Rezeki Bukan Hanya Saldo
Kata “rezeki” sering langsung diterjemahkan menjadi angka di rekening — gaji, bonus, keuntungan usaha. Padahal cakupannya jauh lebih luas: kesehatan untuk bisa bekerja, keluarga yang mendukung, ilmu yang bermanfaat, dan bahkan waktu yang cukup untuk menyelesaikan tanggung jawab hari ini.
Nabi Musa, setelah melarikan diri dari Mesir dan tiba di Madyan dalam keadaan lelah dan tidak punya apa-apa, berdoa, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku” (QS. Al-Qasas 28:24). Doa ini tidak menyebut jumlah atau bentuk tertentu. Kata “khair” (kebaikan) dalam ayat ini bersifat luas — mencakup segala kebaikan yang Allah tetapkan, bukan hanya materi.
Menyempitkan rezeki hanya pada saldo membuat seseorang mudah merasa kekurangan meski sebenarnya sedang dikelilingi banyak kebaikan dalam bentuk lain. Baca Doa Rezeki sambil melatih diri mengenali bentuk-bentuk rezeki yang selama ini luput dari perhatian.
Selain saldo di rekening, kebaikan apa saja yang sudah Allah turunkan hari ini yang mungkin belum disadari sebagai rezeki?
"Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku."
Ayat/Hadits yang Menjadi Rujukan
Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.
"Selain saldo di rekening, kebaikan apa saja yang sudah Allah turunkan hari ini yang mungkin belum saya sadari sebagai rezeki?"