"sesungguhnya engkau (Nabi Muhammad) benar-benar salah seorang dari rasul-rasul"
Makna & Renungan Singkat
Aku bersumpah bahwa sungguh, engkau adalah salah seorang dari rasul-rasul, wahai Nabi Muhammad. Engkau Kami utus untuk mengingatkan manusia dan memberi mereka petunjuk guna meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Sungguh, engkau berada di atas jalan yang lurus, yakni jalan yang dapat mengantarkan manusia menuju kebahagiaan di dunia dan akhirat. Itulah agama Islam (Lihat juga: asy-Syùrà/42: 52).
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"(sebagai wahyu) yang diturunkan oleh (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang,"
Makna & Renungan Singkat
Al-Qur’an adalah wahyu yang diturunkan oleh Allah Yang Mahaperkasa, yakni mampu mengalahkan siapa pun dan melaksanakan apa pun yang Dia kehendaki; Maha Penyayang kepada semua hamba-Nya, utamanya kepada mereka yang beriman.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"agar engkau (Nabi Muhammad) memberi peringatan kepada suatu kaum yang nenek moyang mereka belum pernah diberi peringatan, sehingga mereka lalai."
Makna & Renungan Singkat
Al-Qur’an diturunkan agar engkau, wahai Nabi Muhammad, memberi peringatan untuk pertama kali kepada suatu kaum yang nenek moyangnya belum pernah diberi peringatan, tepatnya pada masa kekosongan dari risalah kenabian antara Nabi Isa dengan Nabi Muhammad, karena itu mereka lalai dari iman dan ajaran-ajaran agama yang dibawa oleh rasul sebelumnya.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"Sungguh, benar-benar berlaku perkataan (ketetapan takdir) terhadap kebanyakan mereka, maka mereka tidak akan beriman."
Makna & Renungan Singkat
Karena kaum kafir Mekah menolak ajakan Nabi Muhammad, Allah bersumpah bahwa sungguh, pasti berlaku perkataan, yakni hukuman, terhadap kebanyakan mereka, karena mereka tidak beriman dan menolak risalah Nabi Muhammad.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Innā ja‘alnā fī a‘nāqihim aglālan fa hiya ilal-ażqāni fahum muqmaḥūn(a).
"Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu di leher mereka, lalu (tangan mereka yang terbelenggu diangkat) ke dagu, karena itu mereka tertengadah."
Makna & Renungan Singkat
Allah menggambarkan kondisi kaum kafir tersebut dengan firman-Nya, “Sungguh, Kami telah memasang belenggu yang diikat di leher mereka, lalu tangan mereka diangkat ke dagu, karena itu kepala mereka tertengadah dan mendongak sehingga tidak dapat menunduk apalagi bergerak dengan bebas.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Wa ja‘alnā mim baini aidīhim saddaw wa min khalfihim saddan fa agsyaināhum fahum lā yubṣirūn(a).
"Kami memasang penghalang di hadapan mereka dan di belakang mereka, sehingga Kami menutupi (pandangan) mereka. Mereka pun tidak dapat melihat."
Makna & Renungan Singkat
Dan Kami jadikan di hadapan mereka sekat, yakni dinding penghalang antara mereka dengan kebenaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad, dan di belakang mereka juga Kami ciptakan sekat, dan Kami tutup mata mereka sehingga mereka tidak dapat melihat kebenaran. Itulah perum-pamaan orang-orang yang enggan melakukan kebaikan dan selalu menolak kebenaran.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Wa sawā'un ‘alaihim a'anżartahum am lam tunżirhum lā yu'minūn(a).
"Sama saja bagi mereka, apakah engkau (Nabi Muhammad) memberi peringatan kepada mereka atau tidak. Mereka (tetap) tidak akan beriman."
Makna & Renungan Singkat
Itu membuktikan bahwa peringatan apa pun sama sekali tidak ada pengaruhnya bagi kaum kafir. Dan sama saja bagi mereka, apakah engkau, wahai Nabi Muhammad, memberi peringatan kepada mereka akan adanya azab atau engkau tidak memberi peringatan kepada mereka; pada akhirnya mereka tetap tidak akan beriman juga. Itu semua diakibatkan oleh keengganan mereka menerima petunjuk Allah yang disampaikan oleh para rasul.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Innamā tunżiru manittaba‘aż-żikra wa khasyiyar-raḥmāna bil-gaib(i), fa basysyirhu bimagfiratiw wa ajrin karīm(in).
"Sesungguhnya engkau (Nabi Muhammad) hanya (bisa) memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikutinya dan yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pengasih tanpa melihat-Nya. Berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia."
Makna & Renungan Singkat
Untuk meneguhkan hati Nabi Muhammad atas penolakan kaum kafir Mekah, Sesungguhnya engkau hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan, yakni peringatanmu hanya berguna bagi mereka yang mau mengikuti, yang percaya akan surga, dan yang takut berbuat durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pengasih karena mereka yakin Tuhan selalu mengawasi, walaupun mereka tidak melihat-Nya. Maka, berilah mereka kabar gembira dengan ampunan yang menghapus dosa-dosa mereka dan pahala yang mulia, yaitu surga.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Innā naḥnu nuḥyil-mautā wa naktubu mā qaddamū wa āṡārahum, wa kulla syai'in aḥṣaināhu fī imāmim mubīn(in).
"Sesungguhnya Kamilah yang menghidupkan orang-orang yang mati dan Kami (pulalah) yang mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka (tinggalkan). Segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab induk yang nyata (Lauhulmahfuz)."
Makna & Renungan Singkat
Sungguh, Kamilah yang menghidupkan kembali orang-orang yang mati, dan Kamilah yang mencatat apa yang telah mereka kerjakan selama hidup di dunia, baik atau buruk, kecil atau besar, untuk kami balas secara adil; dan dicatat pula bekas-bekas yang mereka tinggalkan, yakni perbuatan baik maupun buruk yang mereka kerjakan dan diikuti oleh orang lain atau generasi sesudah mereka. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab yang jelas, yakni Lauh Mahfùz.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Waḍrib lahum maṡalan aṣḥābal-qaryah(ti), iż jā'ahal-mursalūn(a).
