Murottal Lengkap Surat Taha Misyari Rasyid Al-Afasi
Dengarkan lantunan merdu seluruh ayat Surat Taha secara berkesinambungan.
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
20:1
طٰهٰ ۚ
Ṭāhā.
"Ṭā Hā."
Makna & Renungan Singkat
Bila surah sebelumnya ditutup dengan berita kebinasaan umat terdahulu karena kedurhakaan mereka, surah ini diawali dengan penjelasan bahwa Al-Qur’an turun untuk kebaikan, bukan kesusahan, bagi umat. Taha.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu (Nabi Muhammad) supaya engkau menjadi susah."
Makna & Renungan Singkat
Wahai Nabi Muhammad, Kami, yakni Allah melalui Jibril, tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu agar engkau menjadi susah akibat ditolak dan dimusuhi kaummu atau dituntut untuk melaksanakan kewajiban di luar batas kemampuanmu.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"(Al-Qur’an) diturunkan dari (Allah) yang telah menciptakan bumi dan langit yang tinggi."
Makna & Renungan Singkat
Wahai Nabi, Al-Qur’an ini diturunkan kepadamu dari Allah Yang Mahaagung yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi. Kandungannya merupakan petunjuk bagi mereka yang mau meyakini.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"(Dialah Allah) Yang Maha Pengasih (dan) bersemayam di atas ʻArasy."
Makna & Renungan Singkat
Tuhan yang menurunkan Al-Qur’an ini adalah Yang Maha Pengasih terhadap semua makhuk tanpa terkecuali; yang bersemayam di atas ‘Arsy untuk mengatur semua urusan makhluk-Nya.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Lahū mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍi wa mā bainahumā wa mā taḥtaṡ-ṡarā.
"Milik-Nyalah apa yang ada di langit, apa yang ada di bumi, apa yang ada di antara keduanya, dan apa yang ada di bawah tanah."
Makna & Renungan Singkat
Allah adalah Pencipta semua yang ada, karena itu milik-Nya lah apa saja yang ada di langit seperti matahari, bulan, dan planet, serta apa saja yang ada di bumi seperti tumbuhan, hewan, dan manusia, apa saja yang ada di antara keduanya seperti awan, dan apa saja yang ada di bawah tanah, seperti bahan tambang dan sumber mineral.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Wa in tajhar bil-qauli fa innahū ya‘lamus-sirra wa akhfā.
"Jika engkau mengeraskan ucapanmu, sesungguhnya Dia mengetahui (ucapan yang) rahasia dan yang lebih tersembunyi (darinya)."
Makna & Renungan Singkat
Dia mengetahui apa saja yang terjadi di alam semesta. Dan jika engkau mengeraskan ucapanmu saat menyampaikan sesuatu, sungguh Dia mengetahui apa yang engkau ucapkan. Dia juga mengetahui apa saja yang rahasia atau yang sengaja kausembunyikan dalam hatimu, dan apa saja yang lebih tersembunyi, yang tidak kausadari dan tidak kauketahui lagi setelah lama mengendap di dasar hatimu.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"Apakah telah sampai kepadamu (Nabi Muhammad) kisah Musa?"
Makna & Renungan Singkat
Usai menjelaskan keagungan Al-Qur’an dan tugas berat yang diamanahkan kepada Rasulullah, pada ayat-ayat berikut Allah menguraikan kisah Nabi Musa yang juga diberi amanah berat, yaitu berdakwah kepada Fir‘aun yang sangat ingkar. Kisah ini dimaksudkan untuk menguatkan Nabi Muhammad dalam berdakwah. Dan apakah telah sampai kepadamu, wahai Nabi Muhammad, kisah Musa saat akan menerima tugas kerasulan?
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Iż ra'ā nāran fa qāla li'ahlihimkuṡū innī ānastu nāral la‘allī ātīkum minhā biqabasin au ajidu ‘alan-nāri hudā(n).
"(Ingatlah) ketika dia (Musa) melihat api, lalu berkata kepada keluarganya, “Tinggallah (di sini)! Sesungguhnya aku melihat api. Mudah-mudahan aku dapat membawa sedikit nyala api kepadamu atau mendapat petunjuk di tempat api itu.”"
Makna & Renungan Singkat
Ketika dalam perjalanan menuju Mesir, dia melihat api yang menyala terang, lalu dia berkata kepada keluarganya yang menyertainya dalam perjalanan itu,“Tinggallah kamu di sini sampai aku kembali. Sesungguhnya aku melihat api. Mudah-mudahan aku dapat membawa sedikit nyala api kepadamu agar kita dapat menghangatkan badan pada malam yang dingin ini, atau aku akan mendapat petunjuk dari seseorang yang ada di sekitar tempat api itu.”
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"Ketika mendatanginya (tempat api), dia (Musa) dipanggil, “Wahai Musa."
Makna & Renungan Singkat
Usai berpesan kepada keluarganya, maka Musa berjalan mendekati api itu. Ketika dia mendatanginya, tiba-tiba dia dipanggil oleh suara yang berasal dari arah api itu, “Wahai Musa!”
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Innī ana rabbuka fakhla‘ na‘laika innaka bil-wādil-muqaddasi ṭuwā(n).
"Sesungguhnya Aku adalah Tuhanmu. Lepaskanlah kedua terompahmu karena sesungguhnya engkau berada di lembah yang suci, yaitu Tuwa."
Makna & Renungan Singkat
“Sungguh, Aku yang memanggilmu adalah Tuhanmu yang memelihara dan membimbingmu. Maka, sebagai penghormatan, hendaknya engkau lepaskan kedua terompahmu karena saat ini sesungguhnya engkau berada di lembah yang suci, Tuwa.”
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"Aku telah memilihmu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu)."
Makna & Renungan Singkat
Begitu Musa melepas terompahnya, Allah berfirman, “Dan ketahuilah, wahai Musa, sesungguhnya Aku telah memilih engkau sebagai nabi dan rasul untuk memberi peringatan kepada mereka yang ingkar. Maka, dengarkanlah apa yang akan diwahyukan kepadamu, lalu laksanakanlah untuk memberi pengajaran kepada kaummu.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Innanī anallāhu lā ilāha illā ana fa‘budnī, wa aqimiṣ-ṣalāta liżikrī.
"Sesungguhnya Aku adalah Allah, tidak ada tuhan selain Aku. Maka, sembahlah Aku dan tegakkanlah salat untuk mengingat-Ku."
Makna & Renungan Singkat
Wahai Musa, ketahuilah sesungguhnya Aku ini adalah Allah, Tuhanmu, dan sungguh tidak ada tuhan pencipta alam raya yang layak disembah selain Aku, maka berimanlah kepada-Ku, sembahlah Aku, dan laksanakanlah salat untuk mengingat-Ku dan bersyukur kepada-Ku.” Inilah prinsip pertama akidah, yaitu keesaan Tuhan.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"Sesungguhnya hari Kiamat itu (pasti) akan datang. Aku hampir (benar-benar) menyembunyikannya. (Kedatangannya itu dimaksudkan) agar setiap jiwa dibalas sesuai dengan apa yang telah dia usahakan."
Makna & Renungan Singkat
Allah lalu menyusuli dengan prinsip berikutnya, yaitu keniscayaan kiamat. "Sungguh, hari kiamat itu akan datang tanpa ada keraguan sedikit pun tentangnya, namun Aku merahasiakan waktu kedatangannya. Karena itu, siapkanlah dirimu untuk menghadapinya. Hari kiamat itu merupakan suatu keniscayaan agar setiap orang yang mukalaf dibalas sesuai dengan apa yang telah dia usahakan dalam kehidupannya di dunia ini.”
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Falā yaṣuddannaka ‘anhā mal lā yu'minu bihā wattaba‘a hawāhu fa tardā.
"Janganlah engkau dipalingkan darinya (iman pada hari Kiamat) oleh orang yang tidak beriman padanya dan mengikuti hawa nafsunya sehingga engkau binasa."
Makna & Renungan Singkat
Maka setelah engkau mengetahui keniscayaan kiamat, janganlah sekali-kali engkau dipalingkan dari-nya oleh orang yang tidak beriman kepadanya dan oleh orang yang mengikuti keinginannya, sehingga engkau menjadi lengah dan tidak siap menghadapinya. Ketahuilah, jika engkau dipalingkan, hal itulah yang menyebabkan engkau binasa.”
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Qāla hiya ‘aṣāy(a), atwakka'u ‘alaihā wa ahusysyu bihā ‘alā ganamī wa liya fīhā ma'āribu ukhrā.
"(Musa) berkata, “Ia adalah tongkatku. Aku (dapat) bersandar padanya, merontokkan (daun-daun) dengannya untuk (makanan) kambingku, dan memiliki keperluan lain padanya.”"
Makna & Renungan Singkat
Dia berkata, “Ini adalah tongkatku. Aku bertumpu padanya saat letih atau ingin bersandar, dan aku merontokkan daun dari ranting-ranting pohon dengannya untuk pakan kambingku atau menghalaunya pergi dan pulang kandang. Dan selain itu, bagiku masih ada lagi manfaat yang lain dari tongkat ini.”
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"Maka, dia (Musa) melemparkannya. Tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat."
Makna & Renungan Singkat
Tanpa menunggu lama, selanjutnya Nabi Musa segera melemparkan tongkat itu ke tanah, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap ke sana ke mari dengan cepat.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Qāla khużhā wa lā takhaf, sanu‘īduhā sīratahal-ūlā.
"Dia (Allah) berfirman, “Ambillah dan jangan takut! Kami akan mengembalikannya pada keadaannya semula."
Makna & Renungan Singkat
Melihat perubahan wujud tongkatnya menjadi ular, Nabi Musa merasa takut. Dia berfirman untuk menenangkan hati Nabi Musa, “Wahai Musa, peganglah ia. Ambillah ular itu dan jangan takut. Kami akan mengembalikan wujud-nya kepada keadaannya semula, dari ular menjadi tongkat kembali.”
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"Kepitlah (telapak) tanganmu ke ketiakmu, niscaya ia akan keluar dalam keadaan putih (bercahaya) tanpa cacat sebagai mukjizat yang lain."
Makna & Renungan Singkat
Allah juga memberi Nabi Musa mukjizat yang lain. Dia berfirman, “Dan kepitlah tangan kanan-mu melalui leher bajumu ke ketiak kiri-mu, kemudian tariklah keluar, niscaya ia keluar menjadi putih cemerlang dan bercahaya tanpa cacat, bagai sinar matahari yang benderang. Kami berikan itu kepadamu sebagai mukjizat yang lain, selain tongkat yang berubah menjadi ular.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"(Kami perintahkan itu) untuk memperlihatkan kepadamu sebagian tanda-tanda kebesaran Kami yang terbesar."
Makna & Renungan Singkat
Wahai Nabi Musa, kedua mukjizat Kami anugerahkan untuk Kami perlihatkan kepadamu sebagian dari tanda-tanda kebesaran Kami yang sangat besar. Kami juga menjadikan keduanya sebagai penguat hatimu dalam berdakwah.”
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"Pergilah kepada Fir‘aun! Sesungguhnya dia telah melampaui batas.”"
Makna & Renungan Singkat
Usai membekali Nabi Musa dengan dua mukjizat, Allah memerintahnya untuk berdakwah. Wahai Nabi Musa, pergilah kepada Fir‘aun. Sesungguhnya dia benar-benar telah melampaui batas dalam kedurhakaannya kepada-Ku dan kesewenangan terhadap sesama manusia.”
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Nabi Musa menyadari betapa berat tugas yang Allah amanahkan kepadanya. Dia memohon kepada-Nya seraya berkata, “Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku sehingga jiwaku mampu menanggung tantangan tugasku, dan mudahkanlah untukku urusanku sehingga dakwahku tidak menemui kesulitan, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku yang menghalangi kelancaranku dalam menyampaikan pesan-Mu agar mereka mengerti perkataanku dengan baik. ”
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Nabi Musa menyadari betapa berat tugas yang Allah amanahkan kepadanya. Dia memohon kepada-Nya seraya berkata, “Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku sehingga jiwaku mampu menanggung tantangan tugasku, dan mudahkanlah untukku urusanku sehingga dakwahku tidak menemui kesulitan, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku yang menghalangi kelancaranku dalam menyampaikan pesan-Mu agar mereka mengerti perkataanku dengan baik. ”
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Nabi Musa menyadari betapa berat tugas yang Allah amanahkan kepadanya. Dia memohon kepada-Nya seraya berkata, “Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku sehingga jiwaku mampu menanggung tantangan tugasku, dan mudahkanlah untukku urusanku sehingga dakwahku tidak menemui kesulitan, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku yang menghalangi kelancaranku dalam menyampaikan pesan-Mu agar mereka mengerti perkataanku dengan baik. ”
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Nabi Musa menyadari betapa berat tugas yang Allah amanahkan kepadanya. Dia memohon kepada-Nya seraya berkata, “Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku sehingga jiwaku mampu menanggung tantangan tugasku, dan mudahkanlah untukku urusanku sehingga dakwahku tidak menemui kesulitan, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku yang menghalangi kelancaranku dalam menyampaikan pesan-Mu agar mereka mengerti perkataanku dengan baik. ”
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"Jadikanlah untukku seorang penolong dari keluargaku,"
Makna & Renungan Singkat
Sesudah memohon penyempurnaan dirinya, Nabi Musa memohon pengukuhan diri melalui keluarganya. Dia berkata, “Wahai Tuhanku, dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku guna meringankan tugasku menyampaikan risalah-Mu. Aku berharap Engkau mengangkat Harun, saudaraku, sebagai penyokongku. Teguhkanlah kekuatanku dalam berdakwah dengan adanya dia di sampingku, dan jadikanlah dia teman dalam urusanku menyampaikan risalah kepada Fir‘aun dan kaumnya.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Sesudah memohon penyempurnaan dirinya, Nabi Musa memohon pengukuhan diri melalui keluarganya. Dia berkata, “Wahai Tuhanku, dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku guna meringankan tugasku menyampaikan risalah-Mu. Aku berharap Engkau mengangkat Harun, saudaraku, sebagai penyokongku. Teguhkanlah kekuatanku dalam berdakwah dengan adanya dia di sampingku, dan jadikanlah dia teman dalam urusanku menyampaikan risalah kepada Fir‘aun dan kaumnya.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Sesudah memohon penyempurnaan dirinya, Nabi Musa memohon pengukuhan diri melalui keluarganya. Dia berkata, “Wahai Tuhanku, dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku guna meringankan tugasku menyampaikan risalah-Mu. Aku berharap Engkau mengangkat Harun, saudaraku, sebagai penyokongku. Teguhkanlah kekuatanku dalam berdakwah dengan adanya dia di sampingku, dan jadikanlah dia teman dalam urusanku menyampaikan risalah kepada Fir‘aun dan kaumnya.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Sesudah memohon penyempurnaan dirinya, Nabi Musa memohon pengukuhan diri melalui keluarganya. Dia berkata, “Wahai Tuhanku, dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku guna meringankan tugasku menyampaikan risalah-Mu. Aku berharap Engkau mengangkat Harun, saudaraku, sebagai penyokongku. Teguhkanlah kekuatanku dalam berdakwah dengan adanya dia di sampingku, dan jadikanlah dia teman dalam urusanku menyampaikan risalah kepada Fir‘aun dan kaumnya.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Ya Allah, aku ajukan permohonan itu kepada-Mu agar kami banyak bertasbih kepada-Mu, menyucikan-Mu dari segala hal yang tidak layak bagi-Mu, dan banyak mengingat-Mu atas anugerah dan nikmat yang Engkau limpahkan kepada kami. Sesungguhnya Engkau Maha Melihat dan Mengetahui keadaan kami.”
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Ya Allah, aku ajukan permohonan itu kepada-Mu agar kami banyak bertasbih kepada-Mu, menyucikan-Mu dari segala hal yang tidak layak bagi-Mu, dan banyak mengingat-Mu atas anugerah dan nikmat yang Engkau limpahkan kepada kami. Sesungguhnya Engkau Maha Melihat dan Mengetahui keadaan kami.”
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"Sesungguhnya Engkau Maha Melihat (keadaan) kami.”"
Makna & Renungan Singkat
Ya Allah, aku ajukan permohonan itu kepada-Mu agar kami banyak bertasbih kepada-Mu, menyucikan-Mu dari segala hal yang tidak layak bagi-Mu, dan banyak mengingat-Mu atas anugerah dan nikmat yang Engkau limpahkan kepada kami. Sesungguhnya Engkau Maha Melihat dan Mengetahui keadaan kami.”
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"(Allah) berfirman, “Sungguh, telah diperkenankan permintaanmu, wahai Musa."
Makna & Renungan Singkat
Mengabulkan permohonan Nabi Musa, Dia berfirman, “Sungguh, telah diperkenankan semua permintaanmu itu, wahai Musa. Terimalah anugerah besar Kami itu kepadamu.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"Sungguh, Kami benar-benar telah memberikan nikmat kepadamu pada kesempatan yang lain (sebelum ini),"
Makna & Renungan Singkat
Dan wahai Musa, ketahuilah bahwa sesungguhnya tanpa engkau minta pun, Kami telah memberi nikmat kepadamu pada kesempatan yang lain sebelum ini, yaitu ketika Kami mengilhamkan kepada ibumu sesudah kelahiranmu sesuatu yang diilhamkan, yaitu cara menyelamatkanmu dari rencana keji Fir‘aun.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"(yaitu) ketika Kami mengilhamkan kepada ibumu sesuatu yang diilhamkan."
Makna & Renungan Singkat
Dan wahai Musa, ketahuilah bahwa sesungguhnya tanpa engkau minta pun, Kami telah memberi nikmat kepadamu pada kesempatan yang lain sebelum ini, yaitu ketika Kami mengilhamkan kepada ibumu sesudah kelahiranmu sesuatu yang diilhamkan, yaitu cara menyelamatkanmu dari rencana keji Fir‘aun.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Aniqżifīhi fit-tābūti faqżifīhi fil-yammi falyulqihil-yammu bis-sāḥili ya'khużhu ‘aduwwul lī wa ‘aduwwul lah(ū), wa alqaitu ‘alaika maḥabbatam minnī, wa lituṣna‘a ‘alā ‘ainī.
"(Ilham itu adalah perintah Kami kepada ibumu,) ‘Letakkanlah dia (Musa) di dalam peti, kemudian hanyutkanlah dia ke sungai (Nil). Maka, biarlah (arus) sungai itu membawanya ke tepi. Dia akan diambil oleh (Fir‘aun) musuh-Ku dan musuhnya.’ Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang dari-Ku dan agar engkau diasuh di bawah pengawasan-Ku."
Makna & Renungan Singkat
Kami ilhamkan kepada ibumu, ‘Letakkanlah dia, yaitu bayi Musa, di dalam peti, kemudian hanyutkanlah dia ke sungai Nil yang mengalir tidak begitu deras. Ketika arus menghanyutkannya, maka biarlah aliran air sungai itu membawanya ke tepi sungai yang melewati istana Fir‘aun. Ketika saat itu tiba, dia akan diambil oleh Fir‘aun, penguasa Mesir yang merupakan musuh-Ku dan musuhnya.’ Wahai Nabi Musa, ketahuilah bahwa Aku telah melimpahkan kepadamu begitu banyak kasih sayang yang datang dari-Ku sehingga siapa saja yang memandangmu akan tertarik dan menyayangimu. Kami anugerahkan itu semua kepadamu untuk kebaikanmu dan agar engkau diasuh dengan cara terhormat di bawah pengawasan-Ku.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Iż tamsyī ukhtuka fa taqūlu hal adullukum ‘alā may yakfuluh(ū), fa raja‘nāka ilā ummika kai taqarra ‘ainuhā wa lā taḥzan(a), wa qatalta nafsan fa najjaināka minal-gammi wa fatannāka futūnā(n), fa labiṡta sinīna fī ahli madyan(a), ṡumma ji'ta ‘alā qadariy yā mūsā.
"Ketika saudara perempuanmu berjalan (untuk mengawasi dan mengetahui berita), dia berkata (kepada keluarga Fir‘aun), ‘Bolehkah saya menunjukkan kepadamu orang yang akan memeliharanya?’ Maka, Kami mengembalikanmu kepada ibumu agar senang hatinya dan tidak bersedih. Engkau pernah membunuh seseorang (tanpa sengaja) lalu Kami selamatkan engkau dari kesulitan (yang besar) dan Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan (yang berat). Lalu, engkau tinggal beberapa tahun di antara penduduk Madyan, kemudian engkau, wahai Musa, datang menurut waktu yang ditetapkan."
Makna & Renungan Singkat
Wahai Nabi Musa, ingatlah ketika saudara perempuanmu berjalan di sekitar istana tempat engkau berada setelah dipungut dari sungai, untuk mencari berita tentang dirimu. Ketika ia tahu engkau enggan menyusu, lalu dia berkata kepada keluarga Fir‘aun, ‘Bolehkah saya menunjukkan kepadamu orang yang akan menyusui dan memeliharanya?’ Mereka setuju, lalu saudaramu mengajak ibumu untuk menyusuimu. Maka, Kami mengembalikanmu kepada ibumu agar senang hatinya karena dapat memeliharamu dan tidak bersedih hati karena jauh darimu. Dan ingatlah wahai Nabi Musa pada anugerah Kami yang lain, yaitu ketika engkau setelah menginjak dewasa pernah membunuh seseorang dari penduduk Mesir, lalu Kami selamatkan engkau dari kesulitan yang menimpamu akibat pembunuhan itu. Kami keluarkan engkau dari Mesir dan Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan yang berat di tempat tinggalmu yang baru. Dengan rahmat Kami engkau berhasil mengatasinya, lalu engkau tinggal beberapa tahun di antara penduduk Madyan dan menjadi menantu Nabi Syuaib. Kemudian saat ini engkau, wahai Nabi Musa, datang ke tempat ini menurut waktu yang telah ditetapkan oleh Allah.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Dan ketahuilah, wahai Nabi Musa, sungguh Aku telah memilihmu, memeliharamu, dan mempersiapkanmu untuk diri-Ku. Aku jadikan engkau nabi dan rasul-Ku untuk menyampaikan risalah-Ku kepada umatmu.”
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Iżhab anta wa akhūka bi'āyātī wa lā taniyā fī żikrī.
"Pergilah engkau beserta saudaramu dengan (membawa) tanda-tanda (kekuasaan)-Ku dan janganlah kamu berdua lalai dalam mengingat-Ku."
Makna & Renungan Singkat
Allah melanjutkan perintah-Nya kepada Nabi Musa, “Wahai Nabi Musa, pergilah engkau beserta saudaramu, Harun, dengan membawa tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran-Ku, yaitu mukjizat yang pernah engkau saksikan, dan janganlah kamu berdua lalai, bosan, dan enggan mengingat- Ku, baik dalam perjalanan atau saat berada di Mesir.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"Pergilah kamu berdua kepada Fir‘aun! Sesungguhnya dia telah melampaui batas."
Makna & Renungan Singkat
Wahai Nabi Musa dan Harun, pergilah kamu berdua kepada Fir‘aun yang sombong itu dengan bekal mukjizat dari-Ku karena dia benar-benar telah melampaui batas dalam kedurhakannya. Begitu berhadapan dengannya, maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut. Ajaklah dia beriman kepada Allah dan serulah pada kebenaran dengan cara yang baik. Mudah-mudahan dengan cara demikian dia menjadi sadar atau takut pada azab Allah bila terus durhaka.”
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Fa qūlā lahū qaulal layyinal la‘allahū yatażakkaru au yakhsyā.
"Berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir‘aun) dengan perkataan yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut.”"
Makna & Renungan Singkat
Wahai Nabi Musa dan Harun, pergilah kamu berdua kepada Fir‘aun yang sombong itu dengan bekal mukjizat dari-Ku karena dia benar-benar telah melampaui batas dalam kedurhakannya. Begitu berhadapan dengannya, maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut. Ajaklah dia beriman kepada Allah dan serulah pada kebenaran dengan cara yang baik. Mudah-mudahan dengan cara demikian dia menjadi sadar atau takut pada azab Allah bila terus durhaka.”
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Qālā rabbanā innanā nakhāfu ay yafruṭa ‘alainā au ay yaṭgā.
"Keduanya berkata, “Wahai Tuhan kami, sesungguhnya kami khawatir dia akan segera menyiksa kami atau akan makin melampaui batas.”"
Makna & Renungan Singkat
Nabi Musa dan Harun tahu benar kekejaman dan kesombongan Fir‘aun. Karena itu, setelah mendengar perintah ini keduanya berkata, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami khawatir dia akan segera menyiksa kami sebelum kami selesai mengajaknya beriman kepada-Mu, atau dia justru akan bertambah melampaui batas, melebihi kedurhakaannya selama ini.”
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"Dia (Allah) berfirman, “Janganlah kamu berdua khawatir! Sesungguhnya Aku bersama kamu berdua. Aku mendengar dan melihat."
Makna & Renungan Singkat
Menenangkan Nabi Musa dan Harun, Dia berfirman, “Janganlah kamu berdua khawatir menghadapi Fir‘aun dan para pengikutnya. Sesungguhnya Aku selalu bersama kamu berdua. Aku akan melindungimu dan menolongmu. Aku mendengar ucapan dan ajakanmu serta mendengar pula apa pun yang dikatakan Fir‘aun. Dan Aku juga melihat apa yang kamu lakukan untuk menjalankan perintah-Ku serta melihat apa yang diperbuat oleh Fir‘aun.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Fa'tiyāhu fa qūlā innā rasūlā rabbika fa arsil ma‘anā banī isrā'īl(a), wa lā tu‘ażżibhum, qad ji'nāka bi'āyatim mir rabbik(a), was-salāmu ‘alā manittaba‘al-hudā.
"Maka, datanglah kamu berdua kepadanya (Fir‘aun) dan katakanlah, ‘Sesungguhnya kami berdua adalah utusan Tuhanmu. Lepaskanlah Bani Israil bersama kami dan janganlah engkau menyiksa mereka. Sungguh, kami datang kepadamu dengan membawa bukti (atas kerasulan kami) dari Tuhanmu. Keselamatan itu dilimpahkan kepada orang yang mengikuti petunjuk."
Makna & Renungan Singkat
Kamu berdua ada dalam lindungan-Ku, maka janganlah takut. Pergilah kamu berdua kepadanya dan katakanlah, ‘Sesungguhnya kami berdua adalah utusan Tuhanmu yang telah menganugerahkan beragam nikmat kepadamu, wahai Fir‘aun. Dia juga Tuhan kami dan Bani Israil. Kami mengajakmu beriman kepada-Nya, maka lepaskanlah Bani Israil bersama kami agar kita semua menyembah Allah dan tidak mempersekutukan-Nya, dan janganlah engkau menyiksa mereka seperti yang selama ini kaulakukan. Sesungguhnya kami datang kepadamu dengan membawa bukti nyata tentang risalah kami dari Tuhanmu, yakni berupa tongkat yang dapat berubah wujud menjadi ular dan tangan yang bersinar. Dan ketahuilah, wahai Fir‘aun, keselamatan itu akan dilimpahkan kepada orang yang mengikuti petunjuk Allah yang disampaikan oleh rasul-Nya.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Innā qad ūḥiya ilainā annal-‘ażāba ‘alā man każżaba wa tawallā.
"Sesungguhnya telah diwahyukan kepada kami bahwa siksa itu (ditimpakan) kepada siapa pun yang mendustakan (para rasul) dan berpaling (dari tuntunannya).’”"
Makna & Renungan Singkat
Kami tidak berdusta. Sesungguhnya telah diwahyukan kepada kami bahwa siksa Allah itu akan ditimpakan kepada siapa pun yang tidak beriman pada-Nya, mendustakan ajaran yang kami bawa, dan berpaling darinya serta enggan melaksanakannya.’”
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Fir‘aun ingin mendapat kejelasan tentang Allah, Tuhan Yang Mahakuasa tersebut. Dia berkata, “Siapakah Tuhanmu berdua yang mengutusmu untuk menyampaikan dakwah itu, wahai Musa?”
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"Dia (Musa) menjawab, “Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah menganugerahkan kepada segala sesuatu bentuk penciptaannya (yang layak), kemudian memberinya petunjuk.”"
Makna & Renungan Singkat
Nabi Musa menjawab, “Tuhan kita semua ialah Tuhan yang telah menciptakan semua makhluk dan memberikan bentuk kejadian kepada segala sesuatu di alam semesta ini, kemudian memberinya petunjuk dan potensi untuk dapat melakukan segala sesuatu sesuai fungsinya.”
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"Dia (Fir‘aun) bertanya, “Bagaimana keadaan generasi terdahulu?”"
Makna & Renungan Singkat
Mendengar jawaban Nabi Musa tentang kekuasaan Allah, Fir‘aun berkata, “Jadi, bagaimana keadaan umat-umat yang dahulu yang telah meninggal dunia, seperti kaum Nabi Nuh, Hud, dan Saleh, yang lebih dulu ingkar?”
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"Dia (Nabi Musa) menjawab, “Pengetahuan tentang itu ada pada Tuhanku di dalam sebuah Kitab (Lauhulmahfuz). Tuhanku tidak akan salah ataupun lupa."
Makna & Renungan Singkat
Nabi Musa menjawab pertanyaan Fir‘aun, “Pengetahuan tentang itu secara rinci hanya ada pada Tuhanku. Hanya Dia yang mengetahuinya. Semua hal yang berkaitan dengan makhluk tercatat di dalam sebuah Kitab, yaitu Lauh Mahfuz. Tuhanku tidak akan pernah salah ataupun lupa pada apa pun yang terjadi di alam semesta ini.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Al-lażī ja‘ala lakumul-arḍa mahdaw wa salaka lakum fīhā subulaw wa anzala minas-samā'i mā'ā(n), fa akhrajnā bihī azwājam min nabātin syattā.
"(Dialah Tuhan) yang telah menjadikan bumi sebagai hamparan dan meratakan jalan-jalan di atasnya bagimu serta menurunkan air (hujan) dari langit.” Kemudian, Kami menumbuhkan dengannya (air hujan itu) beraneka macam tumbuh-tumbuhan."
Makna & Renungan Singkat
Wahai Fir‘aun, Allah adalah Tuhan yang telah menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu, juga bagi seluruh manusia, dan menjadikan jalan-jalan yang rata dan lebar di atasnya bagimu agar kamu mudah bepergian, dan Dia pula yang menurunkan air hujan dari langit untuk menyuburkan tanah di sekitarmu.” Allah beralih menggunakan kalimat langsung dari- Nya, “Kemudian, Kami tumbuhkan dengannya, yakni dengan air hujan itu, berjenis-jenis tumbuh-tumbuhan dengan beragam bentuk, rasa, dan kegunaan.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"Makanlah dan gembalakanlah hewan-hewanmu! Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berakal."
Makna & Renungan Singkat
Kami telah menganugerahkan kepadamu berjenis-jenis tetumbuhan, maka makanlah dan gembalakanlah hewan-hewanmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang yang berakal.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Minhā khalaqnākum wa fīhā nu‘īdukum wa minhā nukhrijukum tāratan ukhrā.
"Darinya (tanah) itulah Kami menciptakanmu, kepadanyalah Kami akan mengembalikanmu dan dari sanalah Kami akan mengeluarkanmu pada waktu yang lain."
Makna & Renungan Singkat
Kami hamparkan tanah untuk kamu. Sesungguhnya darinya Kami menciptakan kamu, wahai Fir‘aun dan seluruh manusia, dan kepadanyalah Kami akan mengembalikan kamu setelah mati, dan dari sanalah pula Kami akan mengeluarkan kamu pada waktu yang lain, yaitu pada hari kebangkitan.”
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Wa laqad araināhu āyātinā kullahā fa każżaba wa abā.
"Sungguh Kami benar-benar telah memperlihatkan kepadanya (Fir‘aun) tanda-tanda (kebesaran) Kami semuanya. Namun, dia mendustakan dan enggan (menerima kebenaran)."
Makna & Renungan Singkat
Meski mendapat bukti nyata yang menguatkan dakwah Nabi Musa, Fir‘aun tetap enggan beriman. Dan sungguh, Kami telah memperlihatkan kepadanya tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Kami semuanya. Namun, ternyata dia keras kepala dan terus mendustakan dan enggan menerima kebenaran. Ia pun tidak mau patuh pada risalah yang disampaikan kepadanya.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Qāla aji'tanā litukhrijanā min arḍinā bisiḥrika yā mūsā.
"Dia (Fir‘aun) berkata, “Apakah engkau datang kepada kami untuk mengusir kami dari negeri kami dengan sihirmu, wahai Musa?"
Makna & Renungan Singkat
Kesombongan telah mendorong Fir‘aun mengabaikan peringatan Nabi Musa. Dia berkata, “Apakah engkau datang kepada kami untuk mengusir kami dari negeri kelahiran kami sendiri, yaitu Mesir, dengan sihirmu itu, wahai Musa?
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Fa lana'tiyannaka bisiḥrim miṡlihī faj‘al bainanā wa bainaka mau‘idal lā nukhlifuhū naḥnu wa lā anta makānan suwā(n).
"Kami pun pasti akan mendatangkan sihir semacam itu kepadamu. Buatlah suatu perjanjian antara kami dan engkau untuk (mengadakan) pertemuan yang tidak akan kami dan engkau langgar di suatu tempat pertengahan (antara kedua pihak).”"
Makna & Renungan Singkat
Bila itu tujuanmu, maka kami pun pasti akan mendatangkan sihir semacam itu kepadamu. Kami akan mengumpulkan para penyihir andal untuk mengalahkanmu. Maka, wahai Musa, buatlah suatu perjanjian untuk pertemuan antara kami dan engkau. Tentukanlah waktu dan tempat pertemuan itu. Mari kita buat kesepakatan yang kami tidak akan menyalahinya dan tidak pula engkau. Adakanlah pertemuan itu di suatu tempat yang terbuka sehingga tidak menyulitkan salah satu pihak dari kita atau orang-orang yang ingin menonton.”
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Qāla mau‘idukum yaumuz-zīnati wa ay yuḥsyaran-nāsu ḍuḥā(n).
"Dia (Musa) berkata, “Waktumu (untuk bertemu dengan kami) ialah hari raya dan hendaklah orang-orang dikumpulkan pada waktu duha.”"
Makna & Renungan Singkat
Nabi Musa tidak gentar menghadapi tantangan Fir‘aun. Dia berkata, “Kesepakatan yang menyangkut waktu untuk pertemuan kami dengan para penyihirmu itu ialah pada hari raya, di tempat kamu dan rakyatmu biasa berkumpul, dan hendaklah orang-orang dikumpulkan pada pagi hari supaya mereka dapat menyaksikan sejak awal.”
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"Maka, Fir‘aun meninggalkan (tempat itu), lalu mengatur tipu dayanya. Kemudian, dia datang kembali (pada waktu dan tempat yang disepakati)."
Makna & Renungan Singkat
Kesepakatan untuk mengadu mukjizat Musa dengan sihir para penyihir Fir‘aun terjalin. Maka Fir‘aun meninggalkan tempat pertemuan itu, lalu dengan segera dia mengatur tipu dayanya untuk mengalahkan Nabi Musa. Setelah waktu yang disepakati tiba, kemudian dia datang kembali bersama para penyihir dan orang-orang yang akan menyaksikan peristiwa tersebut.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Qāla lahum mūsā wailakum lā taftarū ‘alallāhi każiban fa yusḥitakum bi‘ażab(in), wa qad khāba maniftarā.
"Musa berkata kepada mereka (para penyihir), “Celakalah kamu! Janganlah kamu mengada-adakan kedustaan terhadap Allah, nanti Dia membinasakan kamu dengan azab. Sungguh rugi orang yang mengada-adakan kedustaan.”"
Makna & Renungan Singkat
Setelah berhadapan dengan para penyihir itu, Nabi Musa berkata kepada mereka, “Wahai para penyihir, celakalah kamu! Janganlah kamu mengada-adakan kedustaan terhadap Allah, seperti menuhankan Fir‘aun, meremehkan rasul Allah, dan menganggap mukjizatku sebagai sihir. Ingatlah, nanti Dia akan membinasakan kamu dengan azab yang sangat pedih.” Dan sungguh, akan rugi orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"Mereka berbantah-bantahan tentang urusannya dan merahasiakan percakapannya."
