Daftar

At-Takwir

Penggulungan · 29 ayat · Mekah

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
1 81:1
اِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْۖ
Iżasy-syamsu kuwwirat.
"Apabila matahari digulung,"
Makna & Renungan Singkat
Allah mengawali surah ini dengan menyebutkan dua belas peristiwa besar yang akan terjadi pada hari kiama — disebutkan dari ayat 1 s.d. 13. Apabila matahari yang demikian besar digulung dengan mudah seperti halnya serban, hingga cahayanya memudar dan redup.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Bagikan
2 81:2
وَاِذَا النُّجُوْمُ انْكَدَرَتْۖ
Wa iżan-nujūmunkadarat.
"apabila bintang-bintang berjatuhan,"
Makna & Renungan Singkat
Dan apabila bintang-bintang yang begitu banyak dan menghiasi cakrawala berjatuhan, tidak berada di garis edarnya lagi akibat hilangnya gaya tarikmenarik antar-benda langit.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Bagikan
3 81:3
وَاِذَا الْجِبَالُ سُيِّرَتْۖ
Wa iżal-jibālu suyyirat.
"apabila gunung-gunung dihancurkan,"
Makna & Renungan Singkat
Dan apabila gunung-gunung yang demikian tegar dan kukuh dihancurkan hingga luluh lantak menjadi pasir, kemudian diempaskan oleh angin dahsyat dengan mudahnya seperti gumpalan kapas raksasa yang beterbangan.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Bagikan
4 81:4
وَاِذَا الْعِشَارُ عُطِّلَتْۖ
Wa iżal-‘isyāru ‘uṭṭilat.
"apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak terurus),"
Makna & Renungan Singkat
Dan apabila unta-unta yang bunting dan menjadi harta yang dibanggakan ditinggalkan begitu saja dan tidak lagi dipedulikan dan diurus oleh pemiliknya.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Bagikan
5 81:5
وَاِذَا الْوُحُوْشُ حُشِرَتْۖ
Wa iżal-wuḥūsy ḥusyirat.
"apabila binatang-binatang liar dikumpulkan,"
Makna & Renungan Singkat
Hal ini mengisyaratkan betapa besar kebingungan yang meliputi manusia saat kiamat tiba. Dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan untuk diberi balasan bila berbuat aniaya kepada sesamanya. Binatang liar yang saling memusuhi saat itu bisa dikumpulkan menjadi satu dalam suasanya yang sangat menegangkan.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Bagikan
6 81:6
وَاِذَا الْبِحَارُ سُجِّرَتْۖ
Wa iżal-biḥāru sujjirat.
"apabila lautan dipanaskan,"
Makna & Renungan Singkat
Dan apabila lautan dipanaskan dan dijadikan meluap. Air laut memanas akibat munculnya kobaran api mahadahsyat dari dasarnya.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Bagikan
7 81:7
وَاِذَا النُّفُوْسُ زُوِّجَتْۖ
Wa iżan-nufūsu zuwwijat.
"apabila roh-roh dipertemukan (dengan tubuh),"
Makna & Renungan Singkat
Dan apabila roh-roh dipertemukan dengan tubuh sehingga manusia hidup kembali dalam suasana yang sama sekali berbeda dari kehidupan dunia. Manusia saat itu bergabung dengan manusia lain yang senasib; penaat bersama penaat, begitupun sebaliknya.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Bagikan
8 81:8
وَاِذَا الْمَوْءٗدَةُ سُىِٕلَتْۖ
Wa iżal-mau'ūdatu su'ilat.
"apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya,"
Makna & Renungan Singkat
Dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup tanpa dosa dan kesalahan ditanya,
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Bagikan
9 81:9
بِاَيِّ ذَنْۢبٍ قُتِلَتْۚ
Bi'ayyi żambin qutilat.
"“Karena dosa apa dia dibunuh,”"
Makna & Renungan Singkat
karena dosa apa dia dibunuh. Masyarakat jahiliah merasa malu bila mempunyai anak perempuan karena wanita dianggap tidak mempunyai peran apa-apa dalam kehidupan. Untuk menutup rasa malu, mereka rela mengubur anak-anak perempuannya hidup-hidup.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Bagikan
10 81:10
وَاِذَا الصُّحُفُ نُشِرَتْۖ
Wa iżaṣ-ṣuḥufu nusyirat.
"apabila lembaran-lembaran (catatan amal) telah dibuka lebar-lebar,"
Makna & Renungan Singkat
Dan apabila lembaran-lembaran yang berisi catatan perbuatan manusia, yang besar maupun yang kecil, dibuka lebar-lebar. Pada saat itu manusia tidak bisa mengelak dari apa yang telah dia perbuat di dunia. Dia yang menerima catatan amal dengan tangan kanan akan berbahagia. Sebaliknya, mereka yang menerima dengan tangan kiri akan celaka.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Bagikan
11 81:11
وَاِذَا السَّمَاۤءُ كُشِطَتْۖ
Wa iżas-samā'u kusyiṭat.
"apabila langit dilenyapkan,"
Makna & Renungan Singkat
Dan apabila langit dilenyapkan. Langit yang semula menjadi atap bagi penduduk bumi akan dikelupas layaknya kulit binatang dikelupas dari tubuhnya.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Bagikan
12 81:12
وَاِذَا الْجَحِيْمُ سُعِّرَتْۖ
Wa iżal-jaḥīmu su‘‘irat.
"apabila (neraka) Jahim dinyalakan,"
Makna & Renungan Singkat
Dan apabila neraka Jahim dinyalakan dengan suhu panas yang tidak terbayangkan. Neraka itu disediakan bagi mereka yang ingkar kepada Allah.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Bagikan
13 81:13
وَاِذَا الْجَنَّةُ اُزْلِفَتْۖ
Wa iżal-jannatu uzlifat.
"dan apabila surga didekatkan,"
Makna & Renungan Singkat
Dan apabila surga dengan segala kenikmatannya didekatkan kepada mereka yang beriman dan beramal saleh.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Bagikan
14 81:14
عَلِمَتْ نَفْسٌ مَّآ اَحْضَرَتْۗ
‘Alimat nafsum mā aḥḍarat.
"setiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakannya."
Makna & Renungan Singkat
Pada saat itulah setiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakannya di dunia, apakah perbuatan baik atau buruk.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Bagikan
15 81:15
فَلَآ اُقْسِمُ بِالْخُنَّسِۙ
Falā uqsimu bil-khunnas(i).
"Aku bersumpah demi bintang-bintang"
Makna & Renungan Singkat
Usai menjelaskan ihwal hari kiamat dan kesudahan manusia, Allah beralih menjelaskan kedudukan Al-Qur’an sebagai kalamullah yang didustakan oleh kafir Quraisy. Aku bersumpah demi bintang-bintang yang cahayanya redup di siang hari dan terang di malam hari.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Bagikan
16 81:16
الْجَوَارِ الْكُنَّسِۙ
Al-jawāril-kunnas(i).
"yang beredar lagi terbenam,"
Makna & Renungan Singkat
yang beredar di garis edarnya dan terbenam,
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Bagikan
17 81:17
وَالَّيْلِ اِذَا عَسْعَسَۙ
Wal-laili iżā ‘as‘as(a).
"demi malam apabila telah larut,"
Makna & Renungan Singkat
demi malam apabila telah larut dan meninggalkan gelapnya, atau datang dengan kegelapan yang dibawanya,
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Bagikan
18 81:18
وَالصُّبْحِ اِذَا تَنَفَّسَۙ
Waṣ-ṣubḥi iżā tanaffas(a).
"demi subuh apabila (fajar) telah menyingsing,"
Makna & Renungan Singkat
dan demi subuh apabila fajar telah menyingsing, tersibak cahayanya sedikit demi sedikit, layaknya orang bernafas. Ketiga peristiwa tersebut merupakan tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta yang dapat dilihat. Begitupun, Al-Qur’an merupakan tanda kebesaran-Nya yang dapat dibaca.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Bagikan
19 81:19
اِنَّهٗ لَقَوْلُ رَسُوْلٍ كَرِيْمٍۙ
Innahū laqaulu rasūlin karīm(in).
"sesungguhnya (Al-Qur’an) itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril)"
Makna & Renungan Singkat
Demi ketiga hal itu, sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar firman Allah yang dibawa turun oleh utusan yang mulia, yaitu Jibril yang diamanati untuk mengawal wahyu Allah kepada para nabi.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Bagikan
20 81:20
ذِيْ قُوَّةٍ عِنْدَ ذِى الْعَرْشِ مَكِيْنٍۙ
Żī quwwatin ‘inda żil-‘arsyi makīn(in).
"yang memiliki kekuatan dan kedudukan tinggi di sisi (Allah) yang memiliki ʻArasy,"
Makna & Renungan Singkat
Kami turunkan Al-Qur’an melalui Jibril yang memiliki kekuatan yang tidak tertandingi oleh makhluk lain. Jibril mempunyai 600 sayap. Dengan sayap sebanyak itu Jibril sanggup menembus langit ketujuh dengan kecepatan luar biasa. Itulah Jibril yang memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah yang memiliki ‘Arsy, singgasana yang agung karena ketaatannya kepada Allah dan tugasnya yang sangat mulia sebagai pembawa wahyu.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Bagikan
21 81:21
مُّطَاعٍ ثَمَّ اَمِيْنٍۗ
Muṭā‘in ṡamma amīn(in).
"yang di sana (Jibril) ditaati lagi dipercaya."
Makna & Renungan Singkat
Itulah Jibril yang di sana, di alam malaikat, ditaati dan dipercaya atas wahyu yang disampaikannya.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Bagikan
22 81:22
وَمَا صَاحِبُكُمْ بِمَجْنُوْنٍۚ
Wa mā ṣāḥibukum bimajnūn(in).
"Temanmu (Nabi Muhammad) itu bukanlah orang gila."
Makna & Renungan Singkat
Kami turunkan wahyu melalui Jibril kepada Nabi Muhammad, temanmu yang kamu kenal baik sifatnya. Dan temanmu itu bukanlah orang gila seperti tuduhanmu kepadanya. Dia adalah seorang yang santun, tepercaya, dan berakhlak mulia. Perkataan orang gila bersifat racauan, tidak beraturan, dan tidak mempunyai nilai. Berbeda dari AlQur’an, kitab yang susunan kalimat maupun kandungannya mempunyai nilai sangat tinggi.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Bagikan
23 81:23
وَلَقَدْ رَاٰهُ بِالْاُفُقِ الْمُبِيْنِۚ
Wa laqad ra'āhu bil-ufuqil-mubīn(i).
"Sungguh, dia (Nabi Muhammad) benar-benar telah melihatnya (Jibril) di ufuk yang terang."
Makna & Renungan Singkat
Ayat ini menegaskan pertemuan antara Jibril dalam wujudnya yang asli dengan Nabi Muhammad sesaat setelah Nabi menerima wahyu pertama di Gua Hira. Kaum musyrik mendustakan hal tersebut. Dan sungguh, dia telah melihatnya, yakni melihat Jibril, di ufuk yang terang, sehingga tidak dapat diragukan bahwa sosok yang datang itu adalah Jibril.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Bagikan
24 81:24
وَمَا هُوَ عَلَى الْغَيْبِ بِضَنِيْنٍۚ
Wa mā huwa ‘alal-gaibi biḍanīn(in).
"Dia (Nabi Muhammad) bukanlah seorang yang kikir (enggan) untuk menerangkan yang gaib."
Makna & Renungan Singkat
Dan dia bukanlah orang yang kikir untuk menerangkan ihwal perkara yang gaib, seperti Allah, malaikat, dan hari kiamat. Nabi dengan senang hati memberi penjelasan demi kemaslahatan banyak orang. Hal ini berbeda dari para dukun yang hanya mau membeberkan hal yang rahasia jika diberi imbalan.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Bagikan
25 81:25
وَمَا هُوَ بِقَوْلِ شَيْطٰنٍ رَّجِيْمٍۚ
Wa mā huwa biqauli syaiṭānir rajīm(in).
"(Al-Qur’an) itu bukanlah perkataan setan yang terkutuk."
Makna & Renungan Singkat
Dan Al-Qur’an itu bukanlah perkataan setan yang terkutuk. Ada perbedaan nyata antara Al-Qur’an dan perkataan setan. Al-Qur’an mengajarkan nilai-nilai kebenaran dan keadilan, sedangkan setan mengajak kepada kebatilan, kemaksiatan, dan kemungkaran.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Bagikan
26 81:26
فَاَيْنَ تَذْهَبُوْنَۗ
Fa aina tażhabūn(a).
"Maka, ke manakah kamu akan pergi?"
Makna & Renungan Singkat
Maka, ke manakah kamu akan pergi? Jalan mana yang akan kamu pilih untuk menemukan kebenaran? Tidak ada yang lebih terang daripada jalan yang dijelaskan oleh Al-Qur’an.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Bagikan
27 81:27
اِنْ هُوَ اِلَّا ذِكْرٌ لِّلْعٰلَمِيْنَۙ
In huwa illā żikrul lil-‘ālamīn(a).
"(Al-Qur’an) itu tidak lain, kecuali peringatan bagi semesta alam,"
Makna & Renungan Singkat
Al-Qur’an itu tidak lain adalah peringatan bagi seluruh alam. Al-Qur’an menjelaskan segala sesuatu untuk kebaikan manusia, baik urusan dunia maupun akhirat; mereka yang berbuat baik akan mendapat pahala dan surga, dan yang berbuat jahat akan mendapat dosa dan neraka.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Bagikan
28 81:28
لِمَنْ شَاۤءَ مِنْكُمْ اَنْ يَّسْتَقِيْمَۗ
Liman syā'a minkum ay yastaqīm(a).
"(yaitu) bagi siapa di antaramu yang hendak menempuh jalan yang lurus."
Makna & Renungan Singkat
Peringatan Al-Qur’an itu ditujukan bagi siapa di antara kamu yang menghendaki menempuh jalan yang lurus, yaitu agama Islam, dan beristikamah dalam mengamalkan ajarannya.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Bagikan
29 81:29
وَمَا تَشَاۤءُوْنَ اِلَّآ اَنْ يَّشَاۤءَ اللّٰهُ رَبُّ الْعٰلَمِيْنَ ࣖ
Wa mā tasyā'ūna illā ay yasyā'allāhu rabbul-‘ālamīn(a).
"Kamu tidak dapat berkehendak, kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam."
Makna & Renungan Singkat
Hanya saja, keinginan seseorang untuk berbuat sesuatu tidak akan terlaksana kecuali jika Allah menghendaki. Dan kamu tidak dapat menghendaki menempuh jalan itu kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan seluruh alam.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Bagikan