"Buatlah suatu perumpamaan bagi mereka (kaum kafir Makkah), yaitu penduduk suatu negeri, ketika para utusan datang kepada mereka,"
Makna & Renungan Singkat
Keingkaran kaum kafir Mekah terhadap kerasulan Nabi Muhammad hampir sama dengan keingkaran umat rasul-rasul terdahulu. Karena itu, Allah memerintahkan Nabi Muhammad mengubah strategi dakwahnya. “Dan untuk memotivasi mereka supaya beriman, buat dan sampaikan-lah suatu perumpamaan bagi mereka, yaitu keadaan penduduk suatu negeri ketika utusan-utusan Kami datang kepada mereka. Menurut suatu riwayat, negeri itu adalah Antiokhia, sebuah kota di Suriah saat ini.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Iż arsalnā ilaihimuṡnaini fa każżabūhumā fa ‘azzaznā biṡāliṡin faqālū innā ilaikum mursalūn(a).
"(yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya. Kemudian Kami menguatkan dengan (utusan) yang ketiga. Maka, ketiga (utusan itu) berkata, “Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu.”"
Makna & Renungan Singkat
Ceritakanlah ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan untuk menyeru mereka agar bertauhid dan beriman kepada risalah kenabian serta hari Kebangkitan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian Kami kuatkan mereka berdua dengan utusan yang ketiga, maka ketiga utusan itu berkata, “Sungguh, kami adalah orang-orang yang diutus kepada kamu.”
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Qālū mā antum illā basyarum miṡlunā, wa mā anzalar-raḥmānu min syai'(in), in antum illā takżibūn(a).
"Mereka (penduduk negeri) menjawab, “Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami. (Allah) Yang Maha Pengasih tidak (pernah) menurunkan sesuatu apa pun. Kamu hanyalah berdusta.”"
Makna & Renungan Singkat
Penduduk negeri itu mengabaikan dakwah ketiga utusan tersebut. Mereka menjawab, “Kamu bertiga ini hanyalah manusia seperti kami; tidak ada kelebihan apa pun pada diri kamu atas kami, dan Allah Yang Maha Pengasih sama sekali tidak menurunkan sesuatu apa pun berupa perintah maupun larangan; kamu hanyalah pendusta belaka dalam pengakuan kamu sebagai utusan Tuhan.”
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"Mereka (penduduk negeri) menjawab, “Sesungguhnya kami bernasib malang karenamu. Sungguh, jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami merajam kamu dan kamu pasti akan merasakan siksaan yang pedih dari kami.”"
Makna & Renungan Singkat
Ketiga utusan itu tidak berhenti menyampaikan dakwah mereka, hingga mereka, yakni para penduduk negeri itu, menjawab, “Sesungguhnya kami bernasib malang karena kehadiran dan ajaran kamu. Sungguh, jika kamu tidak berhenti menyeru kami untuk beriman kepada Allah dan hari Kiamat, niscaya kami rajam dan lempari kamu dengan batu sampai mati, dan kamu pasti akan merasakan siksaan yang pedih dari kami.”
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Qālū ṭā'irukum ma‘akum, a'in żukkirtum, bal antum qaumum musrifūn(a).
"Mereka (para rasul) berkata, “Kemalangan kamu itu (akibat perbuatan) kamu sendiri. Apakah karena kamu diberi peringatan, (lalu kamu menjadi malang)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas.”"
Makna & Renungan Singkat
Mereka, yakni ketiga utusan itu, berkata, “Kemalangan kamu itu adalah karena perbuatan buruk kamu sendiri. Kamu bernasib buruk akibat keengganan kamu menerima ajakan kami. Apakah karena kamu diberi peringatan, lalu kamu menuduh kami sebagai penyebab kemalangan itu? Tuduhan kamu sama sekali tidak benar! Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas dalam kedurhakaan sehingga mengakibatkan penderitaan yang kamu sebut sebagai nasib sial.”
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Wa jā'a min aqṣal-madīnati rajuluy yas‘ā qāla yā qaumittabi‘ul-mursalīn(a).
"Datanglah dengan bergegas dari ujung kota, seorang laki-laki. Dia berkata, “Wahai kaumku, ikutilah para rasul itu!"
Makna & Renungan Singkat
Berita kedatangan ketiga utusan tersebut menyebar ke pelosok negeri. Dan datanglah dari ujung kota seorang laki-laki yang telah beriman kepada risalah Nabi Isa, konon bernama Habìb bin Mùsà an-Najjàr, dengan bergegas. Dia berkata untuk menasihati penduduk negeri itu, “Wahai kaumku! Percaya dan ikutilah utusan-utusan itu karena mereka benar-benar utusan Allah.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Ittabi‘ū mal lā yas'alukum ajraw wa hum muhtadūn(a).
"Ikutilah orang yang tidak meminta imbalan (dalam berdakwah) kepadamu. Mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk."
Makna & Renungan Singkat
Ikutilah orang yang tidak meminta imbalan apa pun kepadamu atas dakwah mereka itu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk dari Allah. Ayat ini menegaskan pentingnya ketulusan dalam menjalankan setiap aktivitas dan tidak mengharapkan apalagi meminta imbalan materi.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Wa mā liya lā a‘budul-lażī faṭaranī wa ilaihi turja‘ūn(a).
"Apa (alasanku) untuk tidak menyembah (Allah) yang telah menciptakanku dan hanya kepada-Nyalah kamu akan dikembalikan?"
Makna & Renungan Singkat
Dan Mengapa kamu enggan menyembah Allah ? tidak ada alasan bagiku dan bagimu untuk tidak menyembah Allah yang telah menciptakanku dan hanya kepada-Nyalah kamu akan dikembalikan untuk menerima balasan atas segala amal perbuatan yang dilakukan sewaktu di dunia.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
A'attakhiżu min dūnihī ālihatan iy yuridnir-raḥmānu biḍurril lā tugni ‘annī syafā‘atuhum syai'aw wa lā yunqiżūn(i).
"Mengapa aku (harus) mengambil sembahan-sembahan selain-Nya? Jika (Allah) Yang Maha Pengasih menghendaki bencana terhadapku, pasti pertolongan mereka tidak berguna sama sekali bagi diriku dan mereka (juga) tidak dapat menyelamatkanku."
Makna & Renungan Singkat
Mengapa aku akan menyembah tuhan-tuhan selain-Nya? Padahal mereka sedikitpun tidak memiliki kekuasaan Jika (Allah) Yang Maha Pengasih menghendaki bencana terhadapku, pasti pertolongan mereka yakni tuhan-tuhan yang disembah selain Allah tersebut tidak berguna sama sekali bagi diriku dan mereka juga tidak dapat menyelamatkanku.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"Sesungguhnya aku (jika berbuat) begitu, pasti berada dalam kesesatan yang nyata."
Makna & Renungan Singkat
Sesungguhnya jika aku (berbuat) begitu yakni menyembah tuhan selain Allah, pasti aku berada dalam kesesatan yang nyata, karena tidak ada yang dapat memberikan manfaat dan menolak mudarat melainkan Allah semata.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"Dikatakan (kepadanya), “Masuklah ke surga.” Dia (laki-laki itu) berkata, “Aduhai, sekiranya kaumku mengetahui"
Makna & Renungan Singkat
Setelah menyatakan iman di hadapan kaumnya, kaummnya pun membunuhnya. Allah pun memberikan pahala atas imannya yang kokoh itu. Ketika dia meninggal, malaikat turun memberitahukan bahwa Allah telah mengampuni dosanya dan dia akan masuk surga dikatakan kepadanya, “Masuklah ke surga.” Dia laki-laki itu berkata, “Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui,
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Bimā gafaralī rabbī wa ja‘alanī minal-mukramīn(a).
"(bagaimana) Tuhanku mengampuniku dan menjadikanku termasuk orang-orang yang dimuliakan.”"
Makna & Renungan Singkat
Duhai seandainya kaumku mengetahui apa yang menyebabkan Tuhanku memberi ampun kepadaku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang telah dimuliakan niscaya mereka akan beriman sebagaimana aku beriman.”
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Wa mā anzalnā ‘alā qaumihī mim ba‘dihī min jundim minas-samā'i wa mā kunnā munzilīn(a).
"Setelah dia (dibunuh), Kami tidak menurunkan satu pasukan pun dari langit kepada kaumnya dan Kami tidak perlu menurunkannya."
Makna & Renungan Singkat
Beralih dari penjelasan perihal Habìb an-Najjàr yang mati dibunuh dan harapannya agar kaumnya ikut beriman, Allah dalam ayat berikut menjelaskan azab yang akan ditimpakan kepada orang musyrik. Dan setelah dia, yakni Habìb an-Najjàr dibunuh karena keimanannya, Kami tidak menurunkan suatu pasukan malaikat pun dari langit kepada kaumnya untuk menghancurkan mereka. Kami sudah menetapkan siksa bagi mereka berupa teriakan yang sangat keras. Dan karena itu, Kami tidak perlu menurunkannya, yakni para malaikat, dalam jumlah banyak.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
In kānat illā ṣaiḥataw wāḥidatan fa'iżā hum khāmidūn(a).
"(Azab mereka) itu cukup dengan satu teriakan saja. Maka, seketika itu mereka mati."
Makna & Renungan Singkat
Dengan demikian, tidak ada siksaan terhadap mereka yang mendustakan utusan Allah melainkan dengan satu teriakan saja, yaitu teriakan Jibril yang sangat keras; maka seketika itu mereka pun mati. Demikianlah balasan di dunia bagi orang yang mendustakan utusan Allah.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"Alangkah besar penyesalan diri para hamba itu. Setiap datang seorang rasul kepada mereka, mereka selalu memperolok-olokkannya."
Makna & Renungan Singkat
Orang-orang yang mendustakan para rasul akan menyesal pada hari Kiamat. Alangkah besar penyesalan terhadap hamba-hamba itu, setiap datang seorang rasul yang menyeru kepada mereka agar beriman kepada Allah dan menempuh jalan yang benar, mereka selalu memperolok-olokkan bahkan membunuh-nya.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Alam yarau kam ahlaknā qablahum minal-qurūni annahum ilaihim lā yarji‘ūn(a).
"Tidakkah mereka mengetahui berapa banyak umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan? Mereka (setelah binasa) tidak ada yang kembali kepada mereka (di dunia)."
Makna & Renungan Singkat
Dengan berita yang orang-orang musyrik Mekah terima dari Rasulullah, tidakkah mereka mengetahui berapa banyak umat-umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan akibat pengingkaran mereka kepada utusan Allah? Padahal Kami telah menetapkan bahwa orang-orang yang telah Kami binasakan itu tidak ada yang kembali lagi kepada mereka. Mereka tidak akan kembali ke dunia.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"Tidak ada satu (umat) pun, kecuali semuanya akan dihadirkan kepada Kami (untuk dihisab)."
Makna & Renungan Singkat
Dan setiap umat, dari generasi pertama hingga terakhir, semuanya akan dihadapkan oleh malaikat kepada Kami untuk diminta pertanggungjawaban atas perbuatan mereka di dunia.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Wa āyatul lahumul-arḍul-maitah(tu), aḥyaināhā wa akhrajnā minhā ḥabban faminhu ya'kulūn(a).
"Suatu tanda (kekuasaan-Nya) bagi mereka adalah bumi yang mati (tandus lalu) Kami menghidupkannya dan mengeluarkan darinya biji-bijian kemudian dari (biji-bijian) itu mereka makan."
Makna & Renungan Singkat
Usai menjelaskan kuasa-Nya membinasakan para pendurhaka, Allah lantas menjelaskan tanda kekuasaan-Nya di bumi. Dan suatu tanda kebesaran dan kekuasaan Allah bagi mereka adalah bumi yang mati atau tandus sehingga tidak bisa ditumbuhi tanaman, lalu Kami hidupkan bumi itu dengan air hujan dan Kami keluarkan darinya biji-bijian, maka dari biji-bijian itu mereka makan untuk menjamin kelangsungan hidup dan memperoleh kekuatan.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Wa ja‘alnā fīhā jannātim min nakhīliw wa a‘nābiw wa fajjarnā fīhā minal-‘uyūn(i).
"Kami (juga) menjadikan padanya (bumi) kebun-kebun kurma dan anggur serta Kami memancarkan padanya beberapa mata air"
Makna & Renungan Singkat
Dan di antara bukti kuasa Kami di bumi adalah bahwa Kami jadikan padanya kebun-kebun yang dapat ditanami berbagai tanaman penghasil bahan makanan, seperti kurma dan anggur, dan Kami pun pancarkan padanya beberapa mata air yang mengalir menjadi sungai-sungai yang sangat diperlukan bagi kehidupan di bumi.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Liya'kulū min ṡamarihī wa mā ‘amilathu aidīhim, afalā yasykurūn(a).
"agar mereka dapat makan dari buahnya, dan dari hasil usaha tangan mereka. Mengapa mereka tidak bersyukur?"
Makna & Renungan Singkat
Allah menciptakan dan menganugerahkan semua itu kepada manusia agar mereka dapat makan dari buahnya dan menikmati dari hasil usaha tangan mereka. Maka mengapa mereka tidak bersyukur kepada-Nya? Mengingkari nikmat adalah sikap yang tidak pantas bagi orang yang berakal.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Subḥānal-lażī khalaqal-azwāja kullahā mimmā tumbitul-arḍu wa min anfusihim wa mimmā lā ya‘lamūn(a).
"Maha Suci (Allah) yang telah menciptakan semuanya berpasang-pasangan, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka sendiri maupun dari apa yang tidak mereka ketahui."
Makna & Renungan Singkat
Mahasuci Allah dari sifat yang tidak layak bagi-Nya, Dialah yang telah menciptakan semuanya berpasang-pasangan, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka sendiri, yaitu keturunan Nabi Adam dari jenis laki-laki dan perempuan, maupun dari apa yang tidak mereka ketahui dari semua ciptaan Allah yang terbentang di alam semesta.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Wa āyatul lahumul-lailu naslakhu minhun-nahāra fa'iżā hum muẓlimūn(a).
"Suatu tanda juga (atas kekuasaan Allah) bagi mereka adalah malam. Kami pisahkan siang dari (malam) itu. Maka, seketika itu mereka (berada dalam) kegelapan."
Makna & Renungan Singkat
Dan suatu tanda kebesaran Allah bagi mereka adalah datangnya waktu malam. Ketika malam tiba, Kami tanggalkan siang dari malam itu, maka seketika itu mereka berada dalam kegelapan malam.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"(Suatu tanda juga atas kekuasaan Allah bagi mereka adalah) matahari yang berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui."
Makna & Renungan Singkat
Dan di antara tanda kuasa-Nya adalah bahwa matahari berjalan di tempat peredarannya yang telah ditentukan dengan tertib menurut kehendak Allah dan sedikit pun tidak menyimpang. Demikianlah ketetapan Allah Yang Mahaperkasa, Maha Mengetahui dengan ilmu-Nya yang meliputi seluruh makhluk.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"(Begitu juga) bulan, Kami tetapkan bagi(-nya) tempat-tempat peredaran sehingga (setelah ia sampai ke tempat peredaran yang terakhir,) kembalilah ia seperti bentuk tandan yang tua."
Makna & Renungan Singkat
Dan telah Kami tetapkan pula jarak-jarak tertentu sebagai tempat peredaran bagi bulan, sehingga setiap saat jarak tersebut mengalami perubahan. Sesampainya ke tempat peredaran yang terakhir, kembalilah ia seperti bentuk tandan yang tua. Mula-mula penampakan bulan muncul dalam keadaan kecil dan cahaya yang lemah, beralih menjadi bulan sabit dengan sinar yang terang, berubah menjadi bulan purnama, kemudian perlahan kembali mengecil dan kembali ke bentuk semula.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Lasy-syamsu yambagī lahā an tudrikal-qamara wa lal-lailu sābiqun-nahār(i), wa kullun fī falakiy yasbaḥūn(a).
"Tidaklah mungkin bagi matahari mengejar bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya."
Makna & Renungan Singkat
Demikianlah sunatullah yang telah Dia tetapkan. Tidaklah mungkin bagi matahari mengejar bulan sehingga keduanya bertabrakan, dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya yang telah digariskan untuknya.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Wa āyatul lahum annā ḥamalnā żurriyyatahum fil-fulkil-masyḥūn(i).
"Suatu tanda (kebesaran Allah) bagi mereka adalah bahwa Kami mengangkut keturunan mereka dalam kapal yang penuh muatan."
Makna & Renungan Singkat
Tidak terbatas pada kejadian-kejadian di alam semesta, kekuasaan Allah juga meliputi fenomena di samudera. Dan suatu tanda kebesaran Allah bagi mereka adalah bahwa Kami angkut keturunan mereka dan segala macam barang keperluan mereka dalam kapal yang penuh muatan, dari satu kota ke kota lain atau dari satu negeri ke negeri lain.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"(Begitu juga) Kami menciptakan untuk mereka dari jenis itu angkutan (lain) yang mereka kendarai."
Makna & Renungan Singkat
Dan selain itu Kami ciptakan juga untuk mereka angkutan lainnya, seperti apa yang mereka kendarai di darat berupa hewan-hewan tung-gangan dan alat-alat angkut pada umumnya (Lihat pula: Surah an-Nahl/16: 8).
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Wa in nasya' nugriqhum falā ṣarīkha lahum wa lā hum yunqażūn(a).
"Jika Kami menghendaki, Kami akan menenggelamkan mereka. Kemudian, tidak ada penolong bagi mereka dan tidak (pula) mereka diselamatkan."
Makna & Renungan Singkat
Dan ingatlah, jika Kami menghendaki mereka tidak selamat dalam pelayaran laut itu, Kami tenggelamkan mereka ke laut dengan datangnya badai atau rusaknya bahtera. Maka ketika itu tidak ada seorang penolong pun bagi mereka dan tidak pula mereka dapat diselamatkan.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"Akan tetapi, (Kami menyelamatkan mereka) karena rahmat yang besar dari Kami dan untuk memberi mereka kesenangan hidup sampai waktu tertentu."
Makna & Renungan Singkat
Mereka tidak akan selamat dari bencana itu melainkan jika kami menghendakinya karena rahmat dan kasih sayang yang besar dari Kami dan untuk memberikan kesenangan hidup dengan sarana transportasi tersebut sampai waktu tertentu, selagi mereka tidak melakukan penyimpangan. Ayat ini mengingatkan manusia agar tidak berlaku sombong dan angkuh dalam segala urusan.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Wa iżā qīla lahumuttaqū mā baina aidīkum wa mā khalfakum la‘allakum turḥamūn(a).
"Ketika dikatakan kepada mereka, “Takutlah kamu akan (siksa) yang ada di hadapanmu (di dunia) dan azab yang ada di belakangmu (akhirat) agar kamu mendapat rahmat,” (maka mereka berpaling)."
Makna & Renungan Singkat
Meski menyaksikan dengan nyata bukti-bukti kekuasaan Allah dan kemampuan yang Allah berikan kepada manusia untuk membuat sarana transportasi, banyak manusia tetap ingkar dan menyekutukan Allah. Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Takutlah kamu akan siksa dunia yang di hadapanmu sebagaimana yang menimpa umat-umat terdahulu, dan azab yang akan datang kelak di akhirat agar kamu mendapat rahmat dari-Nya.”
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Wa mā ta'tīhim min āyatim min āyāti rabbihim illā kānū ‘anhā mu‘riḍīn(a).
"Tidak satu pun dari tanda-tanda (kebesaran) Tuhan datang kepada mereka, kecuali mereka berpaling darinya."
Makna & Renungan Singkat
Dan adapun orang yang ingkar, setiap kali suatu tanda dari tanda-tanda kebesaran dan keesaan Tuhan datang kepada mereka melalui para rasul dan ayat Al-Qur’an, mereka selalu berpaling darinya dengan penuh pengingkaran.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Wa iżā qīla lahum anfiqū mimmā razaqakumullāh(u), qālal-lażīna kafarū lil-lażīna āmanū anuṭ‘imu mal lau yasyā'ullāhu aṭ‘amah(ū), in antum illā fī ḍalālim mubīn(in).
"Apabila dikatakan kepada mereka, “Infakkanlah sebagian rezeki yang diberikan Allah kepadamu,” orang-orang yang kufur itu berkata kepada orang-orang yang beriman, “Apakah pantas kami memberi makan kepada orang-orang yang jika Allah menghendaki, Dia akan memberinya makan? Kamu benar-benar dalam kesesatan yang nyata.”"
Makna & Renungan Singkat
Dan salah satu bukti keingkaran mereka adalah bahwa apabila dikatakan kepada mereka, “Infakkanlah sebagian rezeki yang diberikan Allah kepadamu kepada orang yang membutuhkan,” orang-orang yang kafir itu berkata kepada orang-orang yang beriman dengan nada mengejek, “Apakah pantas kami memberi makan kepada orang-orang yang jika Allah menghendaki, Dia akan memberinya makan? Sungguh, kamu benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” Demikianlah sifat orang kafir. Mereka tidak mau berinfak, bersedekah, dan berzakat padahal semua itu akan kembali manfaatnya kepada diri mereka.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Wa yaqūlūna matā hāżal-wa‘du in kuntum ṣādiqīn(a).
"Mereka berkata, “Kapankah janji (hari Kebangkitan) ini (terjadi) jika kamu orang-orang benar?”"
Makna & Renungan Singkat
Tidak hanya mengingkari utusan Allah, orang-orang kafir itu juga mengingkari hari kebangkitan. Dan apabila dikatakan bahwa mereka kelak akan dibangkitkan dari kubur, mereka itu pun berkata dengan nada mengejek, “Kapan janji hari kebangkitan itu terjadi jika kamu orang yang benar dalam perkataanmu tentangnya?”
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Mā yanẓurūna illā ṣaiḥataw wāḥidatan ta'khużuhum wa hum yakhiṣṣimūn(a).
"Mereka hanya menunggu satu teriakan yang akan membinasakan mereka saat mereka (sibuk) bertengkar (tentang urusan dunia)."
Makna & Renungan Singkat
Allah mengingatkan orang-orang kafir itu bahwa mereka tidak akan menunggu lama kedatangan hari kebangkitan, melainkan hanya menunggu satu teriakan saja, yaitu tiupan sangkakala pertama yang menghancurkan alam semesta. Suara sangkakala itu yang akan membinasakan mereka ketika mereka sedang bertengkar karena ia datang secara tiba-tiba (Lihat pula: Surah az-Zukhruf/43: 66).
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Falā yastaṭī‘ūna tauṣiyataw wa lā ilā ahlihim yarji‘ūn(a).
"Oleh sebab itu, mereka tidak dapat berwasiat dan tidak dapat kembali kepada keluarganya."
Makna & Renungan Singkat
Tiupan sangkakala yang pertama itu terjadi dengan cepat dan tiba-tiba sehingga mereka tidak mampu membuat suatu wasiat atau pesan kepada keluarganya dan mereka juga tidak dapat kembali berkumpul kepada keluarganya lagi.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Wa nufikha fiṣ-ṣūri fa'iżā hum minal-ajdāṡi ilā rabbihim yansilūn(a).
"Sangkakala pun ditiup dan seketika itu mereka bergerak cepat dari kuburnya menuju kepada Tuhannya."
Makna & Renungan Singkat
Semua makhluk hidup binasa dengan tiupan sangkakala yang pertama, lalu ditiuplah sangkakala yang kedua untuk membangkitkan mereka dari kematian, maka seketika itu mereka keluar dari kuburnya dalam keadaan hidup dan berjalan menuju kepada Tuhannya untuk dihisab dan menerima putusan (Lihat pula: Surah al-Ma‘àrij/70: 43).
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Qālū yā wailanā mam ba‘aṡanā mim marqadinā…hāżā mā wa‘adar-raḥmānu wa ṣadaqal-mursalūn(a).
"Mereka berkata, “Celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur)?” (Lalu, dikatakan kepada mereka,) “Inilah yang dijanjikan (Allah) Yang Maha Pengasih dan benarlah para rasul(-Nya).”"
Makna & Renungan Singkat
Orang-orang kafir itu kaget dan heran pada saat dibangkitkan. Mereka berkata, “Celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami di alam kubur?” Mereka berkata demikian karena akan menghadapi kesulitan dan malapetaka yang lebih besar. Adapun orang-orang beriman akan berkata, “Inilah hari kebangkitan yang dijanjikan oleh Allah Yang Maha Pengasih, dan benarlah apa yang disampaikan oleh rasul-rasul-Nya.”
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
In kānat illā ṣaiḥataw wāḥidatan fa'iżā hum jamī‘ul ladainā muḥḍarūn(a).
"Teriakan itu hanya sekali saja, maka seketika itu mereka semua dihadapkan kepada Kami (untuk dihisab)."
Makna & Renungan Singkat
Teriakan sebagai pertanda kebangkitan itu hanya sekali saja, maka seketika itu mereka semua dihadapkan kepada Kami untuk dihisab. Ayat ini menerangkan betapa mudah bagi Allah untuk membangkitkan seluruh umat manusia (Lihat pula: Surah an-Nahl/16: 77)
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"Pada hari itu tidak ada sama sekali orang yang dirugikan sedikit pun. Kamu tidak akan diberi balasan, kecuali atas apa yang telah kamu kerjakan."
Makna & Renungan Singkat
Maka pada hari kebangkitan itu seseorang tidak akan dirugikan sedikit pun dalam menerima imbalan atau balasan dari Allah atas amal perbuatan mereka, dan kamu tidak akan diberi balasan berupa siksa atau pahala kecuali sesuai dengan apa yang telah kamu kerjakan di dunia.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"Sesungguhnya penghuni surga pada hari itu berada dalam kesibukan (sehingga tidak sempat berpikir tentang penghuni neraka) lagi bersenang-senang."
Makna & Renungan Singkat
Beralih dari penjelasan tentang keniscayaan hari Kiamat dan kebangkitan, Allah kemudian menggambarkan kebahagiaan orang mukmin di surga. Sesungguhnya penghuni surga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan mereka. Mereka merasakan kesenangan dan kenikmatan yang belum pernah mereka temukan, keindahan yang belum pernah mereka lihat, dan suara menyejukkan kalbu yang belum pernah mereka dengar.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Hum wa azwājuhum fī ẓilālin ‘alal-arā'iki muttaki'ūn(a).
"Mereka dan pasangan-pasangannya berada dalam tempat yang teduh sambil berbaring di atas ranjang berkelambu."
Makna & Renungan Singkat
Orang-orang beriman itu bersenang-senang di surga. Mereka dan pasangan-pasangannya di surga berada dalam tempat yang teduh, bersandar di atas dipan-dipan sambil berbincang dan menikmati berbagai rezeki dari Allah.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"Di (surga) itu mereka memperoleh buah-buahan dan apa saja yang mereka inginkan."
Makna & Renungan Singkat
Di surga itu mereka memperoleh berbagai macam buah-buahan yang segar lagi lezat (Lihat pula: Surah ad-Dukhàn/44: 55) dan memperoleh apa saja yang mereka inginkan dari berbagai macam kebutuhan.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"(Kepada mereka dikatakan,) “Salam sejahtera” sebagai ucapan dari Tuhan Yang Maha Penyayang."
Makna & Renungan Singkat
Kepada mereka dikatakan, “Salam,” sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang. Salam inilah yang sangat mereka harapkan karena merupakan suatu bentuk pemuliaan bagi mereka.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"(Dikatakan kepada orang-orang kafir,) “Berpisahlah kamu (dari orang-orang mukmin) pada hari ini, wahai para pendurhaka!"
Makna & Renungan Singkat
Usai memaparkan keadaan orang mukmin beserta kenikmatan yang mereka peroleh di surga, Allah dalam ayat ini beralih menjelaskan kondisi orang kafir di akhirat. Dan dikatakan kepada orang kafir, “Berpisahlah kamu pada hari ini dari orang mukmin, wahai orang-orang yang berdosa! Masuklah kamu ke neraka, berpisah dari orang mukmin yang akan menuju surga (Lihat pula: Surah aê-Sàffàt/37: 22–23)
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"Bukankah Aku telah berpesan kepadamu dengan sungguh-sungguh, wahai anak cucu Adam, bahwa janganlah kamu menyembah setan? Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kamu."
Makna & Renungan Singkat
Dikatakan juga kepada orang kafir itu, “Bukankah Aku dahulu telah memerintahkan kepadamu, wahai anak cucu Adam, agar kamu sekali-kali tidak menyembah setan? Aku bahkan telah mengutus para rasul untuk menyampaikan risalah kepadamu. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagi kamu karena sejak dahulu telah menyesatkan manusia.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"(Begitu juga bahwa) sembahlah Aku. Inilah jalan yang lurus.”"
Makna & Renungan Singkat
Dan bukankah telah Aku perintahkan juga kepadamu, wahai anak cucu Adam, hendaklah kamu menyembah-Ku dan menaati perintah-Ku. Inilah agama Islam, jalan yang lurus yang harus kamu tempuh agar kamu selamat.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Wa laqad aḍalla minkum jibillan kaṡīrā(n), afalam takūnū ta‘qilūn(a).
"Sungguh, ia (setan itu) benar-benar telah menyesatkan sangat banyak orang dari kamu. Maka, apakah kamu tidak mengerti?"
Makna & Renungan Singkat
Janganlah kamu menyembah setan. Dan ketahuilah bahwa sungguh, ia telah menyesatkan sebagian besar di antara kamu dengan mendorong mereka untuk ingkar terhadap perintah Allah, bahkan menyekutukan-Nya. Maka, apakah kamu tidak mengerti akibat dari mengikuti langkah setan dan menempuh jalan kesesatan?
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"Inilah (neraka) Jahanam yang dahulu telah diperingatkan kepadamu."
Makna & Renungan Singkat
Dikatakan juga kepada orang kafir, “Inilah neraka Jahanam, tempat bagi para pendurhaka, yang dahulu telah diperingatkan kepadamu agar kamu menjauhinya. Para rasul telah mengingatkan kamu tentangnya.”
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Al-yauma nakhtimu ‘alā afwāhihim wa tukallimunā aidīhim wa tasyhadu arjuluhum bimā kānū yaksibūn(a).
"Pada hari ini Kami membungkam mulut mereka. Tangan merekalah yang berkata kepada Kami dan kaki merekalah yang akan bersaksi terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan."
Makna & Renungan Singkat
Pada hari ini Kami tutup mulut mereka sehingga tidak dapat berkata bohong atau berdalih sedikit pun. Tangan mereka akan berkata kepada Kami perihal perbuatan yang mereka lakukan di dunia, dan kaki mereka akan memberi kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. Dengan demikian, mereka tidak mungkin mengelak atas dosa yang telah mereka lakukan (Lihat pula: Surah Fussilat/41: 19–20).
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Wa lau nasyā'u laṭamasnā ‘alā a‘yunihim fastabaquṣ-ṣirāṭa fa annā yubṣirūn(a).
"Seandainya Kami menghendaki, pastilah Kami akan menghapus penglihatan (membutakan) mereka sehingga mereka berlomba-lomba (mencari) jalan (selamat). Maka, bagaimana mungkin mereka dapat melihat?"
Makna & Renungan Singkat
Dan jika Kami menghendaki, pastilah Kami hapuskan penglihatan mata mereka sehingga dengan demikian mereka berlomba-lomba mencari jalan yang terang. Namun, Kami tidak melakukan hal itu karena kasih sayang Kami agar mereka mencari jalan yang benar dan mensyukuri karunia Allah. Andaikata Kami hapus penglihatan mereka maka bagaimana mungkin mereka dapat melihat karunia dan kekuasaan Allah? Karena itu, tidak ada alasan bagi mereka berdalih terhadap ketetapan Allah.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Wa lau nasyā'u lamasakhnāhum ‘alā makānatihim famastaṭā‘ū muḍiyyaw wa lā yarji‘ūn(a).
"Seandainya Kami menghendaki, pastilah Kami akan mengubah bentuk mereka di tempat mereka berada, sehingga mereka tidak sanggup meneruskan perjalanan dan juga tidak sanggup pulang kembali."
Makna & Renungan Singkat
Dan jika Kami menghendaki pula, pastilah Kami ubah bentuk mereka,yakni orang-orang kafir, di tempat mereka berada sehingga mereka tidak sanggup berjalan lagi dan juga tidak sanggup kembali. Namun, hal itu tidak Kami lakukan karena kasih sayang Kami. Karena rahmat pula, Aku masih memberi manusia kesempatan untuk bertobat dan beramal saleh meski mereka telah menyekutukan-Ku.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Wa man nu‘ammirhu nunakkishu fil-khalq(i), afalā ya‘qilūn(a).
"Siapa yang Kami panjangkan umurnya niscaya Kami balik proses penciptaannya (dari kuat menuju lemah). Maka, apakah mereka tidak mengerti?"
Makna & Renungan Singkat
Dan ingatlah wahai anak cucu Adam, barang siapa Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dia kepada awal kejadiannya. Pada saat itu dia kembali lemah dan kurang akal, layaknya anak kecil, sehingga tidak kuat lagi melakukan ibadah yang berat. Maka, mengapa mereka tidak mengerti dan memanfaatkan kesempatan selagi muda?
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Wa mā ‘allamnāhusy-syi‘ra wa mā yambagī lah(ū), in huwa illā żikruw wa qur'ānum mubīn(un).
"Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Nabi Muhammad) dan (bersyair) itu tidaklah pantas baginya. (Wahyu yang Kami turunkan kepadanya) itu tidak lain hanyalah pelajaran dan Al-Qur’an yang jelas"
Makna & Renungan Singkat
Kumpulan ayat berikut menyangkal orang kafir yang menuduh Al-Qur’an adalah syair ciptaan Nabi Muhammad. Dan Kami tidak meng-ajarkan syair kepadanya dan bersyair itu tidaklah pantas baginya karena syair adalah buah khayalan. Nabi Muhammad adalah rasul yang Allah tugaskan untuk menyampaikan wahyu, dan Al-Qur’an itu adalah wahyu Allah yang kandungannya tidak lain hanyalah pelajaran untuk memperbaiki umat dan merupakan Kitab yang jelas dalam menerangkan hukum dan syariat Allah.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Liyunżira man kāna ḥayyaw wa yaḥiqqal-qaulu ‘alal-kāfirīn(a).
"agar dia (Nabi Muhammad) memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup (hatinya) dan agar ketetapan (azab) terhadap orang-orang kafir itu menjadi pasti."
Makna & Renungan Singkat
Kami wahyukan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad agar dia memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup hatinya sehingga bisa mengambil pelajaran darinya dan agar dia memberi peringatan serta bukti yang pasti akan ketetapan dan azab terhadap orang-orang kafir yang mengingkari wahyu itu.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"Tidakkah mereka mengetahui bahwa Kami telah menciptakan untuk mereka hewan-hewan ternak dari ciptaan tangan Kami (sendiri), lalu mereka menjadi pemiliknya?"
Makna & Renungan Singkat
Kami telah memberi peringatan kepada orang-orang kafir itu. Dan tidakkah mereka melihat bahwa Kami telah menciptakan hewan ternak untuk mereka seperti unta, sapi, dan kambing, yaitu sebagian dari apa yang telah Kami ciptakan dengan kekuasaan Kami, lalu mereka menguasainya untuk memperoleh manfaat darinya sedemikian rupa? Seharusnya mereka mensyukuri hal tersebut, bukan mengingkarinya.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Wa żallalnāhā lahum fa minhā rakūbuhum wa minhā ya'kulūn(a).
"Kami menjadikannya (hewan-hewan itu) tunduk kepada mereka. Sebagian di antaranya menjadi tunggangan mereka dan sebagian (lagi) mereka makan."
Makna & Renungan Singkat
Dan tidak hanya menciptakan hewan-hewan itu, Kami pun menundukkannya untuk mereka, lalu sebagiannya mereka manfaatkan untuk menjadi tunggangan dan alat angkut mereka serta barang-barang mereka, dan sebagian dari hewan-hewan itu Kami ciptakan untuk mereka makan dagingnya.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Wa lahum fīhā manāfi‘u wa masyārib(u), afalā yasykurūn(a).
"Pada dirinya (hewan-hewan ternak itu) terdapat berbagai manfaat dan minuman untuk mereka. Apakah mereka tidak bersyukur?"
Makna & Renungan Singkat
Dan mereka dapat pula memperoleh berbagai manfaat berupa bahan pakaian dan minuman darinya, yakni dari hewan-hewan tersebut (Lihat pula: Surah an-Nahl/16: 80). Maka, mengapa mereka tidak bersyukur kepada Allah yang telah menyediakan itu semua untuk keperluan mereka?
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Wattakhażū min dūnillāhi ālihatal la‘allahum yunṣarūn(a).
"Mereka menjadikan sesembahan selain Allah agar mereka mendapat pertolongan."
Makna & Renungan Singkat
Dan alih-alih bersyukur atas manfaat yang orang-orang kafir itu dapatkan dari hewan-hewan tersebut, mereka justru kufur dan mengambil sesembahan selain Allah. Mereka menjadikan berhala atau benda-benda lain yang dianggap memiliki kekuatan sebagai sesembahan agar keinginan mereka terwujud dan mereka mendapat pertolongan darinya.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Lā yastaṭī‘ūna naṣrahum, wa hum lahum jundum muḥḍarūn(a).
"(Sesembahan) itu tidak mampu menolong mereka, padahal (sesembahan) itu adalah tentara yang dihadirkan untuk menjaganya."
Makna & Renungan Singkat
Sesembahan orang-orang musyrik itu tidak memiliki kekuatan apa pun untuk memberi manfaat atau menolak mudarat dari mereka. Mereka itu tidak dapat menolong mereka sedikit pun; padahal mereka itu, yaitu orang-orang musyrik, menjadi tentara yang disiapkan untuk menjaga sesembahan itu karena tidak mampu menjaga diri mereka sendiri.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Falā yaḥzunka qauluhum, innā na‘lamu mā yusirrūna wa mā yu‘linūn(a).
"Maka, jangan sampai ucapan mereka membuat engkau (Nabi Muhammad) bersedih hati. Sesungguhnya Kami mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka nyatakan."
Makna & Renungan Singkat
Maka dari itu, wahai Nabi Muhammad, jangan sampai ucapan mereka yang penuh kekafiran kepada Allah dan pendustaan kepadamu itu membuat engkau bersedih hati. Sungguh, Kami mengetahui apa yang mereka rahasiakan dalam hati mereka dan apa yang mereka nyatakan dalam bentuk perbuatan. Mereka akan diminta pertanggungjawaban atasnya pada hari Kiamat dan pasti akan menerima balasannya.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Awalam yaral-insānu annā khalaqnāhu min nuṭfatin fa'iżā huwa khaṣīmum mubīn(un).
"Tidakkah manusia mengetahui bahwa Kami menciptakannya dari setetes mani? Kemudian tiba-tiba saja dia menjadi musuh yang nyata."
Makna & Renungan Singkat
Beralih dari uraian tentang pendustaan kaum kafir kepada Nabi Muhammad, Allah melalui ayat ini menjelaskan keniscayaan hari kebangkitan. Ayat ini turun untuk menjawab kelancangan al-‘Às bin Wà’il yang menantang Rasulullah untuk membuktikan kemampuan Allah membangkitkan kembali tulang lapuk yang dibawanya. Dan tidakkah manusia memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setetes mani, kemudian setelah melalui berbagai proses ia lahir ke dunia dan tumbuh menjadi manusia sempurna, lalu ternyata dia menjadi musuh yang nyata! Mereka berubah menjadi musuh dengan mengingkari hari kebangkitan. Sungguh, sikap ini tidak sejalan dengan akal sehat.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Wa ḍaraba lanā maṡalaw wa nasiya khalqah(ū), qāla may yuḥyil-‘iẓāma wa hiya ramīm(un).
"Dia membuat perumpamaan bagi Kami dan melupakan asal penciptaannya. Dia berkata, “Siapakah yang bisa menghidupkan tulang-belulang yang telah hancur luluh?”"
Makna & Renungan Singkat
Demikianlah keingkaran manusia kepada Kami. Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami dan melupakan asal kejadiannya dari setetes air mani yang hina. Dia berkata, “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang yang telah hancur luluh?” Jika menyadari asal kejadiannya, tentu manusia akan percaya bahwa Allah Mahakuasa menghidupkannya kembali sesudah mati.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Qul yuḥyīhal-lażī ansya'ahā awwala marrah(tin), wa huwa bikulli khalqin ‘alīm(un).
"Katakanlah (Nabi Muhammad), “Yang akan menghidupkannya adalah Zat yang menciptakannya pertama kali. Dia Maha Mengetahui setiap makhluk."
Makna & Renungan Singkat
Untuk menjawab pertanyaan mereka, katakanlah wahai Nabi Muhammad bahwa yang akan menghidupkannya kembali setelah hancur luluh ialah Allah yang telah menciptakannya pertama kali. Baik menciptakan untuk pertama kali maupun menghidupkan kembali manusia yang telah telah mati adalah hal yang sangat mudah bagi Allah. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk ciptaan-Nya.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
"(Dialah) yang menjadikan api untukmu dari kayu yang hijau. Kemudian, seketika itu kamu menyalakan (api) darinya.”"
Makna & Renungan Singkat
Tuhan yang akan menghidupkan kembali tulang belulang yang telah lapuk tersebut yaitu Allah yang menjadikan api untukmu dari kayu yang semula berupa pohon yang basah dan hijau. Begitu kayu itu kering, maka seketika itu kamu nyalakan api dari kayu itu dan dapat meng-ambil manfaat dari api itu.”
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Awa laisal-lażī khalaqas-samāwāti wal-arḍa biqādirin ‘alā ay yakhluqa miṡlahum, balā wa huwal-khallāqul-‘alīm(u).
"Bukankah Zat yang menciptakan langit dan bumi mampu menciptakan manusia yang serupa mereka itu (di akhirat kelak)? Benar. Dialah yang Maha Banyak Mencipta lagi Maha Mengetahui."
Makna & Renungan Singkat
Demikianlah bukti-bukti kuasa Allah. Dan bukankah Allah yang mampu menciptakan langit dan bumi, mampu pula menciptakan kembali yang serupa itu, yaitu jasad mereka yang sudah hancur? Benar. Allah kuasa menciptakannya dan Dia Maha Pencipta segala sesuatu lagi Maha Mengetahui ciptaan-Nya.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Innamā amruhū iżā arāda syai'an ay yaqūla lahū kun fa yakūn(u).
"Sesungguhnya ketetapan-Nya, jika Dia menghendaki sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka, jadilah (sesuatu) itu."
Makna & Renungan Singkat
Sesungguhnya urusan-Nya menciptakan segala sesuatu sangatlah mudah bagi-Nya. Apabila Dia menghendaki untuk menciptakan sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka dengan serta-merta jadilah sesuatu yang dikehendaki-Nya itu.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Fa subḥānal-lażī biyadihī malakūtu kulli syai'iw wa ilaihi turja‘ūn(a).
"Maka, Maha Suci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu dan kepada-Nya kamu dikembalikan."
Makna & Renungan Singkat
Itulah Allah Yang Mahakuasa. Maka Mahasuci Allah yang di tangan-Nya kekuasaan penuh atas segala sesuatu di alam ini. Dialah yang menciptakan, mengatur, serta memeliharanya, dan kepada-Nya juga kamu dikembalikan. Keyakinan akan kekuasaan Allah akan timbul dalam hati apabila manusia mau menggunakan akal sehatnya untuk memperhatikan alam semesta ini.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI (Kemenag RI)
Surat Yaasiin terdiri atas 83 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Jin. Dinamai Yaasiin karena dimulai dengan huruf Yaasiin. Sebagaimana halnya arti huruf-huruf abjad yang terletak pada permulaan beberapa surat Al Quran, maka demikian pula arti Yaasiin yang terdapat pada ayat permulaan surat ini, yaitu Allah mengisyaratkan bahwa sesudah huruf tersebut akan dikemukakan hal-hal yang penting antara lain: Allah bersumpah dengan Al Quran bahwa Muhammad s.a.w. benar-benar seorang rasul yang diutus-Nya kepada kaum yang belum pernah diutus kepada mereka rasul-rasul.
Rujukan Mushaf & Terjemahan: Standar Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) 2019 dan Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an (LPMQ).
Rujukan Tafsir Ringkas: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI, dikumpulkan melalui proyek data terbuka gadingnst/quran-api. Sebagian kecil ayat (11 dari 6.236) belum menampilkan tafsir ringkas karena data sumber tidak lengkap.
🌱 Doa & Renungan Terkait
Perkuat pemahaman ayat dengan doa dan amalan yang sejalan: