Beradaptasi Tanpa Kehilangan Nilai
Wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad ﷺ bukan perintah shalat atau puasa, melainkan perintah membaca: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan… Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya” (QS. Al-’Alaq 96:1-5). Sejak awal, Islam menempatkan belajar sebagai fondasi, bukan sekadar keterampilan tambahan.
Alat untuk belajar dan bekerja terus berganti — dari pena ke mesin ketik, dari komputer ke ponsel, kini ke berbagai perangkat berbasis AI. Yang tidak berganti adalah tanggung jawab manusia atas apa yang dihasilkannya: kejujuran dalam mengerjakan, ketelitian dalam memeriksa, dan kesediaan bertanggung jawab atas dampaknya kepada orang lain.
Beradaptasi bukan berarti mengikuti setiap alat baru tanpa berpikir, dan menolak perubahan juga bukan tanda keteguhan prinsip. Yang dibutuhkan adalah tetap belajar — sebagaimana perintah “bacalah” itu sendiri — sambil menjaga niat dan cara kerja tetap sejalan dengan amanah.
Dari semua alat baru yang dipelajari belakangan ini, mana yang benar-benar dipahami cara kerjanya, dan mana yang hanya diikuti karena orang lain memakainya?
"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan! Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Tuhanmulah Yang Maha Mulia, yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya."
Ayat/Hadits yang Menjadi Rujukan
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan! Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Tuhanmulah Yang Maha Mulia, yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.
"Dari semua alat baru yang saya pelajari belakangan ini, mana yang benar-benar saya pahami cara kerjanya, dan mana yang hanya saya ikuti karena orang lain memakainya?"