Makna & Renungan Singkat
Peringatan Nabi Musa membuat sebagian penyihir ketakutan, sementara sebagian yang lain tetap tidak acuh. Maka mereka pun berbantah- bantahan tentang urusan mereka. Masing-masing mengemukakan pendapatnya terkait peringatan Nabi Musa dan cara menghadapinya, dan mereka merahasiakan percakapan mereka agar Fir‘aun dan para pembesarnya tidak mendengarnya.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Qālū in hāżāni lasāḥirāni yurīdāni ay yukhrijākum min arḍikum bisiḥrihimā wa yażhabā biṭarīqatikumul-muṡlā.
"Mereka (para penyihir) berkata, “Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar penyihir yang hendak mengusirmu dari negerimu dengan sihir mereka berdua dan hendak melenyapkan adat kebiasaanmu yang utama."
Makna & Renungan Singkat
Sebagian dari mereka berkata, “Wahai penduduk Mesir, sesungguhnya dua orang ini, yaitu Nabi Musa dan Harun, adalah penyihir yang hendak mengusirmu dari Mesir, dari negerimu dan tanah kelahiranmu, dengan menampilkan sihir mereka berdua, dan mereka juga hendak melenyapkan adat kebiasaanmu yang utama dan kamu yakini, yaitu kepercayaan yang kamu anut dan kedudukan yang kamu nikmati.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Fa ajmi‘ū kaidakum ṡumma'tū ṣaffā(n), wa qad aflaḥal-yauma manista‘lā.
"Kumpulkanlah segala tipu daya (sihir)-mu, kemudian datanglah dalam satu barisan! Sungguh, beruntung orang yang menang pada hari ini.”"
Makna & Renungan Singkat
Karena itu, maka bersatulah menghadapi kedua orang itu. Kumpulkanlah segala tipu daya kamu, baik berupa sihir maupun yang lain, kemudian datanglah kamu semua dengan berbaris rapi dan kompak agar kita dapat mengalahkan mereka berdua, dan sesungguhnya beruntung orang yang menang pada hari ini, yaitu hari ketika kita dan mereka berdua unjuk keahlian masing-masing.”
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Qālū yā mūsā immā an tulqiya wa immā an nakūna awwala man alqā.
"Mereka (para penyihir) berkata, “Wahai Musa, apakah engkau yang melemparkan (dahulu) atau kami yang lebih dahulu melemparkannya?”"
Makna & Renungan Singkat
Begitu para penyihir berhadapan dengan Nabi Musa, mereka berkata, “Wahai Musa! Apakah engkau yang melemparkan lebih dulu untuk menun-jukkan kemampuanmu, atau kami yang lebih dahulu melemparkan?”
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Qāla bal alqū, fa iżā ḥibāluhum wa ‘iṣiyyuhum yukhayyalu ilaihi min siḥrihim annahā tas‘ā.
"Dia (Musa) berkata, “Silakan kamu melemparkan!” Tiba-tiba tali-temali dan tongkat-tongkat mereka terbayang olehnya (Musa) seakan-akan ia (ular-ular itu) merayap cepat karena sihir mereka."
Makna & Renungan Singkat
Dia berkata, “Silakan kamu melemparkan lebih dulu!” Para penyihir itu lantas melemparkan alat sihir mereka ke tengah arena, maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka terbayang olehnya seakan-akan menjadi ular yang merayap dengan cepat, karena sihir mereka.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"Kami berfirman, “Jangan takut! Sesungguhnya engkaulah yang paling unggul."
Makna & Renungan Singkat
Menenangkan hati Nabi Musa, Kami berfirman, “Wahai Nabi Musa, jangan takut pada ular-ular itu! Sungguh, engkaulah yang unggul dan akan menang dalam pertandingan ini.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Wa alqi mā fī yamīnika talqaf mā ṣana‘ū, innamā ṣana‘ū kaidu sāḥir(in), wa lā yufliḥus-sāḥiru ḥaiṡu atā.
"Lemparkan apa yang ada di tangan kananmu, niscaya ia akan menelan apa yang mereka buat. Sesungguhnya apa yang mereka buat itu hanyalah tipu daya penyihir (belaka). Tidak akan menang penyihir itu, dari mana pun ia datang.”"
Makna & Renungan Singkat
Dan lemparkan apa yang ada di tangan kananmu, yaitu tongkat yang biasa engkau pakai untuk menggembala kambing, niscaya ia akan menelan apa yang mereka buat, yakni ular-ular yang berasal dari sihir mereka. Ketahuilah, apa yang mereka buat itu hanyalah tipu daya penyihir belaka, dan tidak akan menang penyihir itu, dari mana pun ia datang.”
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Fa ulqiyas-saḥaratu sujjadan qālū āmannā birabbi hārūna wa mūsā.
"Lalu, para penyihir itu merunduk sujud seraya berkata, “Kami telah percaya kepada Tuhannya Harun dan Musa.”"
Makna & Renungan Singkat
Setelah melihat ular-ular hasil sihir mereka ditelan oleh ular yang berasal dari tongkat Nabi Musa, lalu para penyihir itu ditiarapkan oleh rasa takut pada Allah dan kagum pada kehebatan mukjizat Nabi Musa. Mereka segera merunduk bersujud kepada Tuhan Yang Maha Esa seraya berkata, “Kami telah percaya dan beriman kepada Tuhan Harun dan Musa.”
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Qāla āmantum lahū qabla an āżana lakum, innahū lakabīrukumul-lażī ‘allamakumus-siḥr(a), fa la'uqaṭṭi‘anna aidiyakum wa arjulakum min khilāfiw wa la'uṣallibannakum fī jużū‘in-nakhl(i), wa lata‘lamunna ayyunā asyaddu ‘ażābaw wa abqā.
"Dia (Fir‘aun) berkata, “Apakah kamu beriman kepadanya (Musa) sebelum aku memberi izin kepadamu? Sesungguhnya dia itu pemimpinmu yang mengajarkan sihir kepadamu. Sungguh, akan kupotong tangan-tangan dan kaki-kakimu secara bersilang dan sungguh, akan aku salib kamu pada pangkal pohon kurma. Sungguh, kamu pasti akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih keras dan lebih kekal siksaannya.”"
Makna & Renungan Singkat
Fir‘aun murka melihat kekalahan dan keimanan para penyihirnya. Dia berkata, “Wahai para penyihir, apakah kamu telah beriman kepadanya, yaitu kepada Nabi Musa, sebelum aku memberi izin kepadamu? Sesungguhnya dia itu pemimpinmu. Dia tidak lebih dari sekadar penyihir pandai yang mengajarkan sihir kepadamu. Dengan beriman, kamu telah melakukan makar dan melanggar janji setiamu kepadaku, maka sungguh, aku akan memotong tangan kanan dan kaki kiri kamu secara bersilang, dan sungguh akan aku salib kamu pada pangkal pohon kurma. Akan aku gantung tubuh-tubuhmu dan aku ikat kaki dan tanganmu di sana agar orang-orang tahu hukuman bagi orang yang melanggar perintahku. Dan sungguh, kamu pasti akan mengetahui siapa di antara kita, di antara aku dan Tuhan Nabi Musa, yang lebih pedih dan lebih kekal siksaannya.”
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"Mereka (para penyihir) berkata, “Kami tidak akan mengutamakanmu daripada bukti-bukti nyata (mukjizat) yang telah datang kepada kami (melalui Musa) dan daripada (Allah) yang telah menciptakan kami. Putuskanlah apa yang hendak engkau putuskan! Sesungguhnya engkau hanya dapat memutuskan (perkara) dalam kehidupan dunia ini."
Makna & Renungan Singkat
Para penyihir tidak takut pada ancaman Fir‘aun. Mereka berkata, “Wahai Fir‘aun, kami tidak akan memilih untuk lebih tunduk kepadamu daripada sebagian bukti-bukti nyata atau mukjizat yang telah datang kepada kami melalui Nabi Musa. Dan kami juga tidak akan mengutamakanmu sebagai sesembahan atas Allah yang telah menciptakan kami. Maka, putuskanlah yang hendak engkau putuskan dan lakukanlah apa saja yang ingin kaulakukan terhadap kami. Sesungguhnya engkau hanya dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini. Kekuasaanmu tidak akan berlanjut hingga akhirat nanti.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Innā āmannā birabbinā liyagfira lanā khaṭāyānā wa mā akrahtanā ‘alaihi minas-siḥr(i), wallāhu khairuw wa abqā.
"Sesungguhnya kami telah beriman kepada Tuhan kami agar Dia mengampuni semua kesalahan kami dan sihir yang telah engkau paksakan kepada kami. Allah lebih baik dan lebih kekal.”"
Makna & Renungan Singkat
Wahai Fir‘aun, kami benar-benar telah beriman dan akan memegang teguh kepercayaan kami kepada Tuhan Pencipta kami yang selama ini kami durhakai dan ingkari. Kami beriman dengan harapan agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami yang telah mempersekutukan-Nya dan mengampuni dosa kami karena telah mempelajari dan mempraktikkan sihir yang telah engkau paksakan kepada kami. Dan Allah lebih baik pahala-Nya kepada orang yang taat daripada balasanmu kepada kami, dan Dia lebih kekal kekuasaan serta azab-Nya bagi pendurhaka dibanding siksamu.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Innahū may ya'ti rabbahū mujriman fa inna lahū jahannam(a), lā yamūtu fīhā wa lā yaḥyā.
"Sesungguhnya siapa yang datang kepada Tuhannya dalam keadaan berdosa, (disediakan) baginya (neraka) Jahanam. Dia tidak mati (sehingga terhindar dari azab) di dalamnya dan tidak (pula) hidup (dengan layak dan nyaman)."
Makna & Renungan Singkat
Sesungguhnya barang siapa meninggal dunia dan datang kepada Tuhannya dalam keadaan berdosa dan tidak bertobat, maka sungguh, baginya adalah neraka Jahanam. Dia tidak mati di dalamnya sehingga akan terus merasakan azab, dan tidak pula hidup dengan nyaman.” Demikianlah kondisi orang yang durhaka dan kafir.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Wa may ya'tihī mu'minan qad ‘amilaṣ-ṣāliḥāti fa ulā'ika lahumud-darajātul-‘ulā.
"Siapa yang datang kepada-Nya dalam keadaan beriman dan telah beramal saleh, mereka itulah orang-orang yang memperoleh derajat yang tinggi (mulia),"
Makna & Renungan Singkat
Tetapi, sebaliknya, barang siapa meninggal dunia dan datang kepada-Nya dalam keadaan beriman dan telah mengerjakan kebajikan sesuai tuntunan Allah dan rasul-Nya, maka mereka itulah orang yang memperoleh derajat yang tinggi dan mulia. Mereka akan mendapatkan surga-surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya, yaitu di antara pepohonannya, sungai-sungai. Mereka kekal selama-lamanya di dalamnya. Itulah balasan bagi orang yang menyucikan dan menjauhkan diri dari kekafiran dan kemungkaran.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Jannātu ‘adnin tajrī min taḥtihal-anhāru khālidīna fīhā, wa żālika jazā'u man tazakkā.
"(yaitu) surga-surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya. Itulah balasan bagi orang yang menyucikan diri."
Makna & Renungan Singkat
Tetapi, sebaliknya, barang siapa meninggal dunia dan datang kepada-Nya dalam keadaan beriman dan telah mengerjakan kebajikan sesuai tuntunan Allah dan rasul-Nya, maka mereka itulah orang yang memperoleh derajat yang tinggi dan mulia. Mereka akan mendapatkan surga-surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya, yaitu di antara pepohonannya, sungai-sungai. Mereka kekal selama-lamanya di dalamnya. Itulah balasan bagi orang yang menyucikan dan menjauhkan diri dari kekafiran dan kemungkaran.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Wa laqad auḥainā ilā mūsā an asri bi‘ibādī faḍrib lahum ṭarīqan fil-baḥri yabasā(n), lā takhāfu darakaw wa lā takhsyā.
"Sungguh, telah Kami wahyukan kepada Musa, “Pergilah bersama hamba-hamba-Ku (Bani Israil) pada malam hari dan pukullah laut itu untuk menjadi jalan yang kering bagi mereka tanpa rasa takut akan tersusul dan tanpa rasa khawatir (akan tenggelam).”"
Makna & Renungan Singkat
Nabi Musa berhasil mengalahkan para penyihir itu dan mengajak mereka beriman. Dan sungguh, telah Kami wahyukan kepada Musa suatu pesan berisi, “Tinggalkanlah Mesir. Pergilah bersama hamba-hamba-Ku, yaitu Bani Israil, pada malam hari, dan pukullah tongkatmu untuk menyediakan bagi mereka jalan yang kering di laut. Dengan kuasa Allah, terbentanglah jalan yang kering di laut sehingga engkau tidak perlu takut akan tersusul oleh Fir‘aun dan tentaranya, dan juga tidak perlu khawatir akan tenggelam di laut itu.”
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Fa atba‘ahum fir‘aunu bijunūdihī fa gasyiyahum minal-yammi mā gasyiyahum.
"Fir‘aun dengan bala tentaranya lalu mengejar mereka (Musa dan pengikutnya), tetapi mereka (Fir‘aun dengan bala tentaranya) digulung ombak laut (yang dahsyat) sehingga menenggelamkan mereka."
Makna & Renungan Singkat
Mengetahui Nabi Musa dan Bani Israil meninggalkan Mesir, kemudian Fir‘aun dengan bala tentaranya mengejar mereka melalui jalan kering di laut itu, tetapi sebelum berhasil menyusul Nabi Musa dan Bani Israil, mereka digulung ombak laut yang datang tiba-tiba dan kemudian menenggelamkan mereka. Itulah balasan bagi orang yang sesat dan durhaka kepada Tuhan.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Yā banī isrā'īla qad anjainākum min ‘aduwwikum wa wā‘adnākum jānibaṭ-ṭūril-aimana wa nazzalnā ‘alaikumul-mannā was-salwā.
"Wahai Bani Israil, sungguh Kami telah menyelamatkanmu dari musuhmu, mengadakan perjanjian denganmu (untuk bermunajat) di sebelah kanan gunung itu (gunung Sinai), dan menurunkan kepadamu manna dan salwa."
Makna & Renungan Singkat
Mengingatkan betapa besar nikmat-Nya kepada Bani Israil, Allah berfirman, “Wahai Bani Israil! Sungguh, Kami telah menyelamatkan kamu dari musuhmu, yaitu Fir‘aun dan tentaranya, dan Kami telah mengadakan perjanjian dengan kamu melalui Nabi Musa untuk bermunajat dan berada di tempat yang telah ditetapkan, yaitu di sebelah kanan gunung Sinai, dan Kami telah menurunkan kepada kamu mann dan salwa sebagai bahan akanan untuk kelangsungan hidupmu.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Kulū min ṭayyibāti mā razaqnākum, wa lā taṭgau fīhi fa yaḥilla ‘alaikum gaḍabī, wa may yaḥlil ‘alaihi gaḍabī faqad hawā.
"Makanlah sebagian yang baik-baik dari rezeki yang telah Kami anugerahkan kepadamu. Janganlah melampaui batas yang menyebabkan kemurkaan-Ku akan menimpamu. Siapa yang ditimpa kemurkaan-Ku, maka sungguh binasalah dia."
Makna & Renungan Singkat
Dengan semua anugerah itu, makanlah dari rezeki yang baik-baik yang telah Kami berikan kepadamu, yaitu mann dan salwa, dan janganlah melampaui batas. Jangan langgar tuntunan-Ku yang pada akhirnya menyebabkan kemurkaan-Ku akan menimpamu. Ketahuilah, barang siapa ditimpa kemurkaan-Ku, maka sungguh binasalah dia akibat siksa itu.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Wa innī lagaffārul liman tāba wa āmana wa ‘amila ṣāliḥan ṡummahtadā.
"Sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi yang bertobat, beriman, dan berbuat kebajikan, kemudian tetap dalam petunjuk."
Makna & Renungan Singkat
Dan sungguh, Aku Maha Pengampun bagi siapa saja yang bertobat dari kekafiran yang dilakukannya, dan beriman kepada-Ku serta selalu berbuat kebajikan sesuai tuntunan-Ku dan rasul-Ku, kemudian tetap konsisten dalam petunjuk dan teguh melaksanakannya.”
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"(Allah berfirman,) “Apa yang membuat engkau datang (ke gunung Sinai) lebih cepat sehingga meninggalkan kaummu, wahai Musa?”"
Makna & Renungan Singkat
Allah menegur Nabi Musa karena tergesa-gesa meninggalkan kaumnya. Mendapat janji Allah yang sangat menggembirakan itu, Nabi Musa bergegas menuju tempat yang ditetapkan sehingga Allah menegurnya, “Dan mengapa engkau datang lebih cepat daripada kaummu, wahai Musa? Bukanlah akan lebih baik bila engkau datang bersama mereka?”
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Qāla hum ulā'i ‘alā aṡarī wa ‘ajiltu ilaika rabbi litarḍā.
"(Musa) berkata, “Itu mereka sedang menyusulku dan aku bersegera kepada-Mu, ya Tuhanku, agar Engkau rida.”"
Makna & Renungan Singkat
Nabi Musa menduga Bani Israil mengikutinya di belakang. Dia berkata, “Itu mereka sedang menyusul aku. Tidak lama lagi mereka akan tiba. Dan aku bersegera datang kepada-Mu, Ya Tuhanku, agar Engkau rida dan memberiku restu-Mu.”
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Qāla fa innā qad fatannā qaumaka mim ba‘dika wa aḍallahumus-sāmiriyy(u).
"Dia (Allah) berfirman, “Sesungguhnya Kami benar-benar telah menguji kaummu setelah engkau tinggalkan dan Samiri telah menyesatkan mereka.”"
Makna & Renungan Singkat
Dia berfirman, “Begitu engkau pergi mendahului mereka, sungguh, Kami telah menguji kaummu setelah engkau tinggalkan mereka. Mereka gagal melalui ujian-Ku sehingga terjerumus dalam kesesatan dengan menyembah patung anak sapi. Dan mereka menjadi kafir karena telah disesatkan oleh Samiri.”
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Fa raja‘a mūsā ilā qaumihī gaḍbāna asifā(n), qāla yā qaumi alam ya‘idkum rabbukum wa‘dan ḥasanā(n), afaṭāla ‘alaikumul-‘ahdu am arattum ay yaḥilla ‘alaikum gaḍabum mir rabbikum fa akhlaftum mau‘idī.
"Lalu, Musa kembali kepada kaumnya dalam keadaan marah lagi sedih. Dia berkata, “Wahai kaumku, bukankah Tuhanmu telah menjanjikan kepadamu suatu janji yang baik? Apakah masa perjanjian itu terlalu lama bagimu atau kamu menghendaki agar kemurkaan Tuhan menimpamu sehingga kamu melanggar perjanjianmu denganku?”"
Makna & Renungan Singkat
Kemudian Nabi Musa kembali kepada kaumnya dengan marah karena menyaksikan mereka menyembah patung anak sapi. Dia marah dan bersedih hati karena kekafiran mereka setelah dia berusaha memberi mereka petunjuk. Dia berkata, “Wahai kaumku! Bukankah Tuhanmu telah menjanjikan kepadamu suatu janji yang baik bila kamu beriman, yaitu dengan menjamin keselamatanmu di dunia dan kebahagiaanmu di akhirat? Apakah terlalu lama masa perjanjian itu bagimu sehingga kamu tidak sabar dan akhirnya menyembah patung anak sapi ini, atau kamu memang sengaja menghendaki agar kemurkaan Tuhan menimpamu? Mengapa kamu melanggar perjanjianmu dengan aku yang telah kamu teguhkan sebelumnya?”
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Qālū mā akhlafnā mau‘idaka bimalkinā wa lākinnā ḥummilnā auzāram min zīnatil-qaumi fa qażafnāhā fa każālika alqas-sāmiriyy(u).
"Mereka berkata, “Kami tidak melanggar perjanjian (dengan)-mu atas kemauan kami sendiri. Akan tetapi, kami harus membawa beban berat berupa perhiasan kaum (Fir‘aun) itu. Kami kemudian melemparkannya (ke dalam perapian) dan demikian pula Samiri melemparkannya."
Makna & Renungan Singkat
Dengan penuh penyesalan mereka berkata, “Wahai Nabi Musa, kami memang bersalah, namun kami tidak melanggar perjanjianmu dengan kemauan kami sendiri, tetapi kami harus membawa beban berat ketika meninggalkan Mesir yang terdiri dari perhiasan kaum itu, yaitu orang-orang Mesir, kemudian kami melemparkannya ke dalam api, dan demikian pula Samiri melemparkannya ke api itu.”
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Fa akhraja lahum ‘ijlan jasadal lahū khuwārun fa qālū hāżā ilāhukum wa ilāhu mūsā, fa nasiy(a).
"(Dari perapian itu) kemudian dia (Samiri) mengeluarkan untuk mereka patung berwujud anak sapi yang bersuara. Mereka lalu berkata, “Inilah Tuhanmu dan Tuhan Musa, tetapi dia (Musa) telah lupa (bahwa Tuhannya di sini).”"
Makna & Renungan Singkat
Kemudian dia, yaitu Samiri, mengeluarkan dan menciptakan patung anak sapi yang bertubuh dan bersuara dari perhiasan itu untuk mereka, maka mereka berkata sambil menunjuk ke arah patung anak sapi itu, “Inilah Tuhanmu dan Tuhan Musa, tetapi dia pergi dan telah lupa bila Tuhannya ada di sini.”
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Afalā yarauna allā yarji‘u ilaihim qaulā(n), wa lā yamliku lahum ḍarraw wa lā naf‘ā(n).
"Maka, tidakkah mereka memperhatikan bahwa (patung anak sapi itu) tidak dapat memberi jawaban kepada mereka dan tidak kuasa menolak mudarat maupun mendatangkan manfaat kepada mereka?"
Makna & Renungan Singkat
Sikap mereka itu sungguh sangat buruk. Maka tidakkah mereka memperhatikan bahwa patung anak sapi itu tidak dapat memberi jawaban kepada mereka atas pertanyaan yang mereka ajukan dan tidak pula kuasa menolak mudarat yang menimpa mereka maupun mendatangkan manfaat yang diinginkan kepada mereka?
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Wa laqad qāla lahum hārūnu min qablu yā qaumi innamā futintum bih(ī), wa inna rabbakumur-raḥmānu fattabi‘ūnī wa aṭī‘ū amrī.
"Sungguh, sebelumnya Harun telah berkata kepada mereka, “Wahai kaumku, sesungguhnya kamu hanya diberi cobaan dengannya (patung anak sapi) dan sesungguhnya Tuhanmu ialah (Allah) Yang Maha Pengasih. Maka, ikutilah aku dan taatilah perintahku.”"
Makna & Renungan Singkat
Dan sungguh, sebelumnya, yaitu sebelum kepulangan Nabi Musa, Nabi Harun telah mengingatkan dan berkata kepada mereka yang menyembah patung anak sapi itu, “Wahai kaumku! Sesungguhnya kamu hanya sekadar diberi cobaan dengan patung anak sapi itu. Dan sungguh Tuhanmu yang hakiki ialah Allah Yang Maha Pengasih, maka ikutilah dengan sungguh-sungguh nasihat dan peringatan yang aku berikan kepadamu dan taatilah perintahku untuk beriman dan beribadah hanya kepada Tuhan Yang Maha Esa.”
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Qālū lan nabraḥa ‘alaihi ‘ākifīna ḥattā yarji‘a ilainā mūsā.
"Mereka menjawab, “Kami tidak akan meninggalkannya (patung anak sapi) (dan) tetap akan menyembahnya sampai Musa kembali kepada kami.”"
Makna & Renungan Singkat
Mereka tidak menghiraukan nasihat Nabi Harun seraya menjawab, “Sungguh, kami tidak akan meninggalkannya, yaitu patung anak sapi itu. Kami tetap akan menyembahnya sampai Musa kembali kepada kami.”
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"Dia (Musa) berkata, “Wahai Harun, apa yang menghalangimu, ketika engkau melihat mereka telah sesat,"
Makna & Renungan Singkat
Melihat kesesatan kaumnya, Nabi Musa marah dan menegur Nabi Harun karena dianggap tidak mampu memimpin Bani Israil dengan baik. Sambil memegang kepala dan janggut saudaranya itu, dia berkata, “Wahai Harun! Allah mengutusmu untuk membantuku. Apa yang menghalangimu untuk menegur ketika engkau melihat mereka telah sesat dengan menyembah patung anak sapi? Apa yang menyebabkan engkau tidak mengikuti aku dalam berdakwah dan mengajak mereka untuk mengesakan Allah? Apakah engkau telah sengaja melanggar perintahku sehingga engkau membiarkan mereka sesat?”
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"dari mengikuti (dan menyusul)-ku? Apakah engkau (sengaja) melanggar perintahku?”"
Makna & Renungan Singkat
Melihat kesesatan kaumnya, Nabi Musa marah dan menegur Nabi Harun karena dianggap tidak mampu memimpin Bani Israil dengan baik. Sambil memegang kepala dan janggut saudaranya itu, dia berkata, “Wahai Harun! Allah mengutusmu untuk membantuku. Apa yang menghalangimu untuk menegur ketika engkau melihat mereka telah sesat dengan menyembah patung anak sapi? Apa yang menyebabkan engkau tidak mengikuti aku dalam berdakwah dan mengajak mereka untuk mengesakan Allah? Apakah engkau telah sengaja melanggar perintahku sehingga engkau membiarkan mereka sesat?”
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Qāla yabna'umma lā ta'khuż biliḥyatī wa lā bira'sī, innī khasyītu an taqūla farraqta baina banī isrā'īla wa lam tarqub qaulī.
"Dia (Harun) menjawab, “Wahai putra ibuku, janganlah engkau tarik janggutku dan jangan (pula engkau jambak rambut) kepalaku. Sesungguhnya aku khawatir engkau akan berkata (kepadaku), ‘Engkau telah memecah belah Bani Israil dan tidak memelihara amanatku.’”"
Makna & Renungan Singkat
Menghadapi kemarahan Nabi Musa, dia dengan lembut menjawab, “Wahai putra ibuku! Jangan marah kepadaku. Janganlah engkau pegang janggutku dan jangan pula engkau tarik kepalaku. Aku sungguh khawatir bila bersikap keras kepada para penyembah patung anak sapi itu, akan terjadi pertumpahan darah di antara mereka. Ketika itu terjadi, pasti engkau akan berkata kepadaku, ‘Wahai Harun, engkau telah memecah belah antara Bani Israil dan engkau tidak memelihara amanatku untuk menggantikanku memimpin Bani Israil dan menjaga mereka dari kesesatan.’”
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"Dia (Musa) berkata, “Apa yang mendorongmu (berbuat demikian), wahai Samiri?”"
Makna & Renungan Singkat
Usai menegur Nabi Harun, Nabi Musa meluapkan kemarahannya kepada Samiri yang telah menyesatkan Bani Israil. Dia berkata, “Apakah yang mendorongmu menyesatkan Bani Israil dengan membuat patung anak sapi untuk disembah, wahai Samiri?”
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Qāla baṣurtu bimā lam yabṣurū bihī fa qabaḍtu qabḍatam min aṡarir-rasūli fa nabażtuhā wa każālika sawwalat lī nafsī.
"Dia (Samiri) menjawab, “Aku melihat sesuatu yang tidak mereka lihat. Kemudian, aku ambil segenggam (tanah) bekas jejak rasul (Jibril) lalu aku lemparkan (ke dalam mulut patung anak sapi). Demikianlah nafsuku membujukku.”"
Makna & Renungan Singkat
Mendapat pertanyaan dari Nabi Musa, dia menjawab, “Aku melihat dan mengetahui sesuatu yang tidak mereka ketahui. Aku melihat Jibril menunggang kuda ketika Bani Israil keluar dari laut dan Fir‘aun tenggelam. Jadi, aku ambil segenggam tanah dari jejak tapal kuda rasul itu, lalu aku melemparkannya ke arah perhiasan-perhiasan yang aku jadikan bahan membuat patung anak sapi itu hingga patung itu mampu mengeluarkan suara. Aku tahu mereka pernah memintamu untuk membuat Tuhan yang berjasad untuk mereka sembah, maka demikianlah nafsuku membujukku untuk menciptakan patung anak sapi ini sebagai tuhan mereka.”
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Qāla fażhab fa inna laka fil-ḥayāti an taqūla lā misās(a), wa inna laka mau‘idal lan tukhlafah(ū), wanẓur ilā ilāhikal-lażī ẓalta ‘alaihi ‘ākifā(n), lanuḥarriqannahū ṡumma lanansifannahū fil-yammi nasfā(n).
"Dia (Musa) berkata (kepada Samiri), “Pergilah kau! Sesungguhnya di dalam kehidupan (dunia) engkau (hanya dapat) mengatakan, ‘Jangan sentuh (aku).’ Engkau pasti mendapat (hukuman) yang telah dijanjikan (di akhirat) yang tidak akan dapat engkau hindari. Lihatlah tuhanmu itu yang tetap engkau sembah. Kami pasti akan membakarnya, kemudian sungguh kami akan menghamburkan (abu)-nya ke laut.”"
Makna & Renungan Singkat
Nabi Musa semakin marah usai mendengar jawaban Samiri. Dia berkata, “Wahai Samiri, pergilah kau! Maka sebagai hukuman atas perbuatanmu, sesungguhnya engkau akan dikucilkan di dalam kehidupan ini sehingga engkau akan selalu mengatakan kepada orang lain, ‘Janganlah menyentuh atau mendekatiku, sebagaimana aku tidak akan menyentuh atau mendekatimu.’ Dan selain itu engkau pasti akan mendapat hukuman di akhirat yang telah dijanjikan, yang tidak akan dapat engkau hindari. Dan lihatlah tuhanmu itu yang beberapa saat lalu engkau tetap bersikeras menyembahnya. Kami pasti akan membakarnya, kemudian sungguh kami akan menghamburkannya, yaitu abu sisa pembakarannya, ke dalam laut hingga bertebaran dan berserakan.”
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"Sesungguhnya Tuhanmu hanyalah Allah yang tidak ada tuhan selain Dia. Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu."
Makna & Renungan Singkat
Setelah memutuskan untuk membakar patung anak sapi itu, Nabi Musa berpidato di depan kaumnya, “Sungguh, Tuhanmu yang layak disembah itu hanyalah Allah Yang Esa. Tidak ada tuhan Pencipta dan Pengatur alam semesta selain Dia. Pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu yang ada di alam ini.”
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Każālika naquṣṣu ‘alaika min ambā'i mā sabaq(a), wa qad ātaināka mil ladunnā żikrā(n).
"Demikianlah Kami kisahkan kepadamu (Nabi Muhammad) sebagian kisah umat yang terdahulu dan sungguh, telah Kami anugerahkan kepadamu suatu peringatan (Al-Qur’an) dari sisi Kami."
Makna & Renungan Singkat
Wahai Nabi Muhammad, demikianlah Kami kisahkan kepadamu sebagian kisah umat yang telah lalu agar menjadi ibrah dan pelajaran bagi umatmu. Dan selain itu, sesungguhnya telah Kami berikan pula kepadamu dari sisi Kami suatu peringatan, yaitu Al-Qur’an, sebagai tuntunan dan petunjuk menuju kesejahteraan hidup mereka di dunia dan akhirat.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Man a‘raḍa ‘anhu fa innahū yaḥmilu yaumal-qiyāmati wizrā(n).
"Siapa yang berpaling darinya (Al-Qur’an), sesungguhnya dia akan memikul beban yang berat (dosa) pada hari Kiamat."
Makna & Renungan Singkat
Allah menegaskan bahwa Al-Qur’an merupakan tuntunan dan petunjuk bagi mereka yang menginginkan kebaikan dunia dan akhirat. Tuntunan dan petunjuk itu harus mereka ikuti dan pegang teguh. Barang siapa berpaling dari tuntunan dan petunjuk Al-Qur’an, maka sesungguhnya dia akan memikul dosa yang besar di hari kiamat yang akan menyebabkannya menerima azab.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Khālidīna fīh(i), wa sā'a lahum yaumal-qiyāmati ḥimlā(n).
"Mereka kekal di dalamnya. Sangat buruklah beban (dosa) itu bagi mereka pada hari Kiamat,"
Makna & Renungan Singkat
Mereka yang berpaling dari tuntunan Al-Qur’an itu akan kekal di dalam keadaan yang penuh penderitaan itu, dan ketahuilah bahwa amat buruklah dosa yang telah mereka lakukan itu. Keingkaran itu akan mereka bawa sebagai beban bagi mereka di hari kiamat.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Yauma yunfakhu fiṣ-ṣūri wa naḥsyurul-mujrimīna yauma'iżin zurqā(n).
"(yaitu) pada hari ketika sangkakala ditiup. Pada hari itu Kami kumpulkan para pendurhaka dengan (wajah) pucat (penuh ketakutan)."
Makna & Renungan Singkat
Hari kiamat itu adalah hari ketika ditiup sangkakala yang kedua kali sebagai pertanda dibangkitkannya seluruh manusia dari kubur, dan selanjutnya Kami akan mengumpulkan pada hari itu orang-orang yang berdosa dengan muka yang biru muram, menandakan kecemasan dan ketakutan mereka terhadap balasan atas keingkarannya.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Yatakhāfatūna bainahum il labiṡtum illā ‘asyrā(n).
"Mereka berbisik satu sama lain, “Kamu tinggal (di dunia) tidak lebih dari sepuluh (hari).”"
Makna & Renungan Singkat
Menunggu giliran untuk penimbangan amal perbuatan masing-masing, mereka saling berbisik-bisik di antara mereka untuk meringankan ketakutan dan kekalutan, “Kamu tidak berdiam di dunia melainkan hanyalah sepuluh hari, dan ini merupakan waktu yang sangat singkat.”
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Naḥnu a‘lamu bimā yaqūlūna iż yaqūlu amṡaluhum ṭarīqatan il labiṡtum illā yaumā(n).
"Kami lebih mengetahui apa yang akan mereka katakan, ketika orang yang paling lurus jalannya mengatakan, “Kamu tinggal (di dunia) tidak lebih dari sehari saja.”"
Makna & Renungan Singkat
Allah Maha Mendengar perkataan makhluk-Nya. Kami lebih mengetahui dari siapa saja tentang apa yang mereka katakan, walaupun dengan cara berbisik. Demikian pula ketika orang yang paling lurus jalannya diantara mereka, yaitu mereka yang ucapannya paling mendekati kebenaran, berkata, “Kamu tidak hidup dan tinggal di dunia melainkan hanyalah sehari saja.”
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Wa yas'alūnaka ‘anil-jibāli fa qul yansifuhā rabbī nasfā(n).
"Mereka bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang gunung-gunung, maka katakanlah, “Tuhanku akan menghancurkannya (pada hari Kiamat) sehancur-hancurnya,"
Makna & Renungan Singkat
Orang-orang yang mengingkari hari kiamat menyatakan keraguan mereka dengan bertanya tentang gunung-gunung yang kukuh. Dan mereka bertanya kepadamu, wahai Nabi Muhammad, tentang gunung- gunung di sekitar mereka. Maka katakanlah, “Tuhanku akan menghancurkannya sehancur-hancurnya di hari kiamat sehingga tidak ada satu pun yang masih utuh.”
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"kemudian Dia akan menjadikan (bekas gunung-gunung) itu dataran yang (terhampar) rata."
Makna & Renungan Singkat
Sesudah itu maka Dia akan menjadikan area bekas gunung-gunung itu datar sama sekali sehingga kondisinya berbeda dari sebelumnya. Pada saat itu permukaan bumi menjadi rata; tidak ada sedikit pun kamu lihat padanya tempat yang rendah karena adanya lembah, dan tidak pula tempat yang tinggi-tinggi karena adanya perbukitan.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"Engkau tidak akan melihat lagi dataran rendah dan dataran tinggi di sana.”"
Makna & Renungan Singkat
Sesudah itu maka Dia akan menjadikan area bekas gunung-gunung itu datar sama sekali sehingga kondisinya berbeda dari sebelumnya. Pada saat itu permukaan bumi menjadi rata; tidak ada sedikit pun kamu lihat padanya tempat yang rendah karena adanya lembah, dan tidak pula tempat yang tinggi-tinggi karena adanya perbukitan.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"Pada hari itu mereka mengikuti (panggilan) penyeru (Israfil) tanpa berbelok-belok. Semua suara tunduk merendah kepada Tuhan Yang Maha Pengasih, sehingga yang kamu dengar hanyalah bisik-bisik."
Makna & Renungan Singkat
Pada hari kiamat itu seluruh manusia bergerak mengikuti penyeru yang menggiring mereka ke satu arah dengan lurus, tidak berbelok-belok; semua begitu tenang dan khusyuk, dan merendahlah semua suara yang mengagungkan dan memohon kepada Tuhan yang Maha Pemurah, maka pada saat itu kamu tidak mendengar kecuali bisikan saja.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Yauma'iżil lā tanfa‘usy-syafā‘atu illā man ażina lahur-raḥmānu wa raḍiya lahū qaulā(n).
"Pada hari itu tidak berguna syafaat, kecuali dari orang yang telah diberi izin oleh Yang Maha Pengasih dan yang diridai perkataannya."
Makna & Renungan Singkat
Pada hari itu juga tidak berguna syafaat dan pertolongan orang tua, anak, atau kerabat, kecuali syafaat dari orang yang dicintai dan telah diberi izin oleh Tuhan Yang Maha Pengasih, dan orang itu juga telah Dia ridai perkataannya.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Ya‘lamu mā baina aidīhim wa mā khalfahum wa lā yuḥīṭūna bihī ‘ilmā(n).
"Dia (Allah) mengetahui apa yang di hadapan mereka (yang akan terjadi) dan apa yang di belakang mereka (yang telah terjadi), sedangkan ilmu mereka tidak dapat meliputi-Nya."
Makna & Renungan Singkat
Itulah Tuhan Yang Maha Pengasih. Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka, yaitu kehidupan duniawi, dan apa yang ada di belakang mereka, yaitu kondisi mereka di akhirat. Dia juga mengetahui apa saja yang belum terjadi, sedang ilmu mereka sangat terbatas sehingga tidak dapat meliputi ilmu-Nya yang serba terinci.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Wa ‘anatil-wujūhu lil-ḥayyil-qayyūm(i), wa qad khāba man ḥamala ẓulmā(n).
"Semua wajah tertunduk di hadapan (Allah) Yang Maha Hidup lagi Maha Mengurus. Sungguh rugi orang yang membawa kezaliman."
Makna & Renungan Singkat
Orang yang beriman mengakui keagungan Allah tersebut dan tunduklah semua muka dengan rendah diri kepada Tuhan yang hidup kekal lagi berdiri sendiri dalam mengurus makhluk-Nya. Sesungguhnya telah merugilah orang yang melakukan kezaliman dengan mengingkari petunjuk Allah dan tuntunan rasul-Nya.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Wa may ya‘mal minaṣ-ṣāliḥāti wa huwa mu'minun falā yakhāfu ẓulmaw wa lā haḍmā(n).
"Siapa yang mengerjakan kebajikan dan dia (dalam keadaan) beriman, maka dia tidak khawatir akan perlakuan zalim (terhadapnya) dan tidak (pula khawatir) akan pengurangan haknya."
Makna & Renungan Singkat
Dan siapa saja mengerjakan amal-amal yang saleh dengan niat tulus dan ia dalam keadaan beriman, maka dia tidak akan merasa khawatir akan perlakuan yang tidak adil terhadapnya dan tidak pula dia akan merasa takut terhadap pengurangan haknya sesuai apa yang telah ditetapkan dan dilakukannya.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Wa każālika anzalnāhu qur'ānan ‘arabiyyaw wa ṣarrafnā fīhi minal-wa‘īdi la‘allahum yattaqūna au yuḥdiṡu lahum żikrā(n).
"Demikianlah, Kami menurunkan Al-Qur’an dalam bahasa Arab dan Kami telah menjelaskan berulang-ulang di dalamnya sebagian dari ancaman agar mereka bertakwa atau agar (Al-Qur’an) itu memberi pengajaran bagi mereka."
Makna & Renungan Singkat
Al-Qur’an mengandung ancaman bagi orang kafir dan tuntunan bagi semua manusia. Dan demikianlah Kami menurunkan Al-Qur’an dalam bahasa Arab sebagai pengingat, dan Kami telah menerangkan pula dengan berulang kali di dalamnya sebagian dari ancaman yang telah disebutkan. Yang demikian ini dimaksudkan agar mereka bertakwa atau agar Al-Qur’an itu menimbulkan pengajaran bagi mereka yang membaca dan melaksanakan petunjuknya.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Fa ta‘ālallāhul-malikul-ḥaqq(u), wa lā ta‘jal bil-qur'āni min qabli ay yuqḍā ilaika waḥyuh(ū), wa qur rabbi zidnī ‘ilmā(n).
"Maha Tinggi Allah, Raja yang sebenar-benarnya. Janganlah engkau (Nabi Muhammad) tergesa-gesa (membaca) Al-Qur’an sebelum selesai pewahyuannya kepadamu dan katakanlah, “Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.”"
Makna & Renungan Singkat
Dengan semua sifat itu, maka sesungguhnya Mahatinggi Allah, Raja yang sebenar-benarnya. Dan karena itu, janganlah kamu, wahai Nabi Muhammad, tergesa-gesa membaca Al-Qur’an sebelum disempurnakan pewahyuannya kepadamu agar kamu tidak salah memahami dan mengajarkannya, dan katakanlah, “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan yang bermanfaat.”
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Wa laqad ‘ahidnā ilā ādama min qablu fa nasiya wa lam najid lahū ‘azmā(n).
"Sungguh telah Kami perintahkan Adam dahulu (agar tidak mendekati pohon keabadian), tetapi dia lupa dan Kami tidak mendapati padanya tekad yang kuat (untuk menjauhi larangan)."
Makna & Renungan Singkat
Ayat-ayat berikut mengisahkan peristiwa yang terjadi pada Adam dan pembangkangan Iblis terhadap perintah Allah. Kisah ini diawali dengan peringatan Allah atas tipu daya iblis. Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu untuk menjauhi iblis yang selalu berusaha menyesatkannya. Tetapi karena iblis pandai merayu maka dia lupa akan perintah itu. Dia lalu mengikuti ajakan iblis dan terjerumus sehingga melanggar larangan Allah. Dan saat itu tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat untuk menolak rayuan iblis.”
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Wa iż qulnā lil-malā'ikatisjudū li'ādama fa sajadū illā iblīsa abā.
"(Ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam!” Mereka pun sujud, tetapi Iblis (enggan). Dia menolak."
Makna & Renungan Singkat
Allah menjelaskan awal peristiwa ini. Dan ingatlah ketika Kami berkata kepada malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam!” lalu mereka pun sujud sebagai bentuk ketaatan kepada-Nya, kecuali iblis. Dengan takabur dia menolak perintah Allah tersebut.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Fa qulnā yā ādamu inna hāżā ‘aduwwul laka wa lizaujika falā yukhrijannakumā minal-jannati fa tasyqā.
"Kemudian Kami berfirman, “Wahai Adam, sesungguhnya (Iblis) inilah musuh bagimu dan bagi istrimu. Maka, sekali-kali jangan sampai dia mengeluarkan kamu berdua dari surga. Kelak kamu akan menderita."
Makna & Renungan Singkat
Untuk memperingatkan Adam tentang penolakan iblis, kemudian Kami berfirman, “Wahai Adam! Sungguh iblis ini adalah musuh nyata bagimu dan bagi istrimu. Maka, sekali-kali janganlah sampai dia berhasil menggelincirkan dan mengeluarkan kamu berdua dari surga. Ketahuilah, hal itulah yang menyebabkan kamu menjadi celaka.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"Sesungguhnya (ada jaminan) untukmu bahwa di sana engkau tidak akan kelaparan dan tidak akan telanjang."
Makna & Renungan Singkat
Wahai Adam, sungguh, ada jaminan untukmu di surga sana bahwa engkau tidak akan kelaparan di dalamnya. Allah telah menyediakan bagimu di sana buah-buahan dan makanan lain. Dan kamu di surga itu juga tidak akan telanjang karena Allah telah menyiapkan pakaian untukmu. Dan sungguh, di surga sana engkau tidak akan merasa dahaga karena ada mata air yang selalu memancarkan air yang jernih di sana. Dan di sana tidak pula kamu akan ditimpa panas matahari di dalamnya karena rimbunnya dedaunan dari beragam pepohonan di sana.”
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"Sesungguhnya di sana pun engkau tidak akan merasa dahaga dan tidak akan ditimpa terik matahari.”"
Makna & Renungan Singkat
Wahai Adam, sungguh, ada jaminan untukmu di surga sana bahwa engkau tidak akan kelaparan di dalamnya. Allah telah menyediakan bagimu di sana buah-buahan dan makanan lain. Dan kamu di surga itu juga tidak akan telanjang karena Allah telah menyiapkan pakaian untukmu. Dan sungguh, di surga sana engkau tidak akan merasa dahaga karena ada mata air yang selalu memancarkan air yang jernih di sana. Dan di sana tidak pula kamu akan ditimpa panas matahari di dalamnya karena rimbunnya dedaunan dari beragam pepohonan di sana.”
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Fa waswasa ilaihisy-syaiṭānu qāla yā ādamu hal adulluka ‘alā syajaratil-khuldi wa mulkil lā yablā.
"Maka, setan membisikkan (pikiran jahat) kepadanya. Ia berkata, “Wahai Adam, maukah aku tunjukkan kepadamu pohon khuldi (keabadian) dan kerajaan yang tidak akan binasa?”"
Makna & Renungan Singkat
Kemudian setan yang iri pada anugerah besar yang Allah berikan kepada Nabi Adam itu membisikkan pikiran jahat kepadanya dengan berkata, “Wahai Adam, maukah aku tunjukkan kepadamu pohon keabadian yang bisa membuatmu hidup abadi di surga, dan kerajaan yang terus berada dalam genggamanmu sehingga tidak akan binasa?”
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Fa akalā minhā fa badat lahumā sau'ātuhumā wa ṭafiqā yakhṣifāni ‘alaihimā miw waraqil-jannah(ti), wa ‘aṣā ādamu rabbahū fa gawā.
"Lalu, mereka berdua memakannya sehingga tampaklah oleh keduanya aurat mereka dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga. Adam telah melanggar (perintah) Tuhannya dan khilaflah dia."
Makna & Renungan Singkat
Bujuk rayu iblis berhasil melenakan Adam dan Hawa. Lalu keduanya memakan buah-nya. Begitu mereka memakannya, lalu tampaklah oleh keduanya aurat mereka dan ketika itu muncullah rasa malu sehingga mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun dari pepohonan surga. Dan akibat dari kelenaan ini telah durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah dia karenanya.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"Tuhannya kemudian memilihnya (menjadi rasul). Maka, Dia menerima tobatnya dan memberinya petunjuk."
Makna & Renungan Singkat
Allah Maha Pengasih kepada makhluk-Nya, tidak terkecuali kepada Adam. Meski dia telah melakukan kesalahan karena terbujuk setan, namun kemudian Tuhannya tetap memilih dia sebagai khalifah. Ketika dia bertobat dan memohon ampun, maka Dia menerima tobatnya dan memberinya petunjuk.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Qālahbiṭā minhā jamī‘am ba‘ḍukum liba‘ḍin ‘aduww(un), fa immā ya'tiyannakum minnī hudā(n), fa manittaba‘a hudāya falā yaḍillu wa lā yasyqā.
"Dia (Allah) berfirman, “Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama. Sebagian kamu (Adam dan keturunannya) menjadi musuh bagi yang lain. Jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, (ketahuilah bahwa) siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka."
Makna & Renungan Singkat
Allah berfirman, “Wahai Adam dan Hawa, turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama. Ketahuilah, sebagian dari kamu akan menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka, jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku untuk menjadi pedoman dalam kehidupanmu, lalu siapa saja yang mengikuti petunjuk-Ku dan melaksanakan ajaran-Ku, dia tidak akan sesat di dunia dan tidak akan pula celaka dalam kehidupan akhirat.”
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Wa man a‘raḍa ‘an żikrī fa inna lahū ma‘īsyatan ḍankaw wa naḥsyuruhū yaumal-qiyāmati a‘mā.
"Siapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit. Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.”"
Makna & Renungan Singkat
Pada ayat ini Allah memberi peringatan dan ancaman bagi mereka yang berpaling dari petunjuk-Nya. Dan barang siapa yang berpaling dari peringatan-Ku dan enggan mengikuti petunjuk-Ku, maka sungguh dia akan mendapat balasan dengan menjalani kehidupan yang sempit sehingga selalu merasa kurang meski sudah memperoleh banyak rezeki di dunia, dan Kami akan mengumpulkannya kelak pada hari kiamat dalam keadaan buta sehingga tidak dapat meniti jalan ke surga.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Qāla rabbi lima ḥasyartanī a‘mā wa qad kuntu baṣīrā(n).
"Dia berkata, “Ya Tuhanku, mengapa Engkau mengumpulkan aku dalam keadaan buta, padahal sungguh dahulu aku dapat melihat?”"
Makna & Renungan Singkat
Ketika orang yang ingkar itu merasakan balasan Allah, dia berkata, “Ya Tuhanku, mengapa Engkau kumpulkan aku dalam keadaan buta sehingga tidak dapat melihat, padahal di dunia dahulu aku dapat melihat?”
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Qāla każālika atatka āyātunā fa nasītahā, wa każālikal-yauma tunsā.
"Dia (Allah) berfirman, “Memang seperti itulah (balasanmu). (Dahulu) telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, lalu engkau mengabaikannya. Begitu (pula) pada hari ini engkau diabaikan.”"
Makna & Renungan Singkat
Menjawab aduan itu Allah berfirman, “Demikianlah yang terjadi. Dahulu telah datang kepadamu ayat-ayat Kami untuk mengajakmu mengikuti petunjuk Kami, maka kamu melupakannya dan enggan menaati perintah Kami, dan sebagai balasannya, begitu pula pada hari ini kamu pun dilupakan.”
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Wa każālika najzī man asrafa wa lam yu'mim bi'āyāti rabbih(ī), wa la‘ażābul-ākhirati asyaddu wa abqā.
"Demikianlah Kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya pada ayat-ayat Tuhannya. Sungguh, azab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal."
Makna & Renungan Singkat
Dan demikianlah, sebagai hukuman atas keengganan itu, Kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak menghiraukan petunjuk yang datang kepadanya dan tidak pula mau percaya kepada ayat-ayat Tuhannya. Dan ketahuilah, sesungguhnya azab di akhirat itu lebih berat daripada hukuman di dunia dan selain itu, azab di akhirat juga lebih kekal.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"Tidakkah menjadi petunjuk bagi mereka (orang-orang musyrik) tentang berapa banyak generasi sebelum mereka yang telah Kami binasakan, (padahal) mereka melewati (bekas-bekas) tempat tinggal mereka (generasi itu)? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang berakal."
Makna & Renungan Singkat
Pada ayat-ayat berikut Allah menerangkan peringatan-Nya kepada orang kafir dan enggan mengikuti petunjuk-Nya. Sungguh, semua ancaman itu pasti terjadi, maka tidakkah apa yang terjadi pada kaum kafir terdahulu menjadi petunjuk bagi mereka yang musyrik itu; berapa banyaknya Kami membinasakan umat-umat sebelum mereka. Sungguh mengherankan bila mereka tidak mengambil pelajaran dari peristiwa itu, padahal mereka telah berjalan di lokasi tersebut dan melihat bekas-bekas tempat tinggal umat-umat yang dibinasakan itu? Sesungguhnya pada yang demikian itu, yaitu bukti-bukti yang dapat disaksikan, terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal dan mau memperhatikan kejadian di masa lalu.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Wa lau lā kalimatun sabaqat mir rabbika lakāna lizāmaw wa ajalum musammā(n).
"Seandainya tidak ada suatu ketetapan yang terdahulu dari Tuhanmu serta tidak ada ajal yang telah ditentukan (bagi mereka), pastilah (siksaan itu langsung menimpa mereka)."
Makna & Renungan Singkat
Apa yang terjadi pada manusia merupakan akibat perbuatan mereka. Dan sekiranya tidak ada suatu ketetapan dari Allah yang telah diputuskan pada masa terdahulu, yaitu sebelum zaman Rasulullah, atau tidak ada ajal dan batas akhir yang telah ditentukan oleh Allah, pasti azab yang serupa juga menimpa mereka yang kafir itu.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Faṣbir ‘alā mā yaqūlūna wa sabbiḥ biḥamdi rabbika qabla ṭulū‘isy-syamsi wa qabla gurūbihā, wa min ānā'il-laili fa sabbiḥ wa aṭrāfan-nahāri la‘allaka tarḍā.
"Maka, bersabarlah engkau (Nabi Muhammad) atas apa yang mereka katakan dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu sebelum matahari terbit dan sebelum terbenam. Bertasbihlah (pula) pada waktu tengah malam dan di ujung siang hari agar engkau merasa tenang."
Makna & Renungan Singkat
Wahai Nabi Muhammad, bila orang kafir terus menentang dakwahmu maka sabarlah kamu atas apa yang mereka katakan. Untuk meneguhkan pendirianmu, berdoalah kepada Allah dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu. Lakukan itu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya, dan bertasbih pulalah pada waktu-waktu di malam hari dengan salat lail, dan pada waktu-waktu di siang hari. Yang demikian itu supaya kamu merasa senang dan hatimu tenteram.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Wa lā tamuddanna ‘ainaika ilā mā matta‘nā bihī azwājam minhum zahratal-ḥayātid-dun-yā, linaftinahum fīh(i), wa rizqu rabbika khairuw wa abqā.
"Janganlah sekali-kali engkau tujukan pandangan matamu pada kenikmatan yang telah Kami anugerahkan kepada beberapa golongan dari mereka (sebagai) bunga kehidupan dunia agar Kami uji mereka dengan (kesenangan) itu. Karunia Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal."
Makna & Renungan Singkat
Banyak orang kafir yang mendapat rezeki dan kenikmatan duniawi berlimpah. Allah mengingatkan kaum mukmin untuk tergiur dengan hal tersebut. Wahai orang beriman, janganlah kamu terpesona oleh apa yang orang kafir itu peroleh dan janganlah pula kamu tujukan kedua matamu dengan antusias dan penuh harap kepada apa yang telah Kami berikan, berupa kenikmatan duniawi, kepada golongan-golongan dari mereka. Sungguh, semua itu tidak lain sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami uji mereka dengannya, dan ketahuilan bahwa karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal dari segala sisinya.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"Perintahkanlah keluargamu melaksanakan salat dan bersabarlah dengan sungguh-sungguh dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu. Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Kesudahan (yang baik di dunia dan akhirat) adalah bagi orang yang bertakwa."
Makna & Renungan Singkat
Setelah memahami apa yang akan terjadi pada orang musyrik dan kafir, maka taatlah kepada-Nya dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan salat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Wahai nabi Muhammad, Kami tidak meminta rezeki kepadamu, melainkan Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Orang yang taat akan mendapat pahala, dan akibat yang baik itu adalah balasan yang paling layak bagi orang yang bertakwa.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Wa qālū lau lā ya'tīnā bi'āyatim mir rabbih(ī), awalam ta'tihim bayyinatu mā fiṣ-ṣuḥufil-ūlā.
"Mereka berkata, “Mengapa dia (Nabi Muhammad) tidak membawa tanda (mukjizat) kepada kami dari Tuhannya?” Bukankah telah datang kepada mereka bukti nyata yang tersebut di dalam kitab-kitab terdahulu?"
Makna & Renungan Singkat
Ayat-ayat berikut berisi uraikan tentang tuntutan orang kafir dan peringatan yang Allah sampaikan kepada mereka melalui Rasulullah. Orang kafir mengeluhkan hukuman yang mereka terima dan mereka berkata, “Mengapa dia, Muhammad, tidak membawa tanda bukti kepada kami dari Tuhannya agar kami percaya dan menaati ajaran-Nya?” Sungguh aneh perkataan mereka karena mereka telah diberi peringatan. Bukankan telah datang kepada mereka bukti nyata tentang azab yang Allah timpakan kepada umat-umat terdahulu yang ingkar, sebagaimana yang tersebut di dalam kitab-kitab yang dahulu, yakni Taurat dan Injil?”
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Wa lau annā ahlaknāhum bi‘ażābim min qablihī laqālū rabbanā lau lā arsalta ilainā rasūlan fa nattabi‘a āyātika min qabli an nażilla wa nakhzā.
"Seandainya Kami binasakan mereka dengan suatu siksaan sebelum (bukti itu datang), tentulah mereka berkata, “Ya Tuhan kami, mengapa tidak Engkau utus seorang rasul kepada kami sehingga kami mengikuti ayat-ayat-Mu sebelum kami menjadi hina dan rendah?”"
Makna & Renungan Singkat
Demikianlah sikap orang kafir. Dan kalau mereka Kami binasakan dengan suatu siksaan sebelumnya, yakni sebelum Kami turunkan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad, tentulah mereka di akhirat nanti berkata, “Ya Tuhan kami, mengapa di dunia dulu tidak Engkau utus seorang rasul kepada kami untuk mengingatkan kami sehingga kami mengikuti ayat-ayat-Mu sebelum kami menjadi hina akibat siksa ini dan rendah karena kedurhakaan kami?”
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Qul kullum mutarabbiṣun fa tarabbaṣū, fa sata‘lamūna man aṣḥābuṣ-ṣirāṭis-sawiyyi wa manihtadā.
"Katakanlah (Nabi Muhammad), “Setiap (kita) menanti, maka menantilah! Kelak kamu akan mengetahui siapa yang berada di jalan yang lurus dan siapa yang telah mendapat petunjuk.”"
Makna & Renungan Singkat
Wahai Nabi Muhammad, tanda keengganan orang kafir mengikuti petunjuk Allah telah jelas. Karena itu, katakanlah kepada mereka, “Masing-masing dari kita, yaitu umat beriman di satu pihak dan kaum kafir di pihak lain, menanti apa yang akan dilakukan Allah kelak. Jika demikian, maka nantikanlah ketetapan Allah itu olehmu! Dan kelak ketika keputusan-Nya datang, kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang menempuh jalan yang lurus dan siapa yang telah terhindar dari kesesatan dengan mendapat petunjuk dari Allah Yang Mahabenar.”
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Surat Thaahaa terdiri atas 135 ayat, diturunkan sesudah diturunkannya surat Maryam, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah. Surat ini dinamai Thaahaa, diambil dari perkataan yang berasal dan ayat pertama surat ini. Sebagaimana yang lazim terdapat pada surat-surat yang memakai huruf-huruf abjad pada permulaannya, di mana huruf tersebut seakan-akan merupakan pemberitahuan Allah kepada orang-orang yang membacanya, bahwa sesudah huruf itu akan dikemukakan hal-hal yang sangat penting diketahui, maka demikian pula halnya dengan ayat-ayat yang terdapat sesudah huruf thaahaa dalam surat ini. Allah menerangkan bahwa Al Quran merupakan peringatan bagi manusia, wahyu dari Allah, Pencipta semesta alam. Kemudian Allah menerangkan kisah beberapa orang nabi; akibat-akibat yang telah ada akan dialami oleh orang-orang yang percaya kepada Allah dan orang-orang yang mengingkari-Nya, baik di dunia maupun di akhirat. Selain hal-hal tersebut di atas, maka surat ini mengandung pokok-pokok isi sebagai berikut:
Rujukan Mushaf & Terjemahan: Standar Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) 2019 dan Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an (LPMQ).
Rujukan Tafsir Ringkas: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI, dikumpulkan melalui proyek data terbuka gadingnst/quran-api. Sebagian kecil ayat (11 dari 6.236) belum menampilkan tafsir ringkas karena data sumber tidak lengkap.
🌱 Doa & Renungan Terkait
Perkuat pemahaman ayat dengan doa dan amalan yang sejalan: