Murottal Lengkap Surat Al-Fajr Misyari Rasyid Al-Afasi
Dengarkan lantunan merdu seluruh ayat Surat Al-Fajr secara berkesinambungan.
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
89:1
وَالْفَجْرِۙ
Wal-fajr(i).
"Demi waktu fajar,"
Makna & Renungan Singkat
Demi fajar, yaitu awal mula terangnya bumi setelah kegelapan malam sirna. Pada waktu ini manusia memulai aktivitasnya. Di balik kemunculan fajar itu pasti ada Zat Yang Mahaperkasa.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Demi malam yang sepuluh, yaitu sepuluh hari pertama bulan Zulhijah. Mereka yang beramal saleh pada hari-hari tersebut akan mendapat pahala yang sangat agung.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Demi yang genap dan yang ganjil dari semua hal. Bisa juga dipahami bahwa yang genap itu adalah makhluk Allah, sedangkan yang ganjil adalah Allah. Dia Maha Esa dan tanpa bandingan. Allah tidak membutuhkan apa dan siapa pun, sedang makhluk sangat bergantung pada yang lain.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"Apakah pada yang demikian itu terdapat sumpah (yang dapat diterima) oleh (orang) yang berakal?"
Makna & Renungan Singkat
Adakah pada yang demikian itu terdapat sumpah yang dapat diterima bagi orang-orang yang berakal? Bagi mereka sumpah-sumpah tersebut sangat menggugah. Mereka tergugah untuk memikirkannya secara mendalam karena sumpah itu menunjukkan kekuasaan Allah dan anugerah-Nya yang besar bagi manusia.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Tidakkah engkau, wahai Rasul dan kaum musyrik, memperhatikan dan merenungkan dengan pikiran jernih bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum ‘Ad? Allah mengazab mereka karena telah berbuat durhaka, meski mereka memiliki kekuatan yang luar biasa.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"(Tidakkah engkau perhatikan pula kaum) Samud yang memotong batu-batu besar di lembah"
Makna & Renungan Singkat
Dan tidakkah kamu perhatikan pula azab yang telah Allah timpakan atas kaum Šamud yang memotong dan memahat batu-batu besar di lembah untuk dijadikan kediaman mereka?
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"dan Fir‘aun yang mempunyai pasak-pasak (bangunan yang besar)"
Makna & Renungan Singkat
dan tidakkah kamu juga memperhatikan azab Allah kepada Fir‘aun yang mempunyai pasak-pasak? Allah mengazabnya meski ia mampu membangun piramida-piramida yang besar dan mempunyai bala tentara yang banyak.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"maka Tuhanmu menimpakan cemeti azab (yang dahsyat) kepada mereka?"
Makna & Renungan Singkat
Karena kesewenangan dan kezaliman mereka itu Tuhanmu menimpakan cemeti azab kepada mereka. Allah membinasakan kaum ‘Ad dengan topan yang sangat dingin selama tujuh malam berturut-turut; kaum Šamud dengan suara menggelegar dan petir yang menyambar (Lihat:Fussilat/41:16; al-Hàqqah:/69:6–7); dan Fir‘aun beserta tentaranya ditenggelamkan di Laut Merah.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Allah timpakan azab kepada mereka karena sungguh, Tuhanmu benar-benar mengawasi gerak gerik dan perilaku mereka. Tidak seorang pun lepas dari pengawasan Allah. Kebinasaan tiga kaum itu hendaknya menjadi pelajaran bagi umat setelahnya, terutama kaum musyrik Mekah.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Fa ammal-insānu iżā mabtalāhu rabbuhū fa akramahū wa na‘‘amah(ū), fa yaqūlu rabbī akraman(i).
"Adapun manusia, apabila Tuhan mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kenikmatan, berkatalah dia, “Tuhanku telah memuliakanku.”"
Makna & Renungan Singkat
Ayat ini menjelaskan sifat dasar manusia kafir ketika mendapat kebahagiaan dan kesusahan, yakni bergembira berlebihan saat mendapat kenikmatan dan putus asa ketika tertimpa kesulitan. Maka adapun manusia, apabila Tuhan mengujinya lalu dia memuliakannya dan memberinya kesenangan serta kenikmatan, baik lahir maupun batin, maka dia berkata, “Tuhanku telah memuliakanku.” Mereka menilai kenikmatan yang diterimanya adalah berkat kemuliaan nya di sisi Allah. Mereka lupa bahwa nikmat itu pada dasarnya salah satu bentuk ujian Allah kepada manusia.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Wa ammā iżā mabtalāhu fa qadara ‘alaihi rizqah(ū), fa yaqūlu rabbī ahānan(i).
"Sementara itu, apabila Dia mengujinya lalu membatasi rezekinya, berkatalah dia, “Tuhanku telah menghinaku.”"
Makna & Renungan Singkat
Namun apabila Tuhan mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, “Tuhanku telah menghinakanku.” Mereka tidak dapat memahami bahwa kefakiran dan kesusahan bukanla htolok ukur mutlak bagi kehinaan seseorang di mata Allah karena keduanya tidak lain hanyalah cobaan dari Allah.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"Sekali-kali tidak! Sebaliknya, kamu tidak memuliakan anak yatim,"
Makna & Renungan Singkat
Sekali-kali tidak demikian. Ketahuilah, kemuliaan seseorang tidak diukur dari kekaya annya dan kehinaan tidak dipandang dari kemiskinannya. Kemulian diukur dari ketaatan dan kehinaan adalah akibat kemaksiatan seseorang kepada Allah. Bahkan kamu tidak memuliakan, menyantuni, mengasihi, dan menolong anak yatim. Kamu biarkan mereka susah, padahal menyantuni mereka adalah amal saleh yang menjanjikan derajat tinggi di sisi Allah.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"tidak saling mengajak memberi makan orang miskin,"
Makna & Renungan Singkat
Dan kamu tidak saling mengajak satu sama lain untuk memberi makan orang miskin. Tidak mengajak orang lain untuk berbuat baik juga merupakan tindakan tidak terpuji. Mengajak orang lain berbuat baik adalah tindakan terpuji, apa lagi jika dibarengi dengan melakukannya. Makanan adalah kebutuhan pokok manusia. Memberi makanan fakir miskin, baik muslim atau bukan, adalah suatu bentuk kesalehan sosial yang sangat terpuji (Lihat pula: al-Insàn/76: 8).
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"memakan harta warisan dengan cara mencampurbaurkan (yang halal dan yang haram),"
Makna & Renungan Singkat
Kamu tidak berbuat baik kepada anak yatim dan orang miskin, sedangkan kamu justru memakan harta warisan dengan cara mencampur baurkan yang halal dengan yang haram. Harta warisan adalah hak ahli waris tertentu. Merampas harta warisan yang menjadi hak orang lain adalah perbuatan zalim.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"dan mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan."
Makna & Renungan Singkat
Dan tidak hanya itu, kamu juga mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan. Kecintaan berlebih seseorang terhadap harta menjadikan motivasi hidupnya semata untuk mengumpulkan harta, tidak peduli halal atau haram. Di sisi lain, dia akan menjadi kikir dan tidak mau peduli kepada sesama. Perilaku ini akan menjerumuskannya ke neraka.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"Jangan sekali-kali begitu! Apabila bumi diguncangkan berturut-turut (berbenturan),"
Makna & Renungan Singkat
Sekali-kali tidak! janganlah kamu berbuat demikian. Apabila bumi diguncangkan berturut-turut, memuntahkan isinya, hancur lebur, kemudian muncul bumi yang sama sekali baru,
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"Tuhanmu datang, begitu pula para malaikat (yang datang) berbaris-baris,"
Makna & Renungan Singkat
dan setelah itu datanglah Tuhanmu dengan cara yang tidak diketahui hakikatnya sama sekali oleh manusia; dan malaikat menunggu perintah Tuhan sambil berbaris-baris penuh kepatuhan.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Wa jī'a yauma'iżim bijahannam(a), yauma'iżiy yatażakkarul-insānu wa annā lahuż-żikrā.
"dan pada hari itu (neraka) Jahanam didatangkan, sadarlah manusia pada hari itu juga. Akan tetapi, bagaimana bisa kesadaran itu bermanfaat baginya?"
Makna & Renungan Singkat
Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahanam kepada orang kafir agar mereka melihat dengan mata kepada sendiri apa yang dahulu mereka ingkari. Ketika semua itu terjadi, maka pada hari itu sadarlah manusia yang ingkar atas kealpaannya, tetapi tidak berguna lagi baginya kesadaran itu. Kesempatan untuk bertobat sudah tiada. Kini tiba saatnya untuk menghitung dan mempertanggungjawabkan perbuatan mereka. Betapa besar penyesalan orang kafir pada hari itu.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"Dia berkata, “Oh, seandainya dahulu aku mengerjakan (kebajikan) untuk hidupku ini!”"
Makna & Renungan Singkat
Dia berkata dengan penuh kesadaran, “Alangkah baiknya sekiranya di dunia dahulu aku beriman dan mengerjakan amal saleh untuk kenyamanan hidupku di akhirat ini.” Penyesalan itu sudah tidak berguna. Maka, berbahagialah kini orang yang membekali diri di dunia dengan iman dan amal saleh.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"Pada hari itu tidak ada seorang pun yang mampu mengazab (seadil) azab-Nya."
Makna & Renungan Singkat
Maka pada hari itu tidak ada seorang pun yang mengazab seperti azab-Nya yang adil. Azab Allah mahadahsyat. Orang yang menerima azab Allah pada hari itu akan merasa sebagai orang yang paling sengsara.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"Tidak ada seorang pun juga yang mampu mengikat (sekuat) ikatan-Nya."
Makna & Renungan Singkat
Dan tidak ada seorang pun yang mengikat seperti ikatan-Nya. Ikatan Allah sangat kukuh dan kuat. Tidak ada kekuatan yang mampu mengendurkan ikatan itu, apalagi melepaskannya.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Allah berfirman kepada manusia yang beriman dan beramal saleh, “Wahai jiwa yang tenang, tenteram, damai, dan tidak takut apa pun serta tidak merasa sedih karena apa pun.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"kembalilah kepada Tuhanmu dengan rida dan diridai."
Makna & Renungan Singkat
Kembalilah kepada Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan mendidikmu, dengan hati yang rida atas pahala dan nikmat yang Allah siapkan untukmu, dan di ridai-Nya karena Allah telah menerima amalan salehmu.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Dan masuklah bersama mereka ke dalam surga-Ku yang telah Aku persiapkan untukmu, surga yang penuh kenikmatan. Kekallah di sana selama-lamanya. Terima dan nikmatilah anugerah-Ku yang agung ini.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Surat ini terdiri atas 30 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Al Lail. Nama Al Fajr diambil dari kata Al Fajr yang terdapat pada ayat pertama surat ini yang artinya fajar.
Rujukan Mushaf & Terjemahan: Standar Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) 2019 dan Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an (LPMQ).
Rujukan Tafsir Ringkas: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI, dikumpulkan melalui proyek data terbuka gadingnst/quran-api. Sebagian kecil ayat (11 dari 6.236) belum menampilkan tafsir ringkas karena data sumber tidak lengkap.
🌱 Doa & Renungan Terkait
Perkuat pemahaman ayat dengan doa dan amalan yang sejalan: