāżā illakhtilāq(un).
"Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam agama yang terakhir. (Ajaran mengesakan Allah) ini tidak lain kecuali (dusta) yang dibuat-buat."
Makna & Renungan Singkat
Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam agama yang terakhir, yaitu Nasrani, yang meyakini ajaran trinitas. Ajaran tauhid ini tidak lain hanyalah kedustaan yang diada-adakan oleh Muhammad.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
A'unzila ‘alaihiż-żikru mim baininā, bal hum fī syakkim min żikrī, bal lammā yażūqū ‘ażāb(i).
"Mengapa Al-Qur’an itu diturunkan kepada dia di antara kita?” Sebenarnya mereka dalam keraguan terhadap kitab-Ku. Akan tetapi, mereka (ragu karena) belum merasakan azab-Ku."
Makna & Renungan Singkat
Mengapa Al-Qur’an itu diturunkan kepada Muhammad padahal dia berasal dari kalangan jelata, bukan kepada orang terpandang di antara kita?” (Lihat pula: Surah az-Zukhruf/43: 31). Allah menegaskan, “Sebenarnya mereka ragu-ragu terhadap Al-Qur’an yang turun dari sisi-Ku karena kedengkian hati mereka, tetapi mereka belum merasakan azab-Ku atas keingkaran mereka. Kelak mereka pasti akan merasakannya."
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Am ‘indahum khazā'inu raḥmati rabbikal-‘azīzil-wahhāb(i).
"Atau, apakah mereka itu mempunyai perbendaharaan rahmat Tuhanmu Yang Maha Perkasa lagi Maha Pemberi?"
Makna & Renungan Singkat
"Atau apakah mereka yang kafir itu ingkar karena mempunyai perbendaharaan rahmat Tuhanmu Yang Mahaperkasa lagi Maha Pemberi sehingga merasa punya kekuatan untuk ikut menentukan kehendak Allah?" (Lihat pula: Surah al-An‘àm/6: 124).
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Am lahum mulkus-samāwāti wal-arḍi wa mā bainahumā, falyartaqū fil-asbāb(i).
"Atau, apakah mereka mempunyai kerajaan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya? (Jika ada,) biarlah mereka menaiki tangga-tangga (ke langit)."
Makna & Renungan Singkat
"Atau apakah mereka mendustakan Nabi Muhammad karena merasa mempunyai kerajaan dan kekuasaan di langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya? Jika tidak, semestinya mereka tidak mencampuri urusan Allah dalam menentukan seseorang menjadi rasul karena Dialah yang memiliki wewenang mutlak untuk itu. Jika tetap ingkar maka biarlah mereka menaiki tangga-tangga menuju langit guna menghalangi turunnya wahyu Kami kepada Rasulullah."
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"Bala tentara yang berada di sana dari golongan yang bersekutu (untuk mengalahkan Rasul Kami) tentu akan dikalahkan."
Makna & Renungan Singkat
Mereka yang ingkar itu laksana kelompok besar bala tentara yang berada di suatu tempat sana yang akan dikalahkan oleh kelompok kecil yang memiliki keyakinan kuat dan keteguhan iman. Mereka kalah karena perjuangan mereka tidak didasari keyakinan yang kukuh, melain-kan rasa iri dan kesombongan.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Każżabat qablahum qaumu nūḥiw wa ‘āduw wa fir‘aunu żul-autād(i).
"Sebelum mereka itu, kaum Nuh, ‘Ad, dan Fir‘aun yang mempunyai kekuatan besar (juga) telah mendustakan (para rasul)."
Makna & Renungan Singkat
Kebenaran pasti akan menang melawan kebatilan, dan hal itu terbukti dengan hancurnya para penentang nabi-nabi terdahulu. Bila kaum musyrik Mekah mendustakan Nabi Muhammad maka sebelum mereka itu kaum Nabi Nuh, ‘Ad, dan Fir’aun yang mempunyai bala tentara yang banyak juga telah mendustakan rasul-rasul Allah. Musuh Nabi Nuh dihancurkan dengan banjir besar, kaum ‘Ad dengan angin kencang, dan Fir’aun ditenggelamkan di laut Merah.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Wa ṡamūdu wa qaumu lūṭiw wa aṣḥābul-aikah(ti), ulā'ikal-aḥzāb(u).
"(Begitu juga) Samud, kaum Lut, dan penduduk Aikah. Mereka itulah golongan yang bersekutu (menentang para rasul)."
Makna & Renungan Singkat
Dan seperti halnya kaum Nabi Nuh, ‘Ad, dan Fir’aun, kaum Samud, kaum Nabi Lut, dan penduduk Aikah, yakni kaum Nabi Syuaib, pun mendustakan para rasul mereka. Kaum Samud dihancurkan dengan suara menggelegar, kaum Nabi Lut dengan hujan batu, dan penduduk Aikah dengan kilat yang menyambar. Mereka itulah golongan-golongan yang bersekutu dalam menyembah berhala dan berbuat kejahatan.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Wa mā yanẓuru hā'ulā'i illā ṣaiḥataw wāḥidatam mā lahā min fawāq(in).
"Mereka tidak menunggu selain satu teriakan (saja) yang tidak ada selanya."
Makna & Renungan Singkat
Dan apabila kaum musyrik Mekah dan umat-umat durhaka terdahulu itu tetap dalam keingkaran mereka, maka sebenarnya yang mereka tunggu adalah satu teriakan saja yang tidak ada selanya. Itulah teriakan sebagai tanda datangnya hari Kiamat—teriakan yang sangat keras dan cepat.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Wa qālū rabbanā ‘ajjil lanā qiṭṭanā qabla yaumil-ḥisāb(i).
"Mereka berkata, “Wahai Tuhan kami, segerakanlah untuk kami bagian (dari siksa) kami sebelum hari Perhitungan.”"
Makna & Renungan Singkat
Dan mereka dengan nada sinis dan penuh keingkaran berkata, “Ya Tuhan kami, segerakanlah azab yang diperuntukkan bagi kami sebelum hari perhitungan.” Dengan ucapan ini mereka bermaksud memperolok Nabi yang menyampaikan bahwa ancaman yang Allah tujukan kepada mereka adalah azab di hari Kiamat (Lihat pula: Surah al-Anfàl/8: 32)
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"Bersabarlah atas apa yang mereka katakan dan ingatlah akan hamba Kami, Daud, yang mempunyai kekuatan. Sesungguhnya dia adalah orang yang selalu kembali (kepada Allah)."
Makna & Renungan Singkat
Allah meminta Nabi bersabar dalam menghadapi keingkaran orang-orang musyrik, sebagaimana nabi-nabi terdahulu juga menghadapi rintangan yang sama. Bersabarlah wahai Nabi Muhammad atas apa yang mereka katakan dan tuduhkan kepadamu bahwa kamu adalah pendusta dan penyihir. Dan ingatlah akan kisah seorang hamba sebelum kamu yang Kami utus, yaitu Nabi Dawud, yang mempunyai kekuatan dalam memahami dan menjalankan ajaran agama. Sungguh dia sangat taat dan selalu mengembalikan urusannya kepada Allah. Bila merasa bersalah, ia pun segera minta ampun kepada Allah.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"Sesungguhnya Kami telah menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersama dia (Daud) pada waktu petang dan pagi."
Makna & Renungan Singkat
Karena ketaatan Nabi Dawud, sungguh Kami telah menganugerahinya beberapa kenikmatan. Kamilah yang menundukkan gunung-gunung yang kukuh untuk senantiasa bertasbih dan beribadah bersama dia pada waktu petang dan pagi.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"(Kami menundukkan pula) burung-burung dalam keadaan berkumpul. Masing-masing sangat patuh kepadanya (Daud)."
Makna & Renungan Singkat
Kami tundukkan pula baginya burung-burung untuk bertasbih bersamanya dalam keadaan terkumpul maupun terbang. Burung-burung itu ikut bertasbih begitu mendengar suara Nabi Dawud yang merdu bertasbih dan melantunkan kitab Zabur. Masing-masing dari gunung-gunung dan burung-burung itu sangat taat kepada Allah.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Wa syadadnā mulkahū wa ātaināhul-ḥikmata wa faṣlal-khiṭāb(i).
"Kami menguatkan kerajaannya serta menganugerahkan hikmah (kenabian) kepadanya dan kemampuan dalam menyelesaikan perkara."
Makna & Renungan Singkat
Dan Kami kuatkan kerajaannya dengan kewibawaan, tentara yang banyak, kekayaan yang berlimpah, dan kepiawaiannya mengatur strategi perang. Dan Kami berikan hikmah kepadanya berupa kenabian, kesempurnaan ilmu, dan ketelitian dalam berbuat serta pemahaman yang tepat (Lihat pula: Surah Saba’/34: 10–11), dan kebijaksanaan dalam memutuskan perkara dengan menunjukkan bukti-bukti yang akurat.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Wa hal atāka naba'ul-khaṣm(i), iż tasawwarul-miḥrāb(a).
"Apakah telah sampai kepadamu (Nabi Muhammad) berita orang-orang yang berselisih ketika mereka memanjat dinding mihrab?"
Makna & Renungan Singkat
Dan apakah telah sampai kepadamu, wahai Nabi Muhammad, suatu berita tentang orang-orang yang berselisih saat Nabi Dawud sedang berada di tempat peribadatan, ketika mereka datang dengan cara memanjat dinding mihrab?
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"Ketika mereka masuk menemui Daud, dia terkejut karena (kedatangan) mereka. Mereka berkata, “Janganlah takut! (Kami) berdua sedang berselisih. Sebagian kami berbuat aniaya kepada yang lain. Maka, berilah keputusan di antara kami dengan hak, janganlah menyimpang dari kebenaran, dan tunjukilah kami ke jalan yang lurus.”"
Makna & Renungan Singkat
Ketika itu, mereka masuk untuk menemui Nabi Dawud lalu dia terkejut karena kedatangan mereka yang tak terduga itu dan mengira mereka hendak berbuat tidak baik kepadanya. Mereka berkata untuk menenangkan hatinya, “Janganlah takut! Wahai Nabi Dawud, kami berdua sedang berselisih tentang suatu perkara; sebagian dari kami berbuat zalim kepada yang lain, maka berilah keputusan di antara kami secara adil dan janganlah menyimpang dari kebenaran serta tunjukilah kami ke jalan yang lurus dan benar.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Inna hāżā akhī, lahū tis‘uw wa tis‘ūna na‘jataw wa liya na‘jatuw wāḥidah(tun), faqāla aqfilnīhā wa ‘azzanī fil-khiṭāb(i).
"(Salah seorang berkata,) “Sesungguhnya ini saudaraku. Dia mempunyai sembilan puluh sembilan ekor kambing betina, sedangkan aku mempunyai seekor saja. Lalu, dia berkata, ‘Biarkan aku yang memeliharanya! Dia mengalahkanku dalam perdebatan.’”"
Makna & Renungan Singkat
Berusaha menjelaskan duduk perkara, salah satu dari kedua orang itu mengatakan, “Sesungguhnya saudaraku ini mempunyai sembilan puluh sembilan ekor kambing betina dan aku mempunyai seekor kambing betina saja, lalu dia berkata kepadaku sambil menuntut, ‘Serahkanlah kambing betinamu itu kepadaku!’ Dan dia mengalahkan aku karena aku tidak mempunyai dalih yang kuat dalam perdebatan itu.”
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Qāla laqad ẓalamaka bisu'āli na‘jatika ilā ni‘ājih(ī), wa inna kaṡīram minal-khulaṭā'i layabgī ba‘ḍuhum ‘alā ba‘ḍin illal-lażīna āmanū wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti wa qalīlum mā hum, wa ẓanna dāwūdu annamā fatannāhu fastagfara rabbahū wa kharra rāki‘aw wa anāb(a).
"Dia (Daud) berkata, “Sungguh, dia benar-benar telah berbuat zalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu untuk (digabungkan) kepada kambing-kambingnya. Sesungguhnya banyak di antara orang-orang yang berserikat itu benar-benar saling merugikan satu sama lain, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan sedikit sekali mereka itu.” Daud meyakini bahwa Kami hanya mengujinya. Maka, dia memohon ampunan kepada Tuhannya dan dia tersungkur jatuh serta bertobat."
Makna & Renungan Singkat
Nabi Dawud menyimak aduan pria itu, lalu dia memberi keputusan seraya berkata, “Sungguh, dia telah berbuat zalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu untuk ditambahkan kepada kambingnya sehingga kambingnya bertambah banyak. Memang banyak di antara orang-orang yang bersekutu itu berbuat zalim kepada yang lain karena pihak yang lemah tidak memiliki bukti yang menguatkan perkaranya. Banyak yang berbuat zalim, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan yang menjunjung tinggi keadilan, dan hanya sedikitlah mereka yang begitu.” Dan setelah memberi putusan berdasarkan aduan sepihak itu, Nabi Dawud sadar dan menduga bahwa Kami mengujinya; maka dia segera memohon ampunan kepada Tuhannya atas kekeliruannya, lalu dia menyungkur sujud dan bertobat.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Fa gafarnā lahū żālik(a), wa inna lahū ‘indanā lazulfā wa ḥusna ma'āb(in).
"Lalu, Kami mengampuni (kesalahannya) itu. Sesungguhnya dia mempunyai kedudukan yang benar-benar dekat di sisi Kami dan tempat kembali yang baik."
Makna & Renungan Singkat
Setelah Nabi Dawud meminta ampun dan bertobat kepada Allah, lalu Kami mengampuni kesalahan yang ia sadari itu. Dan lantaran ke-sadaran dan ketajaman nuraninya sungguh, dia mempunyai kedudukan yang benar-benar dekat di sisi Kami dan berhak mendapatkan tempat kembali yang baik, surga yang penuh kenikmatan.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"(Allah berfirman,) “Wahai Daud, sesungguhnya Kami menjadikanmu khalifah (penguasa) di bumi. Maka, berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan hak dan janganlah mengikuti hawa nafsu karena akan menyesatkan engkau dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari Perhitungan.”"
Makna & Renungan Singkat
Karena ketaatan, kebijaksanaan, dan ilmunya yang luas, Allah memilih Nabi Dawud sebagai khalifah, “Wahai Nabi Dawud! Sesungguhnya engkau telah Kami jadikan khalifah dan penguasa di bumi. Karena itu, hiasilah kekuasaanmu dengan kesopanan dan tunduk pada aturan Kami. Maka berilah keputusan tentang suatu perkara yang terjadi di antara manusia dengan adil dan mengacu pada wahyu Kami, dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu dalam menjalankan amanah Kami karena hawa nafsu akan menyesatkan engkau dari jalan Allah dan menggiringmu jauh dari kebenaran.” Sungguh, orang-orang yang sesat dari jalan Allah akibat mengikuti hawa nafsu akan mendapat azab yang berat dan pedih di akhirat. Yang demikian itu karena mereka melupakan hari perhitungan, hari ketika perbuatan manusia dihisab. Ayat ini menunjukkan bahwa seorang pemimpin harus bersikap adil, amanah, dan mendahulukan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Wa mā khalaqnas-samā'a wal-arḍa wa mā bainahumā bāṭilā(n), żālika ẓannul-lażīna kafarū, fawailul lil-lażīna kafarū minan-nār(i).
"Kami tidak menciptakan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya secara sia-sia. Itulah anggapan orang-orang yang kufur. Maka, celakalah orang-orang yang kufur karena (mereka akan masuk) neraka."
Makna & Renungan Singkat
Usai menegaskan adanya hari perhitungan, Allah beralih menjelas-kan bukti-bukti kekuasaan-Nya di jagat raya. Dan sungguh, Kami tidak serta-merta menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, seperti bintang, matahari, dan bulan, dengan sia-sia dan tanpa manfaat tertentu (Lihat pula: Surah ad-Dukhàn/44: 38–39). Itu semua adalah anggapan orang-orang kafir yang tidak memercayai kekuasaan Allah, maka celakalah orang-orang yang kafir itu karena mereka akan masuk ke neraka yang telah Allah persiapkan untuk mereka.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Am naj‘alul-lażīna āmanū wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti kal-mufsidīna fil-arḍ(i), am naj‘alul-muttaqīna kal-fujjār(i).
"Apakah (pantas) Kami menjadikan orang-orang yang beriman dan beramal saleh sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di bumi? Pantaskah Kami menjadikan orang-orang yang bertakwa sama dengan para pendurhaka?"
Makna & Renungan Singkat
Allah menegaskan perbedaan perlakuan-Nya kepada orang beriman dan orang kafir. Pantaskah Kami memperlakukan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta percaya akan keesaan Kami sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di bumi dan tidak mau mengikuti petunjuk Kami? Atau pantaskah Kami menganggap orang-orang yang bertakwa dan patuh pada perintah Kami sama dengan orang-orang yang jahat, ingkar, dan sombong?
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Kitābun anzalnāhu ilaika mubārakul liyaddabbarū āyātihī wa liyatażakkara ulul-albāb(i).
"(Al-Qur’an ini adalah) kitab yang Kami turunkan kepadamu (Nabi Muhammad) yang penuh berkah supaya mereka menghayati ayat-ayatnya dan orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran."
Makna & Renungan Singkat
Wahai Nabi Muhammad, sesungguhnya kitab Al-Qur’an yang telah Kami turunkan kepadamu adalah kitab yang penuh berkah. Kami menurunkannya agar mereka menghayati dan memahami ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat menggunakan akal budinya untuk mendapat pelajaran darinya dan mengamalkan kandungannya.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Wa wahabnā lidāwūda wa sulaimān(a), ni‘mal-‘abd(u), innahū awwāb(un).
"Kami menganugerahkan kepada Daud (anak bernama) Sulaiman. Dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia sangat taat (kepada Allah)."
Makna & Renungan Singkat
Dan tidak hanya anugerah ilmu pengetahuan dan kenabian, kepada Nabi Dawud Kami karuniakan pula seorang putra yang mengikuti jejak dan perjuangannya, yaitu Nabi Sulaiman. Dia adalah sebaik-baik hamba yang selalu beribadah dan bersyukur. Sungguh, dia sangat taat pada perintah Allah.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Iż ‘uriḍa ‘alaihi bil-‘asyiyyiṣ-ṣāfinātul-jiyād(u).
"(Ingatlah) ketika pada suatu petang dipertunjukkan kepadanya (kuda-kuda) yang jinak, (tetapi) sangat cepat larinya."
Makna & Renungan Singkat
Ingatlah karunia kami kepada Nabi Sulaiman, yaitu ketika pada suatu sore, antara asar dan magrib, dipertunjukkan kepadanya kekayaan dan kuda-kuda yang jinak dan tangkas serta memiliki kaki yang kuat sehingga sangat cepat larinya,
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"Maka, dia berkata, “Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap yang baik (kuda) sehingga aku lalai mengingat Tuhanku sampai ia (matahari atau kuda itu) bersembunyi di balik tabir (hilang dari pandangan)."
Makna & Renungan Singkat
maka ketika itu dia berkata, “Sesungguhnya aku menyukai segala sesuatu yang baik, yaitu kuda dan harta kekayaan, yang membuat aku selalu ingat akan kebesaran Tuhanku.” Nabi Sulaiman menyaksikan dan mengawasi pertunjukan itu sampai matahari terbenam.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"Bawalah semua kuda itu kembali kepadaku.” Lalu, dia mengusap-usap kaki dan leher (kuda itu)."
Makna & Renungan Singkat
Lalu Nabi Sulaiman berkata kepada pelatih kuda, “Bawalah semua kuda itu kembali kepadaku.” Lalu dia pun mengusap-usap kaki dan leher kuda itu sebagai wujud syukurnya kepada Allah.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Wa laqad fatannā sulaimāna wa alqainā ‘alā kursiyyihī jasadan ṡumma anāb(a).
"Sungguh, Kami benar-benar telah menguji Sulaiman dan Kami menggeletakkan(-nya) di atas kursinya sebagai tubuh (yang lemah karena sakit), kemudian dia bertobat."
Makna & Renungan Singkat
Dan Kami tidak hanya mencurahkan karunia kepada Nabi Sulaiman. Sungguh, Kami pun telah menguji Nabi Sulaiman dengan penyakit yang menyebabkan hilangnya kekuatan yang dimilikinya, dan karena itu Kami jadikan dia hanya mampu tergeletak di atas kursinya sebagai tubuh yang lemah tak berdaya, kemudian dia pun menyadari kelalaiannya dan bertobat kepada Allah.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"Dia berkata, “Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak patut (dimiliki) oleh seorang pun sesudahku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi.”"
Makna & Renungan Singkat
Dalam tobatnya dia berkata, “Ya Tuhanku, ampunilah aku dari dosa-dosaku yang menyebabkan Engkau menimpakan cobaan ini kepadaku, dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan agung yang tidak akan dimiliki oleh siapa pun setelahku. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Pemberi lagi Maha Pemurah.”
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"Maka, Kami menundukkan kepadanya angin yang berembus dengan baik menurut perintahnya ke mana saja yang ia kehendaki."
Makna & Renungan Singkat
Allah menerima tobat dan doa Nabi Sulaiman, kemudian Kami tundukkan kepadanya angin yang berembus dengan baik maupun dengan kencang menurut perintahnya, berembus ke mana saja yang dikehendakinya sehingga dia dapat menempuh perjalanan jauh hanya dalam sekejap.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"(Kami menundukkan pula kepadanya) setan-setan, semuanya ahli bangunan, dan penyelam."
Makna & Renungan Singkat
Dan Kami tundukkan pula untuknya setan-setan dan jin-jin, semuanya ahli bangunan dan penyelam. Mereka ahli membangun istana, gedung megah, tempat peribadatan, bahkan hiasan dari keramik seperti patung, cawan, teko, dan sebagainya; serta ahli mengambil berbagai perhiasan dari dasar laut, seperti mutiara dan marjan. Mereka tekun bekerja (Lihat pula: Surah al-Anbiyà’/21: 81–82; Saba’/34: 12–13),
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"Inilah anugerah Kami. Maka, berikanlah (kepada orang lain) atau tahanlah (untuk dirimu sendiri) tanpa perhitungan."
Makna & Renungan Singkat
Kami berikan kepada Nabi Sulaiman kerajaan, kekayaan, dan kekuasaan yang tidak Kami berikan kepada siapa pun sesudahnya. Inilah anugerah Kami yang agung kepadamu, wahai Nabi Sulaiman; maka berikanlah sebagian dari karunia itu kepada orang lain atau tahanlah untuk dirimu sendiri, tanpa perhitungan dan tuntutan atasmu sebagai aturan yang Kami khususkan untukmu.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"Sesungguhnya dia mempunyai kedudukan yang dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik."
Makna & Renungan Singkat
Dan sungguh, Allah telah mengabulkan doanya dan memberi dia kemuliaan di dunia dengan mempunyai kedudukan yang dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik, yaitu surga.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Ważkur ‘abdanā ayyūb(a), iż nādā rabbahū annī massaniyasy-syaiṭānu binuṣbiw wa ‘ażāb(in).
"Ingatlah hamba Kami Ayyub ketika dia menyeru Tuhannya, “Sesungguhnya aku telah diganggu setan dengan penderitaan dan siksaan (rasa sakit).”"
Makna & Renungan Singkat
Cerita tentang Nabi Dawud dan Sulaiman yang diberi berbagai kenikmatan oleh Allah diikuti oleh kisah tentang Nabi Ayyub yang hidupnya penuh ujian dan cobaan. Dan ingatlah, wahai Nabi Muhammad, akan kisah salah seorang hamba Kami, yaitu Nabi Ayyub, yang sangat sabar dan taat kepada Allah. Dan ingatlah ketika dia mendapat ujian dan cobaan dari Allah, dia menyeru dan berdoa kepada Tuhannya, “Sesungguhnya aku diganggu setan dengan penderitaan, sakit menahun, dan bencana yang besar dengan hilangnya harta kekayaan dan anak keturunanku. Aku mengadu kepada-Mu karena Engkau Maha Penyayang." (Lihat pula: Surah al-Anbiyà’/21: 83).
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Urkuḍ birijlik(a), hāżā mugtasalum bāriduw wa syarāb(un).
"(Allah berfirman,) “Entakkanlah kakimu (ke bumi)! Inilah air yang sejuk untuk mandi dan minum.”"
Makna & Renungan Singkat
Menjawab doa Nabi Ayyub, Allah berfirman, “Hentakkanlah kakimu!” Dia pun menuruti perintah Tuhannya, lalu dari bawah telapak kakinya muncul sebuah mata air. Dikatakan kepadanya, “Inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum. Minum dan mandilah dengan airnya, niscaya Allah akan menghilangkan penderitaan dan bencana darimu.”
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Wa wahabnā lahū ahlahū wa miṡlahum ma‘ahum raḥmatam minnā wa żikrā li'ulil-albāb(i).
"Kami anugerahkan (pula) kepadanya (Ayyub) keluarganya dan (Kami lipat gandakan) jumlah mereka sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang berpikiran sehat."
Makna & Renungan Singkat
Kami sembuhkan penyakit Nabi Ayyub dan setelah itu Kami anugerahi dia kebahagiaan berkumpul kembali bersama keluarganya yang lama terpisah dan Kami lipatgandakan jumlah mereka sehingga keluarga serta pengikutnya bertambah banyak. Kami anugerahkan hal itu sebagai rahmat dari Kami bagi orang yang berbuat baik dan sabar dalam menerima cobaan, dan sebagai pelajaran bagi orang-orang yang berpikiran sehat serta meyakini kemurahan dan rahmat Allah.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Wa khuż biyadika ḍigṡan faḍrib bihī wa lā taḥnaṡ, innā wajadnāhu ṣābirā(n), ni‘mal-‘abd(u), innahū awwāb(un).
"Ambillah dengan tanganmu seikat rumput, lalu pukullah (istrimu) dengannya dan janganlah engkau melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia selalu kembali (kepada Allah dan sangat taat kepadanya)."
Makna & Renungan Singkat
Nabi Ayyub pernah bersumpah akan memukul istrinya akibat kelalaiannya dalam merawat beliau. Allah mengizinkan beliau untuk melaksanakan sumpah itu tanpa mendatangkan rasa sakit berlebih kepada istrinya. Untuk itu Allah berfirman, “Dan ambillah seikat rumput dengan tanganmu, lalu pukullah istrimu sekali saja dengan itu dan janganlah engkau melanggar sumpah yang pernah kauucapkan.” Sesungguhnya Kami dapati dia sebagai seorang yang sabar dan ikhlas dalam menghadapi cobaan. Dialah sebaik-baik hamba yang tidak pernah putus asa. Sungguh, dia sangat taat dalam melaksanakan perintah Kami. Ujian dan cobaan bisa menimpa siapa saja. Jika hal itu dihadapi dengan sabar, tawakal, dan berusaha secara maksimal, niscaya Allah akan mengganti dengan imbalan lebih banyak, bahkan terkadang tidak terduga.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Ważkur ‘ibādanā ibrāhīma wa isḥāqa wa ya‘qūba ulil-aidī wal-abṣār(i).
"Ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq, dan Ya‘qub yang mempunyai kekuatan (dalam taat kepada Allah) dan penglihatan (mata hati yang jernih)."
Makna & Renungan Singkat
Demikianlah kisah Nabi Ayyub, salah satu nabi dari garis keturunan Nabi Ishak bin Ibrahim. Seperti halnya Nabi Ayyub, ketabahan dan kesabaran juga ditunjukkan oleh leluhurnya. Dan ingatlah hamba-hamba Kami yang taat melaksanakan perintah Allah, tabah menerima cobaan dan ujian, dan sabar menghadapi umatnya, yaitu Nabi Ibrahim, Ishak, dan Yakub. Mereka mempunyai kekuatan-kekuatan yang besar dan ilmu-ilmu agama. Dengan kekuatan mereka memimpin umat dan melaksanakan perintah-perintah Allah, dan dengan ilmu agama yang luas mereka membimbing orang lain.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"Sesungguhnya Kami telah memberikan secara khusus kepada mereka anugerah yang besar, (yaitu selalu) mengingat negeri akhirat."
Makna & Renungan Singkat
Sungguh, Kami anugerahi mereka karunia yang besar itu karena Kami telah menyucikan jiwa mereka dengan sifat-sifat terpuji dan akhlak yang tinggi kepadanya, yaitu selalu mengingatkan umatnya kepada negeri akhirat yang kekal dan penuh kenikmatan bagi hamba-hamba yang saleh.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"Sesungguhnya mereka di sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang terbaik."
Makna & Renungan Singkat
Dan sungguh, di sisi Kami mereka termasuk orang-orang pilihan yang paling baik dan mulia di antara manusia lain, sehingga Kami pilih mereka sebagai nabi dan rasul.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Ważkur ismā‘īla wal-yasa‘a wa żal-kifl(i), wa kullum minal-akhyār(i).
"Ingatlah Ismail, Ilyasa, dan Zulkifli. Semuanya termasuk orang-orang yang paling baik."
Makna & Renungan Singkat
Dan ingatlah, wahai Nabi Muhammad, kisah moyang bangsa Arab, yaitu Nabi Ismail bin Ibrahim; Nabi Ilyasa‘ bin Akhtub dan Nabi Zulkifli putra paman Nabi Ilyasa’—nabi-nabi dari Bani Israil. Semuanya termasuk orang-orang yang paling baik yang dipilih Allah untuk membimbing kaumnya menuju ketaatan kepada Allah dan menjauhi kemusyrikan.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Hāżā żikr(un), wa inna lil-muttaqīna laḥusna ma'āb(in).
"Ini adalah kehormatan (bagimu dan kaummu). Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa benar-benar (disediakan) tempat kembali yang baik."
Makna & Renungan Singkat
Setelah menjelaskan kisah para nabi penyampai risalah, Allah beralih menguraikan imbalan bagi orang-orang yang mengikuti risalah mereka. Al-Qur’an ini adalah kehormatan bagi mereka yang berharap petunjuk-Nya. Dan sungguh, Allah meyediakan bagi orang-orang yang bertakwa kepada-Nya tempat kembali yang terbaik di akhirat.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"Inilah apa yang dijanjikan kepadamu pada hari Perhitungan."
Makna & Renungan Singkat
Inilah apa yang dijanjikan Allah kepadamu pada hari perhitungan, hari ketika manusia dibangkitkan dari kubur lalu diarak ke padang mahsyar dan diadili di hadapan Allah.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"Sesungguhnya ini adalah benar-benar rezeki (dari) Kami yang tidak habis-habisnya."
Makna & Renungan Singkat
Sungguh, karunia besar dan mulia inilah rezeki dari Kami yang tidak ada habis-habisnya dan tidak pula berkurang. Kami berikan karunia itu kepada hamba-hamba yang taat dan berbakti.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"Inilah (kenikmatan bagi orang yang bertakwa). Sesungguhnya bagi orang-orang yang melampaui batas benar-benar (disediakan) tempat kembali yang buruk."
Makna & Renungan Singkat
Bila Allah menyediakan surga beserta segala kenikmatan di dalamnya bagi orang yang taat, maka Allah menyediakan jahanam bagi orang yang durhaka terhadap risalah Allah. Beginilah karunia Allah kepada orang-orang yang bertakwa. Dan sungguh, bagi orang-orang yang durhaka terhadap perintah Allah dan rasul-Nya di dunia pasti di akhirat nanti disediakan tempat kembali yang buruk.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"Inilah (azab neraka). Biarlah mereka merasakannya. (Minuman mereka) air yang mendidih dan cairan nanah (yang menjijikkan)."
Makna & Renungan Singkat
Inilah azab yang Allah janjikan kepada para pendurhaka, maka biarlah mereka merasakannya dan mengetahui betapa pedih azab itu. Inilah air mendidih yang sangat panas dan membakar mulut, kerongkongan, serta usus mereka, dan air yang sangat dingin, yaitu nanah busuk dingin yang mengalir dari tubuh-tubuh penghuni neraka,
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"(Dikatakan kepada mereka,) “Ini rombongan (pengikut-pengikutmu) yang masuk berdesak-desakan bersama kamu (ke neraka).” Tidak ada ucapan selamat datang bagi mereka karena sesungguhnya mereka akan masuk neraka."
Makna & Renungan Singkat
Saat segolongan penghuni neraka memasukinya, dikatakan kepada mereka yang telah masuk neraka lebih dulu, “Ini rombongan besar pengikut-pengikutmu yang dahulu mau mengikuti ajakanmu menuju kedurhakaan. Mereka akan masuk dan berdesak-desak bersama kamu di neraka.” Mereka yang masuk neraka lebih dulu berkata, “Tidak ada ucapan selamat datang apalagi penghormatan bagi mereka di neraka ini, karena sesungguhnya mereka akan masuk neraka dan disiksa bersama kami akibat perbuatan buruk yang mereka lakukan.” (Lihat pula: Surah az-Zumar/38: 71–72).
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Qālū bal antum lā marḥabam bikum, antum qaddamtumūhu lanā, fabi'sal-qarār(u).
"Mereka (para pengikutnya) menjawab, “Sebenarnya kamulah yang (lebih pantas) tidak menerima ucapan selamat datang karena kamulah yang menjerumuskan kami ke dalam azab. (Itulah) seburuk-buruk tempat menetap.”"
Makna & Renungan Singkat
Kelompok pengikut yang hendak masuk neraka itu menjawab “Sebenarnya kamulah yang lebih pantas untuk tidak menerima ucapan selamat datang dan penghormatan, karena kamulah yang menjerumuskan kami ke dalam azab neraka dengan mengajak kami berbuat dosa dan menghindari petunjuk Allah.” Maka neraka itulah seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kembali mereka.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Qālū rabbanā man qaddama lanā hāżā fazidhu ‘ażāban ḍi‘fan fin-nār(i).
"Mereka berkata (lagi), “Wahai Tuhan kami, siapa yang menjerumuskan kami ke dalam (azab) ini, tambahkanlah kepadanya azab yang berlipat ganda di dalam neraka.”"
Makna & Renungan Singkat
Demikianlah sergahan kelompok pengikut. Mereka berkata lagi seraya memohon kepada Allah, “Ya Tuhan kami, barang siapa mengajak kami memilih jalan kesesatan dan menjerumuskan kami ke dalam azab yang pedih dan berat ini, maka tambahkanlah azab kepadanya dua kali lipat di dalam neraka dan timpakanlah laknat yang besar atas mereka." (Lihat pula: Surah al-A‘ràf/7: 38; al-Ahzàb/33: 67–68).
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Wa qālū mā lanā lā narā rijālan kunnā na‘udduhum minal-asyrār(i).
"Mereka (penghuni neraka) berkata, “Mengapa kami tidak melihat orang-orang yang (di dunia) selalu kami anggap sebagai orang-orang yang jahat (hina)?"
Makna & Renungan Singkat
Para pendurhaka itu lalu berbicara dan saling bertanya-tanya seraya berkata, “Me-ngapa kami tidak melihat orang-orang yang di dunia dahulu kami anggap sebagai orang-orang yang jahat, hina, buruk, dan bodoh, seperti Bilal, Suhaib, dan Ammar?”
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Attakhażnāhum sikhriyyan am zāgat ‘anhumul-abṣār(u).
"Apakah karena dahulu kami menjadikan mereka (bahan) olok-olokan ataukah karena penglihatan (kami) yang tidak melihat mereka?”"
Makna & Renungan Singkat
Dahulu kami menjadikan mereka olok-olokan; apakah karena mereka tidak pantas menerima hinaan itu sehingga tidak masuk neraka bersama kami, ataukah karena penglihatan kami yang tidak melihat mereka di tempat ini lantaran mereka telah masuk lebih dulu?”
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Qul innamā ana munżir(un), wa mā min ilāhin illallāhul-wāḥidul-qahhār(u).
"Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya aku hanya seorang pemberi peringatan, tidak ada tuhan selain Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan,"
Makna & Renungan Singkat
Sebetulnya para penghuni neraka itu di dunia dahulu telah menerima peringatan para rasul untuk mengesakan Allah dan menaati aturan-Nya. Katakanlah, wahai Nabi Muhammad kepada kaum musyrik, “Sesungguhnya aku hanya seorang pemberi peringatan. Adalah tugasku untuk menyampaikan kepadamu ancaman-Nya yang pedih bagi orang-orang yang mengingkari-Nya. Karena itu, yakinilah bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah. Dialah Yang Maha Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya, Mahaperkasa sehingga dapat mengalahkan siapa pun yang menentang-Nya.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Rabbus-samāwāti wal-arḍi wa mā bainahumal-‘azīzul-gaffār(u).
"(yaitu,) Tuhan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”"
Makna & Renungan Singkat
Dialah Tuhan Pencipta langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya. Dia menciptakan, menguasai, mengatur, mengawasi, dan memelihara kelangsungan ciptaan-Nya. Dialah Yang Mahaperkasa dalam mengatur kerajaan-Nya, Maha Pengampun atas dosa-dosa hamba yang memohon ampunan-Nya.”
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Mā kāna liya min ‘ilmim bil-mala'il-a‘lā iż yakhtaṣimūn(a).
"Aku tidak mempunyai pengetahuan sedikit pun tentang malaikat langit ketika mereka berbantah-bantahan."
Makna & Renungan Singkat
Katakanlah pula kepada mereka, “Aku tidak mempunyai pengetahuan sedikit pun tentang al-mala’ul a‘là itu, yaitu malaikat, ketika mereka berbantah-bantahan terhadap keputusan Allah terkait penciptaan Nabi Adam sebagai khalifah di bumi.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"Tidaklah diwahyukan kepadaku, kecuali aku hanyalah seorang pemberi peringatan yang nyata.”"
Makna & Renungan Singkat
Yang diwahyukan kepadaku hanyalah kepastian bahwa aku hanyalah seorang rasul pemberi peringatan dan petunjuk yang nyata tentang adanya siksa di akhirat bagi orang-orang yang mengingkari para utusan Allah.”
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Iż qāla rabbuka lil-malā'ikati innī khāliqum basyaram min ṭīn(in).
"(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat, “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah."
Makna & Renungan Singkat
Usai menafikan pengetahuan Rasulullah menyangkut al-Mala’ul-A‘la kecuali apa yang sudah diwahyukan oleh Allah, pada ayat berikut Allah lalu menguraikan sekelumit tentang al-Mala’ul-A‘la dan penciptaan Nabi Adam. Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat, “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia Adam sebagai khalifah di bumi. Aku menciptakannya dari tanah bercampur air.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Fa'iżā sawwaituhū wa nafakhtu fīhi mir rūḥī faqa‘ū lahū sājidīn(a).
"Apabila Aku telah menyempurnakan (penciptaan)-nya dan meniupkan roh (ciptaan)-Ku ke dalamnya, tunduklah kamu kepadanya dalam keadaan bersujud.”"
Makna & Renungan Singkat
Kemudian, apabila telah Aku sempurnakan kejadian fisik-nya dengan anggota tubuh dan bentuk yang sempurna dan Aku tiupkan roh ciptaan-Ku kepadanya, maka tunduklah kamu semua dengan bersujud penuh hormat kepadanya, bukan sujud penghambaan dan pengagungan.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"Lalu, para malaikat itu bersujud semuanya bersama-sama,"
Makna & Renungan Singkat
Sempurnalah kejadian Adam, lalu dengan serta-merta para malaikat itu bersujud semuanya sebagai bentuk penghormatan kepadanya dan bukti ketaatan kepada perintah Allah.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Illā iblīs(a), istakbara wa kāna minal-kafirīn(a).
"kecuali Iblis. Ia menyombongkan diri dan termasuk golongan kafir."
Makna & Renungan Singkat
Mereka semua bersujud, kecuali Iblis; ia enggan bersujud di hadapan Adam karena menyombongkan diri dan enggan menaati kepada Allah, dan ia termasuk golongan yang kafir.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Qāla yā iblīsu mā mana‘aka an tasjuda limā khalaqtu biyadayy(a), astakbarta am kunta minal-‘ālīn(a).
"(Allah) berfirman, “Wahai Iblis, apakah yang menghalangimu untuk bersujud kepada yang telah Aku ciptakan dengan kedua tangan-Ku (kekuasaan-Ku)? Apakah kamu menyombongkan diri ataukah (memang) termasuk golongan yang (lebih) tinggi?”"
Makna & Renungan Singkat
Mengetahui hal tersebut Allah bertanya, “Wahai Iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud dengan hormat kepada Adam yang telah Aku ciptakan dengan kekuasaan-Ku dan Aku muliakan? Apakah kamu menyombongkan diri dengan mengabaikan perintah-Ku atau kamu merasa termasuk golongan yang lebih tinggi dan terhormat daripada Adam?”
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Qāla ana khairum minhu khalaqtanī min nāriw wa khalaqtahū min ṭīn(in).
"(Iblis) berkata, “Aku lebih baik darinya, karena Engkau menciptakanku dari api, sedangkan Engkau menciptakannya dari tanah.”"
Makna & Renungan Singkat
Iblis berkata, “Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.” Iblis mengira api lebih baik daripada tanah karena api selalu membumbung sedangkan tanah selalu di bawah (Lihat pula: Surah al-A‘ràf/7: 12).
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"(Allah) berfirman, “Keluarlah darinya (surga) karena sesungguhnya kamu terkutuk."
Makna & Renungan Singkat
Mengetahui kedurhakaan Iblis, Allah mengusirnya seraya berfirman, “Kalau begitu, keluarlah kamu dari surga! Sesungguhnya kamu adalah makhluk yang terkutuk, terusir dari rahmat-Ku, dan terlarang dari surga-Ku.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"Sesungguhnya laknat-Ku tetap atasmu sampai hari Pembalasan.”"
Makna & Renungan Singkat
Dan sungguh, kutukan-Ku tetap berlaku atasmu sampai hari pembalasan, hari ketika seluruh perbuatan diperhitungkan dan dibalas.” Iblis berkata seraya memohon,
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"(Iblis) berkata, “Wahai Tuhanku, tangguhkanlah (usia)-ku sampai hari mereka (manusia) dibangkitkan.”"
Makna & Renungan Singkat
“Ya Tuhanku, karena Engkau telah menjadikan aku makhluk-Mu yang terlaknat, maka tangguhkanlah kematianku dan izinkanlah aku hidup sampai pada hari mereka dibangkitkan supaya aku bisa menggoda mereka sepanjang hayat.”
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"sampai hari yang telah ditentukan waktunya (kiamat).”"
Makna & Renungan Singkat
Aku akan memanjangkan umurmu dan menunda kematianmu sampai pada hari yang telah ditentukan waktunya, yaitu hari Kiamat.” Dengan penundaan ini Allah bermaksud memberi cobaan kepada hamba-Nya untuk menguji siapa yang menaati perintah Allah dan siapa yang mengikuti langkah Iblis.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"(Iblis) berkata, “Demi kemuliaan-Mu, pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya."
Makna & Renungan Singkat
Iblis menjawab dan memohon lagi, “Wahai Tuhanku, demi kekuasan dan kemuliaan-Mu, berilah aku kesempatan menggoda manusia, pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya dengan tipu dayaku sehingga mereka memandang baik perbuatan buruk.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"Kecuali, hamba-hamba-Mu yang terpilih (karena keikhlasannya) di antara mereka.”"
Makna & Renungan Singkat
Akan aku tipu semua manusia, kecuali hamba-hamba-Mu yang terpilih di antara mereka, yaitu mereka yang Kauberi taufik untuk menaati petunjuk dan perintah-Mu. Aku hanya akan mampu menggoda dan menyesatkan mereka yang kafir dan lemah imannya.”
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"(Allah) berfirman, “Maka, yang benar (adalah sumpah-Ku) dan hanya kebenaran itulah yang Aku katakan."
Makna & Renungan Singkat
Allah mengabulkan permintaan Iblis seraya berfirman, “Maka yang benar adalah sumpah-Ku, dan janji-Ku pasti benar. Hanya kebenaran itulah yang Aku katakan.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
La'amla'anna jahannama minka wa mimman tabi‘aka minhum ajma‘īn(a).
"Aku pasti akan memenuhi (neraka) Jahanam denganmu dan orang yang mengikutimu di antara mereka semuanya.”"
Makna & Renungan Singkat
Sungguh, Aku akan memenuhi neraka Jahanam dengan kamu dan keturunanmu, wahai Iblis, dan dengan orang-orang yang mengikutimu dalam kesesatan di antara mereka semuanya, yakni anak cucu Adam.”
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Qul mā as'alukum ‘alaihi min ajriw wa mā ana minal-mutakallifīn(a).
"Katakanlah (Nabi Muhammad), “Aku tidak meminta imbalan sedikit pun kepadamu atasnya (dakwahku) dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mengada-ada."
Makna & Renungan Singkat
Wahai Nabi Muhammad, katakanlah kepada orang-orang kafir, “Aku diutus oleh Allah untuk mendakwahkan risalah dan aku tidak meminta imbalan atau upah sedikit pun kepadamu atasnya. Tugasku hanya-lah menyampaikan risalah dan Allah-lah yang akan memberiku upah atas tugas itu. Dan ketahuilah bahwa aku bukanlah termasuk orang yang mengada-ada dan suka membuat-buat.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"(Al-Qur’an) ini tidak lain, kecuali (sebagai) peringatan bagi semesta alam."
Makna & Renungan Singkat
Al-Qur’an ini tidak lain hanyalah peringatan dari Allah. Allah memenuhinya dengan petunjuk bagi seluruh alam, baik jin maupun manusia, menuju jalan yang lurus dan menjadikannya pembeda antara yang hak dan yang batil.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"Sungguh, kamu akan mengetahui (kebenaran) beritanya (Al-Qur’an) setelah beberapa waktu lagi.”"
Makna & Renungan Singkat
Dan sungguh, wahai orang-orang kafir, kamu akan mengetahui kebenaran beritanya setelah beberapa waktu lagi. Tidak lama lagi, entah di dunia atau akhirat, kamu akan mendapati kebenaran isi Al-Qur’an, seperti janji dan ancaman Allah, kejadian di masa depan, dan hari kebangkitan.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Surat Shaad terdiri atas 88 ayat termasuk golongan surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Al Qamar. Dinamai dengan Shaad karena surat ini dimulai dengan Shaad (selanjutnya lihat no. [10)). Dalam surat ini Allah bersumpah dengan Al Quran, untuk menunjukkan bahwa Al Quran itu suatu kitab yang agung dan bahwa siapa saja yang mengikutinya akan mendapat kebahagiaan dunia dan akhirat dan untuk menunjukkan bahwa Al Quran ini adalah mukjizat Nabi Muhammad s.a.w. yang menyatakan kebenarannya dan ketinggian akhlaknya.
Rujukan Mushaf & Terjemahan: Standar Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) 2019 dan Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an (LPMQ).
Rujukan Tafsir Ringkas: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI, dikumpulkan melalui proyek data terbuka gadingnst/quran-api. Sebagian kecil ayat (11 dari 6.236) belum menampilkan tafsir ringkas karena data sumber tidak lengkap.
🌱 Doa & Renungan Terkait
Perkuat pemahaman ayat dengan doa dan amalan yang sejalan: